Puluncuran Antologi Puisi Terlengkap karya WS Rendra oleh ITBM/Foto: Sulaiman
Puluncuran Antologi Puisi Terlengkap karya WS Rendra oleh ITBM/Foto: Sulaiman

NUSANTARANEWS.CO – Willibrordus Surendra Broto Rendra yang berjuluk si Burung Merak adalah sosok penyair dan dramawan terkemuka di tanah air. Pada masanya, di era Orde Baru, penyair yang dikenal dengan W.S Rendra berada di garda depan dalam mengkritik kesewenang-wenangan rezim Soeharto.

Tidak hanya itu, kepiawaian W.S Rendra ketika bersajak maupun mementaskan drama-dramanya dengan Bengkel Teater Rendra di atas panggung, membuat para penontonnya senantiasa jatuh cinta. Ialah idola dan sahabat bagi para penggemarnya, bagi orang-orang yang mencintai kebijaksanaan hidup.

W.S Rendra pun tidak hanya populer di tanah air. Nama dan karnya melanglang buana. Dari Asia, Eropa, hingga Amerika karya-karyanya dipentaskan dan sudah pasti membuat para penontonnya berdecak kagum. Bahkan, penyair Amerika Latin, sekaliber Pablo Neruda sempat memberikan apresiasi yang sangat tinggi kepada W.S Rendra usai membacakan sajaknya di forum sastra internasional di Amerika.

Samarak Peluncuran "Balada Si Burung Merak, Puisi-puisi Terlengkap WS Rendra"/Foto: Dok. ITBM
Samarak Peluncuran “Balada Si Burung Merak, Puisi-puisi Terlengkap WS Rendra”/Foto: Dok. ITBM

Karenanya, tidak heran, jika tahun ini Institut Terjemahan dan Buku Malaysia (ITBM), salah satu percetakan terbesar di Negeri Jiran terpanggil untuk menerbitkan seluruh puisi-puisi Rendra dalam satu Antologi. Buku yang diberi judul “Balada Si Burung Merak, Puisi-Puisi Terlengkap WS Rendra” diluncurkan dalam salah satu agenda Indonesia International Book Fair (IIBF) di Jakarta Convention Center, Minggu (2/10) kemarin.

Baca: Wiranto Beberkan Romantisme Persahabatannya Dengan WS Rendra, Gombal!

Pengarah Urusan/Ketua Pegawai Eksekutif ITBM Mohd Khair Ngadiron mengatakan, pendiri sekaligus pemangku Bengkel Teater Rendra itu tidak hanya semata-mata milik Indonesia. Tapi WS Rendra adalah penyair internasional. “Jika melihat WS Rendra, sebenranya bukan milik Indonesia semata-mata. Tapi Rendra adalah penyair internasional. Maka kami akan sangat besar hati apabila perbincangan kami dengan ibu Ken Zuraida (istri mendiang Rendra, red) menghasilkan apa yang ada pada hari ini,” terang Khair dalam sambutannya kemarin.

Khair mengungkapkan, terbitnya Balada si Burung Merak, Puisi-puisi Terlengkap WS Rendra sangat besar maknanya bagi ITBM. Terlebih ketika Ken Zuraida, yang didekatinya selama enam bulan memberikan izin sepenuhnya. Bahkan, pendekatannya pun sebenarnya sudah bermula sejak setahun yang lalu. Selanjutnya, ITBM mengupayakan proses produksi selesai dalam waktu sebulan supaya bisa diluncurkan dalam momentum IIBF, di mana Malaysia menjadi Guest of Honour.

“Saya ditanya oleh teman-teman di Jakarta, ‘kenapa kamu terbitkan?’. Saya katakan mudah, ‘kalau penerbit-penerbit Indonesia mau menerbitkan penulis-penulis Malaysia, kami akan cukup merasa bangga’,” ucap Khair ringan.

Lebih lanjut, Khair memaparkan bahwa penulis adalah suara zaman. Penulis adalah orang yang mengangkat perjuangan. “Kalau kita melihat Khalid Salleh membacakan sajak WS Rendra “Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta”, isinya pada awal 70an dan sekarang kita berada di tahun 2016, saya pikir, ‘sama saja bukan’. Masih ada kenanya. Kita seolah tidak merasa puisi itu ditulis 30 tahun yang lalu atau 40 tahun yang lalu, ‘tidak kan’. Sebab penulis adalah wakil zaman yang universal,” paparnya disambut tepuk tangan meriah para hadirin.

Sekali lagi, Khair menegaskan bahwa Rendra adalah penyair yang diterima di Malaysia, terlebih di Indonesia. “Dan Rendra menjadi warga dunia. Sebab itu kami menerbitkannya. Buku ini tidak akan hadir tanpa sebelumnya ada kerja sama dengan istri alm. WS Rendra, ibu Ken Zuraida,” ujar Khair.

Cetakan pertama buku penyair yang wafat tujuh tahun silam ini, yang akan diproduksi sebanyak 5.000 kopi dan akan dijual di Malaysia, dipengantari oleh Presiden Persatuan Penulis Nasional Malaysia, Mohamad Saleeh Rahamad.

“Beliau (Saleeh, red) melihat seluruh isi buku,  kemudian membaca, dan akhirnya buku ini dikeluarkan mengikut tahun urutan terbitannya. Dan kami dipahamkan, inilah buku pertama yang mengumpulkan koleksi penuh sajak-sajak WS. Rendra,” ucapnya.

Antologi Puisi terlengkap WS Rendra yang diluncurkan secara resmi oleh Menteri Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto menunjukkan bahwa mendiang Rendra abadi melalui karyanya. Persis seperti yang juga dikemukakan oleh Khair sebelumnya.

Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar sebelum membaca sajak Rendra berjudul “Datanglah Ya Allah”, justru mempertanyakan mengapa belum ada penerbit Indonesia yang menerbitkan koleksi puisi-puisi sastrawan sekaliber Rendra. Deddy pun membenarkan jika Rendra adalah penyair besar yang karyanya melintasi zaman. Untuk ia berharap kepada pemerintah untuk memberikan apresiasi lebih terhadap karya-karya seniman besar Indoensia.

“Karya-karya W.S Rendra itu, sangat menginspirasi dan menjadikan manusia menjadi yang lebih baik lagi bagi manusia lainnya,” tegas Dedy kemudian melanjutkan membacakan sajak dengan penuh penghayatan.

Acara peluncuran buku puisi yang memicu rasa bangga bangsa Indonesia juga dimeriahkan oleh para seniman besar negeri Jiran. Pertama adalah komposer ternama negeri Jiran, Saidin Omar yang berhasil melagukan dua sajak Si Burung Merak berujudul “Episode” dan “Taubat”. Kedua adalah penyair besar Malaysia, Khalid Salleh yang dengan heroik membacakan sajak “Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta” karya si Burung Merak. (Selendang Sulaiman)

Komentar