Ekonomi

Ganggu Stabilitas, Pangan Ilegal Merembes Dipasaran Capai Rp 96 M di 2016

Kepala Badan Karantina Pertanian Kementan, Banun Harpin‎i/Foto Andika /NUSANTARAnews
Kepala Badan Karantina Pertanian Kementan, Banun Harpin‎i/Foto Andika /NUSANTARAnews

NUSANTARANEWS.CO – Sejumlah produk pangan masuk secara ilegal ke Indonesia sepanjang 2016. Total nilai keekonomian dari produk-produk tersebut mencapai Rp 96 miliar. Pangan ilegal yang merembes dipasaran ini dinilai sangat menganggu stabilitas pangan negeri.

Kepala Badan Karantina Pertanian Kementarian Pertanian Banun Harpini mengaku pihaknya mendapatkan temuan impor pangan ilegal sepanjang 2016.

Rinciannya, antara lain bawang merah sebanyak 1.669.583 kilogram (kg) yang masuk sebanyak 102 kali. Kemudian beras sebanyak 723.700 kg‎ sebanyak 9 kali, daging sebanyak 160.269 kg sebanyak 14 kali, daging bebek sebanyak 3.100 kg dan produk pangan lainnya.

“Bawang merah dan cabai jadi prioritas kami dalam operasi dengan aparat penegak hukum‎,” ujar Banun di kantor pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, Jumat (16/12/2016).

‎Banun mengatakan komoditas bawang merah menjadi perhatian kementerian dan aparat penegak hukum lain lantaran dimasukkan secara ilegal melalui beberapa pintu, seperti pantai Timur Sumatera.

Pintu-pintu masuk dibagian tersebut antara lain Tanjung Balai Asahan, Belawan, Medan, Tanjung Balai Karimun dan Banda Aceh.

“Dari hasil kegiatan tersebut, ditengarai masih banyak yang merembes ke pasar Jakarta dan sekitarnya,” kata Banun.

Sedangkan secara jumlah kasus yang ditangani oleh unit pelaksana teknis (UPT) Badan Karantina Pertanian di Sumatera, Kalimantan, Jawa dan Denpasar pada tahun ini mengalami kenaikan dibandingkan ‎2015 lalu.

Pada 2016 ini, UPT-UPT tersebut menangani sebanyak 42 kasus, atau naik 46,2 persen dibandingkan tahun lalu yang sebanyak 22 kasus.

“Peningkatan jumlah kasus ini diharapkan menjadi bukti bahwa penegakan hukum di bidang karantina hewan dan tumbuhan semakin kuat dalam mengawal UU Nomor 16 Tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan,” tutur dia. (Andika)

Komentar

To Top