Siswa Sekolah Dasar. (Ilustrasi)

NUSANTARANEWS.CO, Yogyakarta – Sejumlah siswa Sekolah Dasar (SD) yang ingin melanjutkan studinya ke jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP), dinyatakan diterima di SMP Negeri. Namun sebagian lainnya dinyatakan tidak diterima atau gagal masuk SMP Negeri. Karena itu, dukungan keluarga terhadap anak-anaknya yang gagal masuk SMP Negeri sangat diperlukan.

“Saat anak gagal diterima di SMP Negeri maupun di jenjang yang lebih tinggi, mereka sangat membutuhkan dukungan keluarganya,” ujar Pemerhati Pendidikan dari Universitas Pelita Harapan (UPH), Upi Isabella Rea di Kampus Universitas Gadjah Mada (UGM), Kamis (13/7/2017).

Ia menuturkan, saat ini banyak siswa/siswi yang mengalami tekanan psikologis sebagai akibat gagal masuk ke SMP Negeri yang dituju. Implikasinya, kata dia, akan memengaruhi semangat belajar anak di masa mendatang.

“Menjadi tugas keluarga untuk tetap menjaga dan meningkatkan semangat belajar anak, khususnya yang gagal masuk SMP Negeri. Sebab di usia SMP, siswa-siswi tengah mengalami fase perubahan dari seorang anak menuju pra remaja, yang membutuhkan bimbingan dan pendampingan kuat dari keluarganya,” ungkap Upi.

Pengaruhi semangat belajar
Ia menjelaskan, paling sedikit ada tiga faktor yang menyebabkan penurunan semangat belajar anak pasca gagal masuk ke sekolah negeri. Pertama, anak gagal masuk ke sekolah negeri seringkali dianggap sebagai anak yang kurang pintar dalam pelajarannya. Sebab, kompetisi untuk masuk ke sekolah negeri dianggap sebagai prestasi siswa.

Kedua, kegagalan siswa masuk ke sekolah negeri juga disebabkan oleh ketidakpahaman orangtuanya dalam menerapkan strategi pemilihan sekolah bagi anak.

“Biasanya anak gagal masuk sekolah negeri karena orangtua memaksakan kehendak agar anaknya masuk sekolah negeri favorit, meski nilai ujian nasional (NUN) anaknya di bawah standar yang ditetapkan sekolah tersebut. Jadi orangtua disini mencoba gambling, dan akhirnya anak yang dikecewakan serta semangat belajar pun dipertaruhkan,” terang Upi.

Ketiga, beberapa siswa yang mendaftarkan diri melalui jalur Keluarga Menuju Sejahtera (KMS), juga sering diperhadapkan dengan kondisi sulit. Selain karena NUN anak rendah, juga karena orangtuanya tidak berani gambling untuk mencoba “peruntungan” mendaftar ke sekolah negeri. Apalagi, lanjut dia, saat pendaftaran melalui program KMS anaknya dinyatakan gagal masuk, maka semakin menambah beban psikologis anak dalam meningkatkan semangat belajarnya.

“Jadi sekali lagi, dukungan orangtua dan seluruh keluarganya sangat dibutuhkan untuk menjaga serta meningkatkan semangat belajar anak, baik yang diterima di sekolah favorit, apalagi yang gagal masuk sekolah negeri,” jelas Upi lagi.

Dukungan keluarga
Lebih jauh, Upi mengungkapkan beberapa hal yang harus dilakukan keluarga dalam memberikan dukungan bagi pengembangan serta peningkatan semangat belajar anak. Pertama, dukungan keluarga dapat diwujudkan dengan tetap memberikan kepercayaan dan kesempatan pada anak untuk belajar di sekolah lain. Khususnya, sekolah yang diminati oleh anak sehingga menumbuhkan rasa konfidensi anak untuk belajar lebih giat.

Kedua, memfasilitasi dan melatih anak belajar dalam mengembangkan tanggungjawab pribadinya, terutama untuk menghadapi berbagai tantangan di masa depan yang akan dihadapi.

“Berbagai konsep kurikulum yang diterbitkan pemerintah, selalu bermuara pada pengembangan tanggungjawab anak. Utamanya dalam mempersiapkan anak mampu menghadapi berbagai kendala dan tantangan di depannya,” papar Upi.

Ketiga, memberikan kesempatan bagi anak untuk berani menghadapi masalah dan mencoba mengambil keputusan terhadap permasalahan yang dihadapinya. Dalam hal ini, peran keluarga sangat penting untuk mendukung pengembangan semangat belajar anak.

Ia menambahkan, bahwa diskusi tersebut mencoba fokus pada peran keluarga dalam meningkatkan semangat belajar anak pasca gagal diterima di jenjang sekolah negeri.

“Biarlah anak tetap nyaman untuk bertumbuhkembang di dalam keluarganya, terutama dalam peningkatan kualitas pendidikan anak. Sebab kegagalan anak tidak berarti ketiadaan masa depannya. Contohnya bisa kita lihat pada diri Thomas Alfa Edison, yang oleh gurunya dianggap terlalu bodoh untuk diajar di sekolah. Namun oleh didikan ibunya sendiri, Thomas berkontribusi besar bagi kehidupan manusia saat ini. Jadi sekali lagi, peran keluarga sangat penting untuk meningkatkan semangat belajar anak,” tandasnya.

Ia menambahkan, kegagalan seorang anak masuk ke jenjang lebih tinggi di sekolah negeri, bukanlah segala-galanya. Namun upaya dukungan dan perhatian keluarga justru sangat berperan penting dalam membangun generasi penerus bangsa.

Pewarta: Eriec Dieda

Komentar

SHARE