Connect
To Top

Gadis Cantik di Balik Lagu “Melati di Tapal Batas” Karya Penyair Ismail Marzuki

Marie Zumariah/Foto: Dok. Bapak Hendijo via arsif-nkri.blogspot.co.id

Marie Zumariah/Foto: Dok. Bapak Hendijo via arsif-nkri.blogspot.co.id

NUSANTARANEWS.CO – Gadis cantik ini bernama Marie Zumariah. Dia lahir di Garut dan di sejak awal revolusi (1946) terlibat aktif sebagai anggota Tentara Pelajar.

Di dalam kesatuannya, Marie tidak dilibatkan dalam pertempuran. Ia justru kerap dilibatkan dalam operasi-operasi telik sandi riskan dan berbahaya: menyelundupkan senjata, granat, peluru melewati pos-pos penjagaan militer Belanda di Front Bandung Timur.

Di tengah gemuruh revolusi itu, Marie jatuh cinta kepada seorang komandan kompi dari Bataliyon Pelopor 33 bernama Kapten Rusady. Mereka lantas menjalin kasih dan berjanji sehidup semati.

Suatu waktu di bulan Agustus 1947 dalam suatu pertempuran melawan pasukan-pasukan Belanda dari Yon 5 Andjing NICA di Desa Padayungan, Tasikmalaya, Kapten Rusady tertembak dan terluka parah lalu ditawan dan dipenjarakan oleh Belanda ke Pulau Nusakambangan.

Insiden itu memang sempat sampai ke telinga Marie. Namun karena tak menentunya situasi saat tersebut, soal nasib sang kekasih tak pernah diketahuinya secara jelas.

Akan tetapi, tanpa mengenal putus asa, Marie terus memburu keberadaan Kapten Rusady. Kendati banyak perwira lain yang menaruh harapan dapat mengganti “posisi Kapten Rusady” di sisi Marie, namun gadis muda itu tak menghiraukan mereka.

Setiap waktu, ia terus mencari keberadaan sang pujaan, dari front ke front, dari kantong pertahanan satu ke kantong pertahanan lain. Hingga suatu waktu, Marie berhasil bertemu kembali dengan Kapten Rusady di Front Leles, Garut. Mereka kemudian menikah sampai beranak cicit.

Gadis-gadis perang seperti Marie sejatinya sangat umum kehadirannya di front-front pertempuran zaman itu. Bahkan di Front Bekasi ada sekelompok perempuan, anak-anak petani, yang membentuk kesatuan perlawanan khusus bernama Barisan Srikandi. Mereka terbilang aktif menghadapi tentara-tentara Inggris dan Belanda dalam era revolusi kemerdekaan.

Untuk mengenang keberanian para srikandi ini, pada 1946, penyair Ismail Marzuki mempersembahkan sebuah lagu yang ia beri judul “Melati di Tapal Batas”. Berikut syairnya:

Melati di Tapal Batas

Engkau gadis muda jelita
Bagai sekuntum melati
Engkau sumbangkan jiwa raga
Di tapal batas Bekasi

Engkau dinamakan Srikandi
Pendekar putri sejati
Engkau turut jejak pemuda
Turut mengawal negara

Oh pendekar putri yang cantik
Dengarlah panggilan ibu   
Sawah ladang rindu menanti
Akan sumbangan baktimu   

Duhai putri muda remaja
Suntinganmu kampung halaman
Kembali ke pangkuan bunda
Berbakti kita di ladang

Pada bait pertama dan kedua dikisahkan tentang riwayat gadis-gadis jelita gagah berani. Mereka turut menyambung nyawa dalam membela dan mempertahankan kemerdekaan Tanah Air. Kata srikandi yang dipilih mengacu kepada tokoh wayang perempuan yang menjadi salah satu pahlawan dalam perang Bharatayuda, mencerminkan pentingnya jasa dan peran kaum perempun dalam perang di tapal batas Bekai. Pada bait ketiga dan keempat (terakhir) terjadi mloncatan kisahan. Gadis-gadis jelita gagah berani itu dihimbau pulang kembali ke kampung halaman. Mereka dimohon bekerja di sawah ladang untuk membangun perekonomian bangsa. “Sawah ladang” jelas menandakan perekonomian agraris masyarakat Indonesia.

Judul lagu yang dibuat oleh Ismail Marzuki dan Suto Iskandar ini dibuat atas permintaan Moeffreni Moekmin (Komandan Resimen V). Syairnya dinilai menyadarkan para pemudi agar jangan semua terjun di daerah pertempuran karena garis belakang masih banyak yang bisa dikerjakan. Hal ini dilakukan karena pada saat Itu para pemudi yang masih sangat muda-muda turut mengangkat senjata berjuang di garis depan berdampingan dengan kaum laki-Iaki. Lagu ini sangat cepat populer di kalangan pejuang di Front Timur Jakarta. Para pemudi pun sadar bahwa berjuang tidak selalu harus di garis depan memanggul senjata.

Syair lagu ini merupakan acuan sejarah tentang bakti dan andil kaum perempuan Indonesia di dalam kancah peperangan membela Tanah Air. Karya ini merupakan sebuah reportase tentang kehadiran serta peran gadi-gadis muda yang tampil heroik di tapal batas kota Bekasi, khususnya Marie Zumariah. (kiana/sel)

Komentar