Connect
To Top

Freewheel Burning, Orkestra Pelaminan – Puisi Achmad Hidayat Alsair

Freewheel Burning

Roda menggilas jalanan malam, kendaraan kecepatan penuh
kemarahan yang lupa dikubur di pekarangan rumah
Balapan adalah ibadah paling suci dalam dupa bahan bakar
tak terkendali, tak pernah berhenti hingga mencapai garis akhir
Elegi kekalahan pada malam-malam sebelumnya
bertaruh sisa-sisa nyawa di atas sadel tanpa wasiat memadai

Cepat dan kelebatan penuh gairah tanpa tahu hari esok
akan seperti apa dan dalam keadaan bagaimana, tetap tebakan
Berteriak menuju pembalasan adalah sia-sia, semua akan seperti sedia kala
liar dan penuh kepalan yang terancung menantang udara
Bersedialah, perjalanan pendek ini akan terasa panjang
maka buanglah segala muatanmu sebelum kita memacu dalam senyap

Biarkan lampu-lampu itu tetap menyala agar mataku awas
pada mesin-mesin penggilas dan lintasan penuh hambatan bikinanku sendiri
Tunjukkan padaku arah jika kita tersesat sesekali, aku bukan peta
dan penunjuk jalan yang hapal setiap lekuk tubuh trotoar pinggiran

Makassar, Juni 2016

Baca: Catatan Dari Tembok Auschwitz dan Tembok Gulag – Puisi Achmad Hidayat Alsair

Orkestra Pelaminan

Dari melodi itu mengalun pahit asmara
tak sanggup mengenang kepergian cinta
bergantian luruhkan segenap air mata
irama kehilangan begitu kuat, begitu nyata
lalu kemudian timbul pertanyaan : mengapa?
Menggebu dalam kehinaan, bukan halangan
debu-debu melayang halangi pandangan
tetap saja kita langkah menuju peraduan
seiring musim kita akan memperoleh pengertian
lalu engkau bertanya padaku : kapan?
Perpisahan, hanya sebuah episode lain
mengalirkan surat-surat yang tak dibalas
hamparan laut hanya memejamkan batin
pisahkan dua insan, berjauhan dalam kekalnya batas
lalu sang kekasih bertanya : bagaimana kita?
Menuju mahligai, sebuah kewajiban tanpa kata
dimulailah hari yang begitu asing di mata
pelaminan sunyi, disampingku bukan tercinta
lalu aku bertanya : bagaimana bisa?
Cinta telanjur kutenggelamkan dalam api
tikam aku, ada tragedi dalam musik ini

Makassar, Juni 2016

Baca juga : Capolavoro dan Mistikus Malam Hari – Puisi Achmad Hidayat Alsair

Achmad Hidayat Alsair

Achmad Hidayat Alsair

*Achmad Hidayat Alsair Lahir di Pomalaa, Sulawesi Tenggara, 15 Mei 1995. Tengah berkuliah di Universitas Hasanuddin Makassar, FISIP, jurusan Ilmu Hubungan Internasional, semester 7. Hobi menuangkan hal-hal yang melintas di pikirannya ke atas kertas. Puisi-puisinya pernah dimuat di sejumlah surat kabar dan portal berita daring seperti Fajar Makassar, Tanjungpinang Pos, Lombok Post, Analisa Medan, ReadZone, Litera, FloresSastra, Warta Lambar, Saibumi, serta beberapa buku antologi puisi bersama. Yang terbaru, salah satu puisinya tergabung dalam buku antologi bersama Pesta Puisi Kopi Dunia 2016 “1550 MDPL”. Bisa dihubungi melalui sur-el a[email protected]

Komentar