Berita Utama

Forum One Belt One Road, 28 Pimpinan Negara Konfirmasi Hadir

Xi Jinping dan Donald Trump bersaing pada KTT Davos. Foto via rappler
Rivalitas Xi Jinping dan Donald Trump/Ilustrasi Foto via rappler/Nusantaranews

NUSANTARANEWS.CO – Sejak diumumkan di Gedung DPR RI pada 2013 lalu, Mei 2017 Cina mulai mengimplementasikan program The Silk Road Economic Belt and the 21st-century Maritime Silk Road. Sebuah program paling ambisius Cina pada abad 21 yang ingin menciptakan koridor ekonomi skala global yang membentang lebih dari 60 negara. Tujuannya ingin membantu negara lain dengan membangun basis industri.

Inisiatif One Belt One Road yang digagas Cina boleh disebut sebagai inisiatif pembangunan ekonomi paling ambisius dalam sejarah umat manusia. Bermaksud mengeluarkan dunia dari krisis ekonomi yang berkepanjangan, Cina ingin menghubungkan daratan dan perairan yang membentang dari Cina sampai ke jantung Eropa, dalam koridor jaringan perdagangan dan transportasi sebagai upaya merangsang pertumbuhan ekonomi Asia guna menciptakan pasar baru bagi barang dan jasa yang mulai stagnan pertumbuhannya dalam millennium ketiga ini.

Sebagai pendukung utama, Cina juga mengambil inisiatif mendirikan lembaga keuangan dunia Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) yang boleh dikatakan sebagai World Bank made in Cina.  Sejauh ini sudah 57 negara yang bergabung sebagai anggota dan penyumbang AIIB. India, Jepang, Korea Selatan bahkan negara Eropa Barat seperti Jerman, Perancis, Inggris turut terlibat dalam pendirian World Bank versi Cina ini.

Pemerintahan Cina mengkonfirmasi KTT Belt and Road di Beijing Mei mendatang akan dihadiri 28 kepala pimpinan negara dan pemerintahan. Delegasi lain termasuk pejabat, pengusaha, pemodal dan wartawan dari 110 negara, serta perwakilan dari 61 organisasi internasional. Mereka akan duduk bersama di Beijing untuk memulai langkah globalisasi gelombang ketiga. Dalam forum ini, Cina berharap sedikitnya 20 negara dan 20 organisasi dapat menandatangani perjanjian. Dimana perjanjian tersebut erat kaitannya dengan pembangunan konsesus bersama untuk tindaka tertentu dan implementasinya.

Globalisasi gelombang ketiga ini menjadi wacana yang menarik dan serius. Pasalnya, apabila sebuah negara tidak mampu memanfaatkan dengan baik dan benar niscaya globalisasi akan menggilasnya. Indonesia termasuk kategori bangsa dan negara yang gagal memanfaatkan globalisasi, dibandingkan negara tetangga seperti Cina, Rusia, Malaysia dan Singapura yang mampu memanfaatkan globalisasi untuk meningkatkan kesejahteraan rakyatnya.

Sejak 2013, Cina telah menginvestasikan lebih dari 50 miliar dolar AS di program One Belt One Road. Sebanyak 56 zona kerjasama ekonomi dan perdagangan telah dibangun sejumlah bisnis Cina, termasuk di Indonesia. Kerjasama ekonomi dan perdagangan tersebut dilaporkan Xinhua telah menghasilkan hampir 1,1 miliar dolar AS dalam bentuk pendapatan pajak dan menciptakan 180.000 lapangan kerja. Sehingga tak heran kalau sedari awal Cina mentargetkan investasi Cina ke luar negeri akan mencapai US$1,25 triliun. Kerjasama ekonomi dan perdagangan tersebut berdiri di atas prinsip bahwa di abad 21 tidak ada negara yang bisa tumbuh sendirian.

“Cina sangat optimis tentang inisiatif ini guna meningkatkan pembangunan bersama dan bersedia menyalurkan lebih banyak energi ke dalamnya. Kita tidak mampu menjadi pahlawan secara tunggal, melainkan kita membutuhkan mitra yang bekerjasama untuk keluar dari masa-masa sulit,” papar Menteri Luar Negeri Cina, Wang Yi.

Adapun 28 negara yang telah mengkonfirmasi hadir di antaranya Argentina, Chile, Ceko, Indonesia, Kazakhstan, Kenya, Laos, Filipina, Rusia, Swiss, Turki, Uzbekhistan, dan Vietnam. Sedangkan kepala pemerintahan adalah Kamboja, Ethiopia, Fiji, Yunani, Hungaria, Malaysia, Mongolia, Myanmar, Pakistan, Polandia, Serbia, Spanyol, Singapura, dan Srilanka serta Cina selaku tuan rumah.

Penulis: Eriec Dieda

Komentar

To Top