Pengamat ekonomi asal Universitas Indonesia Faisal Basri/Foto Andika/ Nusantaranews
Pengamat ekonomi asal Universitas Indonesia Faisal Basri/Foto Andika/ Nusantaranews

NUSANTARANEWS.CO – Pertumbuhan ekonomi tahun ini diproyeksi mencapai 4,9 persen. Hal ini sejalan dengan masih belum pulihnya ekonomi dunia dan beberapa negara maju.

Pengamat ekonomi asal Universitas Indonesia Faisal Basri memperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun ini hanya 4,9 persen, sedangkan tahun depan kemungkinan mencapai 5%.

“Tahun ini sekitar 4,9 persen dan tahun depan pertumbuhan ekonomi diperkirakan 5 persen,”‎ kata Faisal di Balai Sudirman, Jakarta Selatan, Senin (5/12/2016).

Menurutnya, lesunya laju ekonomi Indonesia disebabkan karena masih rendahnya konsumsi. Padahal, sektor konsumsi merupakan pendorong paling besar dalam pertumbuhan ekonomi.

“Komponen konsumsi itu ranahnya 56 persen terhadap pertumbuhan ekonomi, kemudian investasi 34 persen, belanja pemerintah 10 persen. Tapi‎ konsumsi tahun depan kecenderungan melambat ke level bawah,” ucap Faisal.

Dia mengatakan, pemerintah secara tidak sadar menekan sektor perbankan karena terlalu menggenjot pertumbuhan infrastruktur.

“Padahal belanja pemerintah itu hanya 10% (kontribusi ke pertumbuhan ekonomi), masyarakat banyak pindah dari deposito ke SUN (Surat Utang Negara), dari tabungan ke ORI (Obligasi Ritel)‎, jadi pemerintah mau lari kencang tapi ngebunuh saudaranya sendiri (bank),” tutur Faisal. (Andika)

Komentar