Berita Utama

F 35 Pesawat Tempur Multirole Masa Depan

F35

NUSANTARANEWS.CO – Angkatan Udara Amerika Serikat mengumumkan secara resmi bahwa pesawat tempur F-35 telah siap beroperasi. F-35 telah mendapat status IOC atau Kemampuan Operasi Awal. Yang artinya, pesawat tempur ini telah lolos uji kelayakan dan siap untuk menjalankan misi. Angkatan Udara AS berencana membeli total 1.763 jet F-35A dalam beberapa tahun ke depan.

Seperti diketahui bahwa F35 sudah dikembangkan selama 15 tahun dan dianggap memiliki sistem senjata yang paling muktahir di era modern ini. F-35 memiliki kemampuan siluman, kecepatan supersonik, kelincahan ekstrem dan teknologi sensor fusi.

AS membutuhkan dana sebesar US$ 400 miliar untuk membuat pesawat tempur tersebut. Sehingga menjadikan F 35 sebagai pesawat dengan sistem senjata termahal di dunia. Fitur stealth pada F-35 membuat pesawat ini nyaris tak terdeksi oleh radar. Avionik canggih memberikan pilot akses seketika, real-time ke informasi ruang pertempuran dengan cakupan 360 derajat. Data dikumpulkan oleh sensor pada F-35 untuk kemudian segera dibagikan kepada komandan di laut, di udara, dan di darat.

Tiga varian F-35 akan menggantikan A-10 dan F-16 milik Angkatan Udara (AU) AS, F/A-18 milik Angkatan Laut (AL) Amerika Serikat, F/A-18 dan AV-8B Harrier milik Korps Marinir AS. Masing-masing varian memiliki kesamaan karakteristik kinerja, hanya dibedakan oleh kebutuhan mendasar. F-35A lepas landas dan mendarat secara konvensional. Varian ini dirancang untuk beroperasi dari landasan pacu konvensional, dan merupakan satu-satunya versi untuk membawa meriam internal. Model F-35B memiliki kemampuan lepas landas jarak pendek dan mendarat vertikal (short takeoff vertical landing/ STOVL), memungkinkan untuk beroperasi dari kapal-kapal kecil atau pangkalan di dekat zona tempur garis depan. F-35C carrier variant memiliki struktur dan roda pendaratan lebih kuat dan sayap lebih besar, dirancang untuk catapult launches.

Helmet Mounted Display System F-35 memberikan informasi penting kepada pilot dalam peperangan, termasuk posisi, arah, kecepatan angin, ketinggian, serta informasi dan peringatan penargetan. Informasi disajikan lebih baik dibanding helm tradisional sehingga mengurangi beban kerja dan meningkatkan respon pilot.

Selain itu, fitur Distributed Aperture System (DAS) menampilkan tangkapan enam kamera inframerah. Kamera-kamera tersebut dipasang di sekitar pesawat dan terhubung dengan helm. Hal ini memungkinkan pilot untuk “melihat” melalui badan pesawat. Helm juga menyediakan fitur night vision sehingga memudahkan pilot melihat di malam hari atau dalam kondisi gelap.

Persenjataan yang diusung:

Guns: 1 × General Dynamics GAU-22/A Equalizer 25 mm (0,984 in) 4 barreled gatling cannon, internally mounted with 180 rounds.

Hardpoints: 6 × external pylons on wings with a capacity of 15,000 lb (6,800 kg) and 2 × internal bays with 2 pylons each for a total weapons payload of 18,000 lb (8,100 kg) and provisions to carry combinations of.

Missiles:

  • Air-to-air: AIM-120 AMRAAM, AIM-132 ASRAAM, AIM-9X Sidewinder, IRIS-T, Joint Dual Role Air Dominance Missile (JDRADM) (after 2020).
  • Air-to-ground: AGM-154 JSOW, AGM-158 JASSM.

Bombs:

  • Mark 84, Mark 83 and Mark 82 GP bombs.
  • MK-20 Rockeye II cluster bomb.
  • Wind Corrected Munitions Dispenser capable.
  • Paveway series laser-guided bombs.
  • Small Diameter Bomb (SDB).
  • JDAM series.
  • B61 Nuclear Bomb.

(Banyu/diolah dari berbagai sumber)

Komentar

To Top