Berita Utama

Energi Fosil Dunia Ambruk, Saatnya Anak Bangsa Berkarya

Dunia Akhiri Bahan Bakar Fosil dalam 10 Tahun/Foto AP
Dunia Akhiri Bahan Bakar Fosil dalam 10 Tahun/Foto AP

NUSANTARANEWS.CO – Energi fosil nampaknya sudah tak menarik lagi bagi para investor, dengan demikian bukan tidak mungkin energi fosil akan ambruk dengan sendirinya. Tak menariknya energi fosil karena sudah tak menguntungkan di masa depan ditambah lagi dengan harganya yang terus merosot selama dua tahun terkahir ini, sedangkan biaya investasinya cukup mahal. Selain itu, energi fosil juga memberikan kontribusi terbesar untuk peningkatan CO2 di atmosfir bumi, tumpah-tumpahan minyak dari kapal-kapal tanker juga telah menyebabkan kerusakan berat pada lingkungan hidup.

Jika investor sudah tak tertarik untuk berbisnis di sektor energi fosil, apakah ini adalah suatu hal yang merisaukan bagi negeri kita atau justru ini merupakan peluang bagi anak bangsa?

Perlu diakui Indonesia memang masih ketergantungan terhadap energi fosil sebagai bahan baku utama. Tahun ini saja kebutuhan energi fosil kita mencapai 1,6 juta barel per hari (bph) atau meningkat 10 persen dari tahun sebelumnya, sedangkan di satu sisi cadangan energi fosil kita semakin menurun setiap tahunnya.

Akibatnya 50 persen kebutuhan itu harus diimpor. Meski kebutuhan energi fosil dan impor akan energi fosil terus meningkat setiap tahunnya, ironisnya energi listrik yang saat ini 90 persen bahan bakunya masih menggunakan energi fosil belum dapat dirasakan oleh sebagian wilayah di Indonesia.

Untuk itu ketergantungan kita akan energi fosil haruslah dikurangi bahkan mulai saat ini kita harus bertekad bahwa harga mati energi masa depan Indonesia adalah energi baru terbarukan khususnya untuk memenuhi energi listrik bagi masyarakatnya.

Energi baru dan terbarukan dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 79 tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional disebutkan bahwa Energi Terbarukan adalah Sumber energi yang dihasilkan dari Sumber Daya Energi yang dikelola dengan baik, antara lain panas bumi, angin, bioenergi, sinar matahari, aliran dan terjunan air, serta gerakan dan perbedaan suhu lapisan laut.

Indonesia sendiri sebenarnya memiliki potensi besar dalam mengembangkan Energi Baru Terbarukan diantaranya energi bayu sebesar 950 Megawatt, tenaga surya 11 Gigawatt, tenaga air 75 Gigawatt, energi biomasa 32 Megawatt, energi laut 60 Gigawatt, dan panas bumi 29 Gigawatt.

Bisa kita bayangkan betapa besarnya potensi itu, mulai dari panas bumi, angin, air, biomasa, dan bioenergi, yang mana semua potensi itu belum tergarap dengan maksimal selama ini. Bahkan dari beberapa pengamatan dan konsultan independen yang sudah memberikan hasil studi dan analisis mengatakan jika saja Indonesia dapat memanfaatkan potensi tersebut, di tahun 2045 ekonomi Indonesia diproyeksikan akan mencapai peringkat ke empat sedunia, dengan nilai Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar US$ 12,210 miliar. Saat ini Indonesia masih menempati peringkat ke-9.

Pemerintah mengaku serius mengembangkan sumber energi baru terbarukan. Demi membuktikan keseriusannya itu, pemerintah saat ini gencar melakukan penataan aspek fundamental  dan inovasi di sektor energi dan sumber daya mineral (ESDM) guna membangun ketahanan energi sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi nasional. Keputusan-keputusan yang penting telah ditetapkan antara lain pembenahan tata kelola, penguatan sumber daya manusia dan organisasi, sinergi dan transformasi BUMN sektor energi, intensifikasi kerjasama luar negeri, perbaikan regulasi serta peningkatan pemerintah dengan pemerintah swasta.

Memang sungguh terbukti keseriusan pemerintah itu, namun sayangnya keseriusan tersebut tidak dibarengi dengan keseriusan pemerintah dalam memajukan karya anak bangsa. Hal tersebut terbukti saat Presiden Joko Widodo pada 2015 silam meresmikan proyek KESDM yaitu Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) 50 MW Samas Yogyakarta. Dimana akan ada 30 turbin angin di pembangkit listrik ini, setiap turbin menghasilkan listrik hingga 2 MW. Proyek yang ditargetkan selesai pada 2018 dan menelan biaya sekitar Rp 2 triliun itu dikerjakan melalui joint venture UPC Renewables, perusahaan asal Amerika Serikat dan konsorsium PT Binatek Energi Terbarukan. Selain itu bakal ada pembangkit sejenis yang dibangun di beberapa daerah lainnya oleh perusahaan Amerika Serikat tersebut.

Padahal disisi lain, sebenarnya banyak penemu-penemu hebat yang dimiliki oleh bangsa Indonesia, yang hasil karyanya tidak kalah Bagus dari karya produk asing. Bahkan bukan tidak mungkin hasil-hasil tersebut dapat dijadikan sebagai aset yang sangat berharga bagi bangsa, selain itu hasil karya tersebut juga bisa dimanfaatkan dan mendatangkan keuntungan bagi negara, dan juga akan secara otomatis menciptakan lapangan pekerjaan luas sehingga dapat mensejahterakan masyarakat.

Namun sampai saat ini belum ada perhatian yang besar dari pemerintah untuk mengembangkan dan memproduksi temuan-temuan tersebut, bahkan pemerintah masih cenderung pada produk asing. Namun apabila sekali diperhatikan maka resiko yang sangat tinggi akan menghampiri sang penemu tersebut. Resiko tersebut bisa berupa berurusan dengan pihak yang berwajib dan di bui atau hanya mendapatkan harapan palsu dari pemerintah.

Contohnya seperti Ricky Elson yang hanya mendapatkan harapan palsu dari pemerintah dalam mengembangkan Energi Baru Terbarukan di Indonesia.

Berikut tulisan Ricky Elson distatusnya pada tanggal 11 April 2015 yang dikutip sebagai berikut :

Seminggu belakangan
saya diberi kesempatan untuk
mengunjungi berbagai tempat
bertemu banyak orang
bercerita, berbagi mimpi
bertukar pendapat

saya yakin,
ditengah arus ketidak percayaan
terhadap pemerintah dikarenakan berbagai situasi saat ini,
ada suatu keniscayaan,
bahwa kita sama sama mengharapkan esok yg lebih baik.
Namun hanya berbeda landasan Nurani dan Cara mengungkapkan
keinginan untuk lebih baik ini,
menyebabkan kita terjatuh pada kondisi ini.

Khususnya, utk bidang yg sedang kami geluti.
belajar menguasai Teknologi,
mengimplementasikan, mengembangkan inovasi baru,
pemanfaatan energi alternatif,
sebagai satu solusi permasalahan elektrifikasi di daerah terpencil dan pulau terluar negri menunjukkan titik terang.

Satu titik perubahan yg paling signifikan adalah, sesuatu yg saya anggap merupakan Paradigm Shift.
Kemaren, saya diberi kesempatan untuk duduk bersama Team EBTKE kementrian ESDM dan para pakar/praktisi teknologi EBTKE negri ini, dalam sebuah diskusi

dengan Bapak Sudirman Said.
Memang selama ini, saya menahan diri untuk menilai beliau terlalu dini terhadap kebijakan di bidang Energi negri ini.

Saya tak membahas itu.
Saya hanya sangat kagum pada Niat baik beliau membangun negri ini, salah satunya dengan menabuh genderang Perang untuk memperjuangkan Riset dan Pengembangan

Pemanfaatan Energi Baru dan Terbarukan di Negri ini.

Latar belakangnya,
dari Cerita beliau tertegun menyaksikan 20 kincir Angin kecil, dengan ketinggian tiang hanya 4 meter, diameter bilah 1.6meter, berputar menari bersama Angin

tanah Marapu Sumba.
Saat kunjungan ke dusun Kalihi,
desa Kamanggi Sumba Timur, tgl 7 April kemarin.
2 Jam beliau memandangi kincir tsb, dan bercengkrama bersama masyarakat. Sama seperti Bapak Dahlan Iskan yg juga tertegun berjam jam dibawah tarian indah

kincir kincir kecil tsb 5 Oktober tahun lalu.

Kemaren saya dipanggil beliau,
setelah Ibu Tri Mumpuni menceritakan pada beliau, bahwa team saya adalah orang2 yg berada dibalik cerita ini. Ibu Puni adalah orang yg diminta oleh Bapak

Dahlan Iskan, mentri BUMN saat itu, untuk membimbing saya dan Team Lentera Angin Nusantara membangun hampir 100 Kincir Angin, Para Penari Langit kecil itu,

di 4 dusun, Sumba timur sejak Juni tahun 2013 silam.

Tak lama, hanya 10 menit waktu utk saya dan beliau berdiskusi.

Beliau meminta saya untuk mewujudkan RnD dan Produksi Kincir2 Angin ini dan Pengembangan yg lebih baik di Indonesia. Tentu saja saya iyakan. Beliau memaparkan kesulitan, untuk mengisi Blank Point alias daerah tak berlistrik yg sulit dijangkau oleh PLN dengan “berbagai pertimbangan”. Ada 1700 titik, yg jika menggandeng Swasta yg tak mau merug, sangat sulit sekali. seandainya setahun 170titikberes, perlu 10 tahun, ungkap beliau.

Tentu saya sebagai satu dari Ratusan Juta anak negri ini, tak akan menyia nyiakan kesempatan membangun negri dan mecarikan solusi ini.

Lalu saya bercerita, Bapak Mentri yg Terhormat. Jika Team kami, 5 orang Anak muda yg dibimbing Bu Tri Mumpuni, dan bersama rakyat mampu membangun 4 desa dalam 1 tahun. Maka saya Yakin, seyakin yakinnya, InsyaaAllaah, Dengan Gerakan Pemuda Indonesia Menerangi Negri dibawah asuhan ESDM, dengan 5000 orang anak muda, 1000 titik pertahun dan 1700 titik insyaaAllaah 2 tahun beres.

Dan beliau mau mengerti, segera dengan Dirut PT Pindad, disampaikan niat tsb, dan Keputusan diambil, Pindad akan memproduksi 1000 unit Permanent Magnet Motor/Generator berkapasitas 2kW to 50kW. Semangat membangun negri itu bangkit lagi.

Ya, semoga Gerakan Pemuda Menerangi Negri Bergulir, bersama kami di Lentera Angin Nusantara, tak sedih lagi jika mereka mengatakan Bahwa yg membangun Sumba, adalah Mereka dari Luar Negri, spt artikel berikut. http://thejakartaglobe.beritasatu.com/…/editorial-big-idea…/

Pemuda Negri,
Jangan biarkan mereka mengakui
mereka yg membangun negri ini
untuk Negri mu, Negri ku, Negri Kita.

Catatan Diri
20150411

Adapun saat ini, Ricky yang seringkali dibujuk oleh Jepang untuk kembali namun enggan untuk kembali. Karena lebih memilih membuka pelatihan untuk anak-anak negeri yang tertarik mengembangkan pembangkit listrik tenaga angin di desa terpencil Ciheras, Tasikmalaya.

Berbeda dengan Ricky yang diberikan harapan palsu oleh pemerintah, Perancang Mobil Listrik Dasep Ahmadi justru harus mendekap di belakang jeruji besi.

Mobil listrik adalah suatu terobosan bagi anak bangsa Indonesia karena bisa mengurangi ketergantungan energi fosil. Dasep saat itu tetap melanjutkan dan merampungkan hasil karyanya itu meskipun tak mendapatkan perhatian dan dukungan dari pemerintah. Akhirnya setelah berhasil merampungkannya, Menteri BUMN saat itu pun Dahlan Iskan tertarik dan melakukan uji coba. Namun sayangnya saat Uji Coba, mobil listriknya tidak kuat menanjak dan cepat panas.

Bermula dari situlah, dugaan korupsi kepadanya dilayangkan. Sampai pada akhirnya Dasep Ahmadi mendapatkan vonis 7 tahun penjara dan denda Rp 200 juta subsidair oleh Majelis Tipikor, dimana Dasep dinilai terbukti bersalah atas kasus korupsi pengadaan proyek mobil listrik.

Dalam tulisan ini, sebenarnya penulis bermaksud untuk menyampaikan beberapa saran terkait permasalahan tersebut. Berikut saran yang penulis ingin sampaikan:

Pertama jika melihat dua kasus tersebut pemerintah seharusnya mendukung semua hasil karya anak bangsa bukannya malah menyakiti hati dan karya mereka. Caranya yakni dengan memberikan kesempatan, kepercayaan dan peluang kepada mereka. Kemudian yang kedua, jika memang salah satu dari mereka ada yang gagal, bukan berarti mereka layak untuk dijebloskan ke jeruji besi. Justru disini pemerintah seharusnya intropeksi diri, mungkin saja ada beberapa kebijakan yang membuat mereka jadi terperosok ke jalur hukum. Yang ketiga, perbaikilah tatanan sarana prasarana, dan kualitas pendidikan kita, guna mempersiapkan generasi yang baik di masa mendatang. (Restu)

Komentar

To Top