Kepemimpinan perempuan dalam perusahaan | Polsat FILM
Kepemimpinan perempuan dalam perusahaan | Polsat FILM

NUSANTARANEWS.CO – Keterlibatan perempuan dalam tampuk kepemimpinan sebuah organisasi bisnis sejauh ini disebut masih minim. Justru laki-laki yang lebih dominan pada urusan kepemimpinan dibandingkan pria meski gerakan pengarusutamaan gender terus berlangsung di berbagai negara, terutama di negara-negara berkembang.

Tapi, sebuah studi baru menyimpulkan bahwa perempuan lebih cocok untuk kepemimpinan dibandingkan laki-laki.

Penelitian yang dipimpin oleh Profesor Øyvind L. Martinsen, kepala Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi di BI Norwegian Business School, menilai kepribadian dan karakteristik hampir 3.000 manajer.

Di beberapa perusahaan, penelitian menyimpulkan bahwa perempuan yang memimpin justru lebih baik daripada rekan-rekan pria mereka.

Perempuan mengungguli pria dalam empat dari lima kategori belajar yakni inisiatif dan komunikasi yang jelas; keterbukaan dan kemampuan untuk berinovasi; sosialisasi dan dukung; serta manajemen metodis dan penetapan tujuan.

Namun, soal urusan emosional dikatakan pria jauh lebih unggul dibandingkan perempuan. Pria dikatakan mampu menghadapi tekanan dan stres serta memiliki tingkat yang lebih tinggi dari stabilitas emosional.

“Bisnis harus selalu berusaha untuk menarik pelanggan dan klien serta untuk meningkatkan produktivitas dan keuntungan. Hasil kami menunjukkan bahwa wanita secara alami peringkat lebih tinggi, secara umum, dibandingkan laki-laki dalam kemampuan mereka untuk berinovasi dan memimpin dengan kejelasan dan dampaknya,” kata Profesor Martinsen seperti dikutip Independent.

“Temuan ini menimbulkan pertanyaan yang sah tentang pembangunan hirarki manajemen dan dispensasi saat perempuan dalam peran ini,” tambah dia.

Hasil penelitian ini disadari telah bertolak-belakang dari norma-norma kerja. Sehingga, di Amerika Serikat, sebanyak 500 perusahaan yang dipimpin perempuan telah mengalami penurunan sebesar 12 persen tahun lalu.

“Survei ini menunjukkan bahwa pemimpin perempuan mungkin goyah melalui kecenderungan mereka lebih kuat khawatir, atau stabilitas emosional yang lebih rendah,” kata rekan penulis studi Profesor Lars Glasø.

“Namun, ini tidak meniadakan fakta bahwa mereka jelas lebih cocok untuk posisi manajemen daripada rekan-rekan pria mereka. Jika pengambil keputusan mengabaikan kebenaran ini, mereka secara efektif bisa mempekerjakan pemimpin kurang berkualitas dan merusak produktivitas,” tandasnya.

Penulis: Eriec Dieda
Editor: Achmad Sulaiman

Komentar