Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignasius Jonan/Foto Deni/Nusantaranews
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignasius Jonan/Foto Deni/Nusantaranews

NUSANTARANEWS.CO – Masa depan bisnis di subsektor minyak dan gas bumi (migas) ditentukan oleh efisiensi biaya (cost game), karena harga jual produk migas di luar kendali operasi perusahaan migas. Demikian hal yang menjadi penekanan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignasius Jonan dalam “Diskusi Akhir Tahun Migas” di Jakarta.

Sebab semakin efisien kegiatan operasi migas, maka kontribusi bagi seluruh pemangku kepentingan akan meningkat. Hal ini menjadi prioritas Pemerintah.

“Efisiensi dan peningkatan kontribusi menjadi kunci. Saat ini prioritasnya adalah meningkatkan efisiensi melalui pengelolaan yang lebih baik, sehingga memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi seluruh rakyat,” ujar Menteri Jonan, Senin (19/12).

“Bapak Presiden memberikan arahan agar lebih efisien. Pemerintah harus melakukan terobosan-terobosan, antara lain dengan penerapan skema gross split yang mendorong kontraktor migas bekerja dengan lebih efisien. Dengan skema gross split perhitungan menjadi lebih efisien,” sambungnya menjelaskan.

Tidak hanya itu, Jonan juga menepis kekhawatiran bahwa, skema gross split dianggap tidak berpihak kepada industri nasional. Menurutnya, Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) menjadi prasyarat utama bagi kontraktor migas.

“Kita akan atur untuk TKDN. Jika ingin efisien, pasti menggunakan produk nasional, karena impor lebih mahal. Pemerintah akan membuat sistem yang fair. Semakin banyak TKDN yang digunakan, semakin besar split bagi kontraktor,” tegas Menteri ESDM. (kiana/ris)

Komentar