Erwinia chrysanthemi di Dunia termasuk di dalamnya Indonesia/Ilustrasi Nusantaranews/Latar via Discover Life
Erwinia chrysanthemi di Dunia termasuk di dalamnya Indonesia/Ilustrasi Nusantaranews/Latar via Discover Life

NUSANTARANEWS.CO – Benih cabai yang terinfeksi bakteri Erwinia chrysanthemi atau Dickeya dadantii belakangan ini mendadak menjadi sorotan setelah penangkapan empat warga Tiongkok yang kedapatan menggunakan benih berbakteri di Kabupaten Bogor.

Nusantaranews sebelumnya memberitakan bahwa Kepala Badan Karantina Pertanian Kementerian Pertanian Banun Harpini menduga hal itu adalah serangan ‘bio terorisme’. “Sampai saat ini kami masih melakukan penyidikan, takutnya ini diduga bio terorism,” kata Banun beberapa waktu lalu.

Bahkan, Kementerian Pertanian menegaskan bahwa bakteri perusak tanaman Erwinia chrysanthemi sebelumnya tidak ada di Indonesia, baru ditemukan saat Badan Karantina dan Imigrasi mendapati warga China menggunakan benih terinfeksi bakteri itu untuk bercocok tanam di Kabupaten Bogor beberapa waktu lalu.

“Kami menemukan yang kemarin dimusnahkan itu, ada dua kilogram dan tanaman yang sudah ditanam di lahan 4.000 meter,” kata Banun.

“Kami mengambil sampel, kami uji ke balai karantina. Hasilnya ternyata, positif Erwinia chrysanthemi. Itu ditemukan di sisa packing yang semua berbahasa China,” katanya.

Banun mengatakan, bahwa bakteri Erwinia masuk golongan A1 atau belum pernah ada di Indonesia, yang artinya baru kali ini menembus masuk Indonesia.

Bahkan, pihaknya juga memastikan baik benih mau pun tanaman yang ditemukan di Bogor tidak memiliki surat sertifikat kesehatan dan tidak tercatat di Badan Karantina.

Balai Besar Karantina Pertanian memutuskan untuk memusnahkan benih cabai yang kemasannya bertulisan bahasa China, serta tanaman cabai dan benih bawang daun yang terinfeksi bakteri Erwinia chrysanthemi pada Sabtu (8/12/2016).

“Sekali pun belum ada di Indonesia, tetapi literatur menyebutkan bakteri cepat menyebar. Makanya karantina mengambil langkah cepat untuk memusnahkan lebih awal,” tutur Banun.

Menurut Banun, bakteri itu bisa dalam waktu singkat mengganggu pertumbuhan tanaman. “Bakteri ini terbawa benih. Bila benih sudah terinfeksi maka kecenderungan bila kondisi sesuai untuk perkembangan bakteri akan menyerang pertumbuhan tanaman dari tanaman muda maupun tanaman tua,” kata dia sebagaimana dikutip dari lembaga berita Antara.

Banun menjelaskan, bakteri itu menyerang pertumbuhan seluruh bagian tanaman, membuatnya membusuk. “Gejala spesifik bercak busuk kebasahan pada daun, juga menyerang buah sehingga berakibat busuk,” papar Banun.

Banun berujar, bakteri ini bersifat sistemik dalam jaringan tanaman. Bakteri ini memiliki strain yang luas dan juga inangnya luas dari kelompok tanaman keluarga solanacea seperti cabai kentang, terong dan tembakau. “Itu termasuk rentan bila nanti bakteri menyebar,” ucap Banun.

Banun memaparkan bahwa Erwinia chrysanthemi ditemukan di Tiongkok dan beberapa negara tropis, namun dia tidak merinci negara mana saja.

Hingga kini, lanjut Banun, belum ada penelitian yang menunjukkan dampak bakteri pada manusia. “Kalau menerapkan level of protection (tingkat perlindungan) tinggi, kita bisa aman. Bebas penyakit itu (tanaman),” ungkap Banun. (Andika/Ant)

Komentar