Connect
To Top

Doa Untuk Indonesia – Puisi HM. Nasruddin Anshoriy Ch

DOA UNTUK INDONESIA

Dengan kedua tangan mendekap dada, kuucapkan doa ini kepada negeri yang sedang terbuai mimpi di senjakala.

Wahai Sang Maha Pengampun, inilah tangan kami, jutaan tangan sebuah negeri yang subur dan makmur ini, tapi berlumur dosa dan enggan bersyukur atas segala nikmat dan karuniaMu.

Burung prenjak di atas ranting pohon kemuning telah mengabarkan padaku tentang tamu yang segera tiba.

Duhai Sang Maha Penyayang, ajari kami untuk saling memaafkan dan mengampuni dengan tembang kasih-sayang, seperti melodi dan harmoni penuh keserasian nada dan bunyi.

Bertanya pada burung gagak tentang maut dan nestapa hanya menambah getir di bibir, menambahkan luka di jiwa dan seluruh tanya tak menemukan jawabnya.

Duhai Sang Maha Lembut, terimalah jutaan tangan bangsa ini yang terus menadah ke langit, bergotong-royong merawat negeri yang penuh toleransi, menjaga bangsa yang indah karena kebhinekaannya, titipan anak-cucu yang indah penuh pesona dan wajib dijaga keutuhannya.

Tangan-tangan kami gemetar seperti deburan ombak, tangan-tangan kami menadah dan melambai laksana nyiur di sepanjang pantai. Lindungi kami dari kobaran api kebencian, amuk amarah dan badai kebodohan yang datang dari rimba kegelapan.

Karena itulah doa ini seakan mengemas luka dan air mata dalam cinta yang tak sempurna.

Tuhan, betapa tidak mudah menjadi manusia. Jika hidup ini laksana pena, ijinkan hamba merawat kata, agar lidah dan ludah tak saling fitnah, agar bibir dan getir tak bercampur di dalam zikir.

Apakah salah jika kupeluk agama selembut sutera? Apakah rapuh jika kupilih maaf dibanding dendam dan sikap angkara?

Kupilih bunga untuk melawan kutuk dan nista, sebab agama, kitab suci dan Nabi Muhammadku telah mengajarkan indahnya memberi maaf dan lapang dada walau seribu hina mengepung menerjang dada.

Sebab para Nabi diutus dan kitab suci diturunkan tak ada yang mengajarkan kebencian dan syakwasangka.

Duhai Sang Maha Cahaya, sinari kami dengan kilau firmanMu yang menerangi bumi, menjadi ilham pada jutaan kitab-kitab pusaka, bertabur menjadi wahyu melalui ribuan buku.

Jika ada sehelai rambut yang membentang antara diriku dan orang yang menistai cintaku, maka rambut itu akan terus kujaga agar tak ada yang memutusnya.

Akan terus kurawat tiap kata agar tak ada yang bisa terluka, sebab pada musuh sekalipun keadilan harus tegak adanya.

Tuhan, kucintai Tanah Air ini dengan rasa syukur tiada tara. Sepotong surga yang lebih zamrud dari zamrud, lebih permata dari permata. Elok permai penuh pesona.

Andai setelah kematian nanti aku ditanya negeri mana yang kupilih untuk kesempatan hidup kedua atau ketiga, maka aku tetap bulat memilih Indonesia.

Hidup ini semakin sempurna keindahannya karena hidayahMu saja, menjadi muslim, memeluk Islam, bukan karena warisan nenek-moyang atau sebab lainnya.

Tuhan, terima kasih telah memberikan keindahan iman dan agama yang sempurna kepada kami di negeri damai dan permai ini.

Wahai Sang Maha Rindu, walau hanya sebutir debu, sucikan diri ini dari segala nafsu dan residu.

Gus Nas

Gus Nas

*HM. Nasruddin Anshoriy Ch atau biasa dipanggil Gus Nas mulai menulis puisi sejak masih SMP pada tahun 1979. Tahun 1983, puisinya yang mengritik Orde Baru sempat membuat heboh Indonesia dan melibatkan Emha Ainun Nadjib, HB. Jassin, Mochtar Lubis, WS. Rendra dan Sapardi Djoko Damono menulis komentarnya di berbagai koran nasional. Tahun 1984 mendirikan Lingkaran Sastra Pesantren dan Teater Sakral di Pesantren Tebuireng, Jombang. Pada tahun itu pula tulisannya berupa puisi, esai dan kolom mulai menghiasi halaman berbagai koran dan majalah nasional, seperti Horison, Prisma, Kompas, Sinar Harapan dll.

Tahun 1987 menjadi Pembicara di Forum Puisi Indonesia di TIM dan Pembicara di Third’s South East Asian Writers Conference di National University of Singapore. Tahun 1991 puisinya berjudul Midnight Man terpilih sebagai puisi terbaik dalam New Voice of Asia dan dimuat di Majalah Solidarity, Philippines. Tahun 1995 meraih penghargaan sebagai penulis puisi terbaik versi pemirsa dalam rangka 50 Tahun Indonesia Merdeka yang diselenggarakan oleh ANTV dan Harian Republika.

Menulis sejumlah buku, antara lain berjudul Berjuang Dari Pinggir (LP3ES Jakarta), Kearifan Lingkungan Budaya Jawa (Obor Indonesia), Strategi Kebudayaan (Unibraw Press Malang), Bangsa Gagal (LKiS). Pernah menjadi peneliti sosial-budaya di LP3ES, P3M, dan peneliti lepas di LIPI. Menjadi konsultan manajemen. Menjadi Produser sejumlah film bersama Deddy Mizwar.

Sejak tahun 2004 memilih tinggal di puncak gunung yang dikepung oleh hutan jati di kawasan Pegunungan Sewu di Selatan makam Raja-Raja Jawa di Imogiri sebagai Pengasuh Pesan Trend Budaya Ilmu Giri. Tahun 2008 menggagas dan mendeklarasikan berdirinya Desa Kebangsaan di kawasan Pegunungan Sewu bersama sejumlah tokoh nasional. Tahun 2013 menjadi Pembicara Kunci pada World Culture Forum yang diselenggarakan Kemendikbud dan UNESCO di Bali.

Komentar