Connect
To Top

Disediakan 3 Panti Psikotik di Jakarta Bagi Pencari Kerja Depresi

Ilustrasi pencari kerja

Ilustrasi pencari kerja

NUSANTARANEWS.CO – Menteri Sosial (Mensos), Khofifah Indar Parawansa, mengungkapkan bahwa tidak semua orang yang mengadu nasib ke kota-kota besar seperti Jakarta berhasil mendapatkan pekerjaan yang diinginkan, sehingga mengalami depresi.

“Mereka yang berhasil mendapatkan pekerjaan sesuai keinginan tentu saja bahagia. Namun, bagi mereka yang tidak mendapatkannya dan tidak siap bisa depresi,” ungkapnya seperti dikutip dari siaran pers yang diterima Nusantaranews, Jakarta, Senin (18/7/2016).

Bagi mereka yang mengalami depresi, Khofifah mengatakan, pihak Kementerian Sosial (Kemensos) telah menyiapkan tiga panti psikotik yang berada di Jakarta dengan kapasitas tampung sebanyak 1000 klien.

“Bagi warga yang tidak mendapatkan kerja yang diinginkan tak sedikit mengalami depresi, maka disiapkan tiga panti psikotik di Jakarta dengan kapasitas 1000 klien,” ujarnya.

Khofifah menyampaikan, para warga yang mengadu nasib ke kota-kota besar di Indonesia adalah sebuah pilihan yang dijamin konstitusi. Namun, menurutnya, para warga juga mesti membekali diri dengan berbagai keterampilan agar bisa bersaing di tengah ketatnya lapangan pekerjaan.

“Setiap warga negara bisa pergi kemana saja di wilayah NKRI untuk berupaya mewujudkan kebahagiaan dan kesejahteraan. Tapi sudah semestinya memiliki keterampilan,” katanya.

Bagi warga yang belum memiliki keterampilan, maka mereka bisa dilatih di daerah asal yang melibatkan Pemerintah Daerah (Pemda) setempat, seperti pelatihan kejuruan (vocational training) dan kursus singkat (short course).

“Bekali diri dengan berbagai keterampilan, baru kemudian jika pilihannya mencari pengalaman dan ingin mendaptkan penghidupan lebih baik dan bisa memilih daerah mana yang bisa mewujudkan keinginan,” ujar Khofifah.

Saat ini, lanjut Khofifah, sudah banyak desa-desa yang mengembangkan sentra-sentra ekonomi produktif yang didukung dengan anggaran dari Pemerintah Pusat per desa Rp1,2 miliar hingga Rp2 miliar untuk seluruh desa di Indonesia. “Jadi warga tidak perlu pergi ke kota-kota besar karena di desa sendiri ada usaha yang menjanjikan buat masa depan,” ujarnya menambahkan. (Deni)

Komentar