Opini

Dinamika Sejarah Harga Minyak Dunia

Foto Ilustrasi Pasokan Minyak Global/Ist
Foto Ilustrasi Pasokan Minyak Global/Ist

Oleh: Syukron Rosyady

NUSANTARANEWS.CO – Setidaknya sudah lebih dari setahun ini harga minyak dunia telah mengalami pasang surut. Nampaknya, masalah ekonomi Negara tahun ini digantung oleh harga minyak dunia. Sesuai konteks ini, kekayaan sumber alam pada titik tertentu pasti akan habis.

Dalam dinamika sejarahnya, tahun 1974-1975 melukiskan kisah menarik dimana harga minyak dirasa sangat murah untuk kalangan negara-negara industri. Hal ini dibuktikan pemborosan dan penyalahgunaan minyak yang sangat tidak wajar.

Contoh, produk mobil Amerika yang hanya dengan satu liter hanya menempuh jarak 8 km. Penggunaan lampu-lampu iklan, pendingin dan pemanasan rumah serta banyak ruangan ternyata dianggap kurang bermanfaat.

Dalam kurun waktu yang lama, negara berpenghasil minyak memilih menaikkan harga minyak dunia. Hal ini mengundang penderitaan seluruh dunia. Semua Negara yang semula memiliki kekayaan kelebihan devisa dalam jumlah besar, akhirnya berpindah tangan.

Sampai akhir tahun 1974, uang yang berpindah tangan tercatat 70 miliar dollar AS yang dimiliki negara pengekspor minyak. Beberapa perusahaan penyalur minyak pun mengalami keuntungan dadakan. Tercatat 40 miliar dollar keuntungan yang dikeruk. Dapat dibayangkan berapa banyak dan cepat uang berpindah tangan dari negara industri ke ke negara berpenghasil minyak?

Tingginya harga minyak menjadikan akal manusia berpikir untuk melakukan praktik-praktik yang kurang etis dalam perdagangan. Upaya penimbunan minyak mentah pun dilakukan. Dengan harapan akan tercipta krisis minyak dan menjadikan harga minyak melambung tinggi.

Bersamaan dengan ity, orang-orang berebut membuat kapal raksasa agar sekali angkut dapat memuat 300.000 ton minyak. Kesombongan dan keangkuhan negara-negara Timur Tengah merajalela, namun apa boleh di kata pasar minyak mulai mengalami penurunan dan bahkan bias.

Para pedagang mulai mengeluh dengan kelebihan persediaan, kapal mulai tak bisa membongkar muatannya. Banyak kapal yang dikosongkan atau diperlambat jalannya karena antre minyak tak kunjung laku.

Peperangan antara negara penghasil minyak dan negara-negara industri dianggap semakin membuat stabilitas minyak dunia menurun. Situasi ini menuai tanggapan dari beberapa negara penghasil minyak.

*Syukron Rosyady, Aktivis PMII DIY dan Matriks Oil and Gas

Komentar

To Top