Connect
To Top

Di Dekat Danau | Cerpen Arya Saki

NUSANTARANEWS.CO – Dua orang itu tampak sedang duduk di sebuah bangku putih dari kayu, sepanjang dua ratus senti meter, di dekat danau. Satunya adalah sosok lelaki dewasa dalam balutan kemeja biru tua, membaca buku, di sisinya wanita yang sama dewasanya sedang menatapnya penuh intensitas. Helai poni hitam si wanita  itu jatuh ke depan. Bibirnya yang merah ranum agaknya terlihat kontras untuk disatukan dengan cuaca senja yang perlahan-lahan kian menggelap. Mungkin sebentar lagi hujan membasahi bumi.

“Aku ingin bertanya sekali lagi, Nu. Janganlah bertele-tele. Kamu itu sebenarnya menyukai aku atau tidak?” tanya si wanita.

“Iya.”

“Lalu?”

“Apanya?”

Ada kedutan yang jelas terukir di kening si wanita. Dua tangan kurusnya merekat di rok selutut sewarna bunga melati, membuatnya semakin kalap. Wanita itu masih tetap menatap si lelaki dengan wajah seriusnya. Hidungnya yang mungil tampak sedikit memerah. Dia rupanya masih ingin bertanya.

“Kalau begitu kapan?”

“Apanya?”

“Aduh, apa aku harus mengatakannya dari sabang sampai merauke kepadamu?”

“Yah, kalau kau tidak mengatakannya, mana mungkin aku bisa tahu apa.”

Si lelaki membalikkan halaman buku setebal enam ratus lembar berwarna coklat kemerahan, judulnya dicetak dalam warna emas. Sebelah alisnya terangkat ke atas. Punggung yang bersandar pada bangku sebelumnya itu, kini ikut terangkat. Sebelah kaki yang tertopang, ikut lungsuh tertumpu serupa kaki di sebelahnya.

Si wanita sedang berpikir cara apa lagi yang mustinya bisa dilakukan untuk membuat si lelaki menatap ke arahnya, meninggalkan perhatian khususnya pada si buku. Dia mengelu-elus pelan pipinya sembari memikirkan sebuah perkataan yang mungkin bisa menjadi solusi.

Orang-orang di sekitar taman situ berlalu lalang dalam aktivitas mereka masing-masing, dua orang perempuan bercelana pendek di atas lutut berlari-lari kecil, pasangan orang tua di dekat sebuah pohon berdaun kering mengobrolkan hal yang nampaknya asyik sambil memasukkan beberapa potong biskuit ke dalam mulut mereka.

Febri menolehkan penglihatannya pada danau tenang di depan mereka. Beberapa sampan perlahan-lahan menjauh dari tepi danau, wajah-wajah mereka terlihat terpesona. Menarik sekali. Berapa biaya yang harus mereka keluarkan? Wanita itu memikirkannya keras-keras. Saat itu si lelaki rupanya telah menyelesaikan membaca bukunya. Perlahan-lahan, si lelaki memegang tangan si perempuan, sorot matanya berubah seperti air danau yang bening.

“Ayo katakanlah saja, Feb. Aku akan mendengar sampai akhir. Aku akan memberikan pendapat yang terbaik pula. Aku akan duduk di sini bersamamu.”

“Nu, aku bilang aku tidak bisa mengatakannya.”

“Kalau kau tidak mengatakannya, mana mungkin aku tahu.”

Si wanita menggelengkan kepalanya berulang kali. “Kau seharusnya tahu tanpa aku mengatakannya, Nu.”

“Itu agak konyol.”

“Itu benar.” Si wanita dengan perlahan-lahan melepaskan genggaman dari si lelaki. Dengan perlahan pula, dia mengambil jarak supaya si lelaki bisa melihat secara keseluruhan bentuk rupa si perempuan. Seolah-olah mereka jarang bertemu. “Kau sudah mengenalku lama, Nu. Tidakkah itu lebih dari cukup untuk mengerti apa yang aku mau?”

“Ah, ya. Itu memang benar. Aku telah mengenalmu sejak kita SMA dulu.”

“Tidak, bahkan sebelum itu.”

“Benarkah?”

“Coba kau ingat-ingat. Saat kau sedang tersesat di toko roti perempatan jalan menuju sekolah. Kau memegang dagumu, sambil menendang-nendang kerikil. Seperti orang galau. Oh, mengakulah. Kau lalu duduk dan berbicara sendiri seperti orang gila.”

“Aku tidak ingat pernah melakukannya.” Mungkin karena terlalu fokus pada kata-kata si perempuan, buku yang tadi dibacanya jatuh ke rumput hijau, sejenis rumput lapangan sepak bola. Dahi si lelaki berkeriut.

“Ayolah, aku ingat kau benar-benar melakukannya.”

“Aku tidak ingat, Feb.”

Si perempuan memasukkan tangan kanannya ke dalam tas kecil di sampingnya. Sesaat kemudian, dia mengeluarkan sebuah ponsel layar sentuh, melakukan gerakan membuka kunci pin, membuka daftar galeri, lalu menunjukkan sebuah foto kepada si lelaki. Sebuah foto seorang anak muda sedang duduk di trotoar, mulutnya membuka seperti berbicara.

Melihat itu wajah si lelaki langsung berubah pias. Sebelah tangan menggaruk belakang kepala, mungkin dia kikuk. Namun itu terjadi hanya dalam waktu sesaat karena di wajahnya muncul kerutan. Dia mungkin heran karena sesuatu hal yang lain.

“Tapi, Feb. Bagaimana bisa kau memiliki foto itu? Aku ingat waktu itu aku sendirian di sana.”

“Yah, saat itu aku lewat di sana selesai Ujian sekolah. Lalu tidak sengaja melihatmu sedang duduk di sana. Aku kira kamu orang yang aneh, begajulan, tidak tahu aturan. Rasanya lucu saja untuk di foto.”

“Itu namanya melanggar privasi orang lain, kau tahu?” Si lelaki mengernyitkan sebelah alisnya yang hitam legam. Matanya yang berwarna coklat bening itu seperti memantulkan wajah Febri yang tengah menatapnya. Muka si wanita sudah merah seperti buah tomat. “Ah, kalau tidak salah waktu itu kita belum kenal satu sama lain. Aku tidak memiliki banyak teman. Tunggu! Aku rasa ada yang salah. Jangan bilang kau sudah tertarik padaku bahkan sebelum kita berkenalan? Aku tidak tahu.”

“Kita tidak sedang membahas itu, Nu.”

Si lelaki menampilkan senyum merekah. Tepat ketika dia akan berbicara lagi, kakinya menyenggol sesuatu, dia baru ingat kalau ada yang hilang, mencari-cari kiri dan kanannya, dan mengetahui kalau buku pembelajarannya itu terjatuh. Dia memungutnya sambil masih menampilkan senyum.

“Ayolah, Nu. Kita tidak sedang membahas itu,” ulang si wanita.

“Eh? Kenapa? Aku hanya ingin tersenyum saja.”

“Tapi aku tidak suka melihatnya. Kau tahu, itu seperti kau sedang menampilkan sesuatu yang aku sendiri tidak tahu.”

“Kalau begitu kau hanya perlu menutup matamu saja. Atau kau bisa pura-pura tidak melihat senyumanku, Feb.”

Merasa tidak mendapatkan respon yang baik, si wanita mengedarkan pandangan ke sebuah pohon tua di dekat orang yang sedang menarik tali agar perahu bisa berlabuh di tepian. Tampaknya, hanya dirinya sendiri dan beberapa orang lain yang mengetahui kalau di dekat pohon itu ada beberapa tupai yang tengah mengerat beberapa kenari. Lama dilihat-lihat, tupai itu lalu menaiki pohon. Si wanita apakah si tupai lelaki? Di dekat ranting, ada lubang seukuran piring. Dari lubang itu, muncul beberapa dua tupai lain yang lebih kecil. Seperti manusia juga, si tupai memberikan kenari pada tupai-tupai lain di atas pohon. Si tupai pertama tadi lalu turun kembali perlahan-lahan, mengerat kenari-kenari yang lain.

Si wanita menyadari kalau si lelaki sedang menggenggam tangannya kembali. Ketika si wanita membalikkan wajah, dia bisa melihat ada raut yang penuh perhatian, sorot mata yang sejak tadi kelihatan terang kini mulai meredup. Seperti riak-riak danau yang dilempari batu. Merasa tak tenang.

“Kau tahu kalau beberapa hari ini aku selalu sibuk di kantor, Feb. Ada banyak pekerjaan yang harus segera diselesaikan. Aku juga harus mengunjungi beberapa orang lain yang…”

“Aku tahu.”

“Dan kau juga tahu kalau semua itu aku lakukan untuk siapa? Mengertilah Feb, dari beberapa hal di dunia ini, salah satunya hubungan kita, kau juga pasti tahu kalau aku butuh waktu.”

“Berapa lama lagi? Setahun? Dua tahun? Atau sampai kita kehilangan satu sama lain?”

Sebelah tangan si lelaki menggaruk belakang kepala. Si wanita mendesah. Mungkin wanita itu mulai kesal. Tapi disentuhnya amat pelan pipi si lelaki agar menatapnya lebih lekat dari sebelumnya. Dia memandang si lelaki dengan sinar mata yang penuh penekanan sembari sebelah tangan mengeratkan genggaman.

“Nikahi aku!”

“Tidak bisa untuk sekarang.”

“Bagaimana kalau besok? Minggu. Kau libur bukan?”

“Eee… mungkin.”

“Sama sekali tidak meyakinkan. Padahal kau bilang tadi kalau kau menyukaiku? Apa rasa sukamu itu hanya dibibir saja, Nu? Apa kau tidak bisa menunjukkannya lewat sikap? Apa kau ingin hubungan kita akan seperti ini selamanya?”

“Tidak begitu juga.”

“Lalu kenapa?”

“Aku hanya belum siap saja, Feb. Banyak hal di luar sana yang ingin aku raih. Itu kulakukan untuk anak-anak kita juga nanti.”

“Oh, ya? Atau jangan-jangan kau punya wanita lain?”

“Jangan memancing pertengkaran, Feb.”

Tangan kecil kurus itu perlahan turun dari pipi si lelaki. Si wanita menggelengkan kepalanya berulang kali. Entah bagaimana, kristal bening yang mengkilau bagai mutiara perlahan merangsek lewat pelupuk matanya. Si wanita melepaskan genggaman si lelaki. Dan di bangku panjang itu, si wanita mulai mengambil jarak lebih jauh.

Si lelaki mendekat, tapi si wanita buru-buru memalingkan wajahnya. Si lelaki mendekat lebih rapat, si wanita cepat-cepat menegakkan kedua kaki rampingnya untuk menepak di rumput sembari menutupi wajah basahnya.

“Aku tahu aku salah, Feb.”

Keduanya untuk beberapa waktu telah menyita perhatian beberapa orang di area danau itu. Si lelaki tetap mengikuti si wanita meskipun tak sedikit pun ucapan yang kemudian keluar dari bibirnya dijawab oleh si wanita.

Ketika sampai di pintu masuk danau, si lelaki menarik sebelah tangan si wanita. Dan dengan begitu, si wanita pun menghentikan langkah.

“Aku tidak bisa mengatakan apapun lagi, Feb. Kau mestinya mengerti bagaimana perasaanku ini.”

“Seharusnya aku yang bilang begitu.”

Si wanita menunjukkan sebuah foto di ponsel. Tampak di sana, si lelaki dan wanita sedang berpelukan. Tapi itu jelas bukan wanita ini.

“Dari mana kau dapatkan itu?”

“Kau tidak perlu tahu.”

“Feb, aku bisa jelaskan.”

“Dan aku tidak butuh penjelasan.”

“Kalau begitu aku akan tetap mengatakannya… .”

Si wanita lebih memilih diam. Si lelaki mengambil langkah di depan si perempuan. Kedua lengan kokohnya itu memegang pundak si perempuan. Ada senyum simpul di bibirnya. Sorot matanya kini tampak bagai awan mendung yang kelam.

“Maafkan aku, Feb.”

“Maksudmu?”

“Aku memang salah.”

Sekejap itu kedua bola mata si wanita melebar besar. Dia berusaha mengambil jarak. “Kau tidak benar-benar… Tunggu! Danu, jelaskan padaku kalau wanita itu bukan siapa-siapa? Astaga… .”

Bibir si lelaki tampak seperti tertarik ke bawah oleh benang. Ada napas tak tenang milik si wanita.

“Maafkan aku, Feb,” ucap si lelaki kembali.

Kristal bening si wanita telah merembes keluar dari mata. Berkali-kali. Turun perlahan menuju jantung. Membuat dadanya semakin berdetak penuh gelinjang. Dalam beberapa detik pipinya sudah banjir dengan air.

“Maafkan aku, Feb,” ulang si lelaki.

Dan langit di atas mereka, kian lama bertambah gelap saja.

 

*Penulis dilahirkan tahun 1995. Email : [email protected]

__________________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi (berdonasi) karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resensi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: [email protected] atau [email protected]

Komentar