Obyek wisata “Lamin Etam Ambors” ialah wahan Outbound dan Pemancingan yang terletak di desa Tani bhakti Km 28, Samboja , Kutai Kartanegara/Foto: Dok. visitingkutaikartanegara.com
Obyek wisata “Lamin Etam Ambors” ialah wahan Outbound dan Pemancingan yang terletak di desa Tani bhakti Km 28, Samboja , Kutai Kartanegara/Foto: Dok. visitingkutaikartanegara.com

NUSANTARANEWS.CO – Desa Tani Bakti, Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur merupakan salah satu pusat pertanian, perkebunan, dan kehutanan di Kutai Kartanegara. Selain merica yang menjadi komoditas unggulan yang dihasilkan masyarakat, Desa Tani Bakti juga menjadi penghasil aneka produk kehutanan. Misalnya memproduksi Kayu Sengon, Mahoni, Gaharu, Angsana, Jati, termasuk kayu Sengaun.

Sejak Desa Tani Bakti dikembangkan menjadi kawasan transmigrasi lokal yang mulai dibangun pada 1990, Desa ini menjadi salah satu contoh desa sukses yang pembangunannya terus didorong Pemerintah, khususnya Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi.

Atas berjalannya penggunaan Dana Desa yang sepenuhnya untuk pembangunan desa dan melibatkan masyarakat secara aktif, Menteri Desa PDTT Eko Putro Sandjojo sangat mengapresiasinya. Apresiasi diberikan kepada masyarakat saat Menteri Eko bersama Presiden Jokowi meninjau langsung progres pembangunan di Desa Tani Bakti, Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Baca: Krisis Air Desa Tani Bakti Teratasi Dana Desa

Menyambut apresiasi Menteri Desa, Kepala Desa Tani Bakti Alamsycah, menjelaskan bahwa Dana Desa 2015 sebesar Rp277,8 juta digunakan untuk membangun Embung Desa dengan biaya Rp111.155.000, kemudian membangun pondasi Poliklinik Desa (Polindes) dengan anggaran Rp111.155.000. Sisanya sebesar Rp55.582.000 dipakai buat Penyediaan Sarana air bersih berupa sumur bor.

“Ada pun Dana Desa tahun 2016 sebesar Rp648,4 juta masing-masing digunakan untuk Embung Desa sebesar Rp124.157.000, Polindes Rp100.989.000, Pembuatan Saringan air bersih dan pelengkap Rp53.456.160, Pipanisasi SAB Rp147.608.640, pembuatan parit tepi jalan Rp138.845.239, serta Pembangunan WC Pasar Desa Rp83.430.900,” papar Alamsycah, Minggu (4/12).

Kepala Desa Tani Bakti menambahkan, penggunaan Dana Desa mengikuti aturan yang ditentukan, mulai dari perencanaan kegiatan yang betul-betul diusulkan langsung oleh masyarakat dan pelaksanaannya melibatkan langsung masyarakat. Pengerjaannya dilakukan dengan swakelola padat karya sehingga dari segi pembiayaan kegiatan lebih murah dan melibatkan masyarakat secara penuh.

“Perencanaan desa sangat tertata dan konsep desa mandiri berjalan dengan baik karena aspirasi masyarakat selalu eksplor kepala desa hingga menjadi kebijakan bersama,” jelas Alamsycah.

Disamping itu, Alamsycah mengatakan bahwa sarana air bersih yang dibangun menjadi contoh di semua desa di Kabupaten Kukar. Sebab kelangkaan air bersih adalah masalah yang sudah lama dihadapi masyarakat setiap musim kemarau tiba.

“Sekarang dengan Dana Desa, ketersediaan air bersih sudah tidak lagi menjadi masalah. Bahkan ada kenaikan Pendapatan Asli Desa (PADesa) dari pengelolaan air bersih ini. Masyarakat juga melakukan penanaman pohon secara serentak untuk komuditi buah-buahan di tingkat desa, sehingga target Desa Tani Bakti menjadi kawasan agro wisata semakin mendekati kenyataan,” tutur Alamsycah menandaskan. (kiana/red-02)

Komentar