Wakil Ketua Komisi XI DPR RI, Achmad Hafisz Tohir/Foto Deni / NUSANTARAnews
Wakil Ketua Komisi XI DPR RI, Achmad Hafisz Tohir/Foto Deni / NUSANTARAnews
Wakil Ketua Komisi XI DPR RI, Achmad Hafisz Tohir/Foto Deni / NUSANTARAnews
Wakil Ketua Komisi XI DPR RI, Achmad Hafisz Tohir/Foto Deni / NUSANTARAnews

NUSANTARANEWS.CO – Wakil Ketua Komisi XI DPR RI, Achmad Hafisz Tohir, menduga bahwa wacana pemindahan acuan mata uang (kurs) dari Dollar ke Yuan yang dikeluarkan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) hanyalah untuk menggertak pihak Amerika Serikat (AS) dan Jepang.

“Supaya realisasi investasi untuk 2017 dari negara-negara maju lebih meningkat ke Indonesia,” ungkapnya kepada wartawan di Jakarta, Kamis (8/12).

Dengan harapan, lanjut Hafisz, pihak AS akan melakukan lobi-lobi ke Indonesia dengan ujung dari lobi tersebut adalah komitmen AS untuk menambah investasinya.

“Kemudian, apabila Indonesia mau menggunakan Yuan sebagai alat tukar utama, maka hal tersebut akan beresiko, karena perekonomian China belum stabil, masih volatile, dan hal ini akan memberikan resiko dan ketidakpastian bagi pelaku ekonomi di Indonesia,” ujar Politisi dari Partai Amanat Nasional (PAN) itu.

Penggunaan mata uang Dollar AS sendiri, diakui Hafisz, telah menjadi alat tukar utama di dunia. Menurutnga, dunia menggunakan Dollar AS dikarenakan perekonomian AS yang relatif stabil.

“Dulu sempat ada wacana untuk menjadikan Euro menjadi alat tukar utama, tetapi sangat riskan menggunakan Euro, karena selain mata uang baru, euro juga relatif fragile, karena rentan terhadap perpecahan,” katanya menjelaskan.

Ketua DPP PAN Bidang Infrastruktur dan Ekonomi itu juga menambahkan, selain faktor komoditas, Pemerintah juga harus mempertimbangkan faktor penunjang lainnya, misalnya saja faktor finansial yang berlanjut.

“Mengingat perekonomian China sedang menghadapi laju pertumbuhan yang menurun, jadi kurang tepat jika Indonesia menggunakan Yuan sebagai alat tukar utama,” ujarnya. (Deni)

Komentar