Berita Utama

Cina Siap Gelar Forum One Belt One Road di Beijing

peta jalur sutra dan jalur sutra maritim china
peta jalur sutra dan jalur sutra maritim china/Foto Istimewa/Nusantaranews

NUSANTARANEWS.CO, Tiongkok – Pada 14-15 Mei mendatang, Cina akan menggelar forum internasional One Belt, One Road (OBOR). Dilaporkan, sejumlah kepala negara menyatakan siap hadir dalam forum tersebut termasuk Presiden Rusia Vladimir Putin.

One Belt, One Road (Satu Sabuk, Satu Jalan) merupakan program ambisius Cina untuk menciptakan koridor ekonomi skala global yang membentang lebih dari 60 negara. Dengan tujuan ingin membantu negara lain dengan membangun basis industri. Itu sebabnya mengapa Cina memindahkan kegiatan produksinya ke luar negeri. Termasuk di Indonesia, karena juga dilintasi Jalur Sutra.

Cina menyatakan bahwa di abad 21 tidak ada negara yang bisa tumbuh sendirian. Oleh karena itu, dalam 5 tahun ke depan, investasi Cina ke luar negeri akan mencapai US$ 1,25 triliun. Tidak mengherankan mengapa China sangat berkepentingan mengambil inisiatif One Belt One Road. Sebuah inisiatif pembangunan ekonomi yang paling ambisius dalam sejarah umat manusia, di mana China berkomitmen ratusan miliar dolar untuk menggairahkan kembali pertumbuhan ekonomi yang kini sedang lesu.

Tidak tanggung-tanggung, Cina pun mengambil inisiatif mendirikan lembaga keuangan dunia AIIB (Asian Infrastructure Investment Bank) yang boleh dikatakan sebagai World Bank made in Cina. Sampai saat ini sudah 57 negara yang bergabung sebagai anggota dan penyumbang AIIB. India, Jepang, Korea Selatan bahkan negara Eropa Barat seperti Jerman, Perancis, Inggris turut terlibat dalam pendirian World Bank versi Cina ini.

Uniknya, proyek ambisius Cina ini justru dideklarasikan di Indonesia, ketika Presiden Cina Xi Jinping berpidato di Gedung DPR RI pada tahun 2013 lalu. Seperti diketahui bersama, Presiden Xi Jinping mengatakan bahwa hubungan kemitraan strategis China-ASEAN hendaknya ditingkatkan lagi ke level yang lebih tinggi, dengan target volume perdagangan menjadi sebesar US$1 triliun pada 2020. Xi juga menekankan pentingnya pembentukan Bank Investasi Infrastruktur Asia (AIIB), terutama guna membangun “Jalur Sutra Maritim Abad 21”.

Xi juga mengungkapkan bahwa bila populasi penduduk Cina dan Indonesia bergabung maka akan memiliki jumlah total 1,6 miliar jiwa. Apabila rakyat kedua negara bersatu padu, maka akan menjadi sebuah kekuatan raksasa dari populasi seperempat penduduk dunia, dan pasti akan dapat menciptakan keajaiban baru dalam sejarah perkembangan umat manusia.

Pidato Xi tentang proyek “Jalur Sutra Maritim Abad 21” yang di launching di Gedung DPR RI itu, tentu tidak main-main. Patut dicermati mengapa Indonesia yang dipilih. Mengapa tidak diumumkan di Beijing saja? Dan menariknya, tidak ada reaksi dari Amerika. Bahkan sebaliknya, Amerika malah mendukung 100% proyek pembangunan Jalur Sutra Maritim tersebut dengan menggelontorkan milyaran dolar kepada Cina. Nah, menariknya, Cina sekarang malah jor-joran memberi utang kepada Indonesia, khususnya untuk pembiayaan pembangunan infrastruktur di tanah air.

Tampaknya, Amerika sangat berkepentingan dengan pembangunan infrastruktur di Indonesia, tapi mengapa lewat tangan China? Hal tersebut bisa kita cermati melalui kerjasama apik antara World Bank dan AIIB. Tapi satu hal yang sudah jelas adalah pasti menyangkut potensi ekonomi Indonesia yang sangat besar, baik berupa sumber daya alam maupun jumlah penduduknya. Dengan kata lain, Indonesia adalah sumber bahan baku sekaligus pasar yang besar dalam proyek globalisasi dunia yang sudah di depan mata.

Pertanyaan menarik adalah apa kepentingan Amerika dibalik proyek ambisius Jalur Sutra Maritim Abad 21 yang dicanangkan oleh Cina? Apakah strategi Amerika memakai tangan Cina membangun infrastruktur Indonesia dan negara-negara yang berada dalam koridor Jalur Sutra Maritim Abad 21 ini sebagai tanda-tanda zaman dimulainya revolusi tatanan dunia baru yang telah didengungkan dalam KTT G20 di St. Petersburg, Rusia?

Yang jelas, seorang akademisi Jepang, Masako Kuranishi pernah mengingatkan Indonesia agar berhati-hati terhadap pergerakan Cina di Asia, terutama di Indonesia. Pasalnya, kata dia mengingatkan, agar jangan sampai Indonesia salah langkah menyikapi agresivitas dan sepak terjang Cina ini karena kalau salah langkah, berpotensi membuat benua nusantara menjadi berantakan.

Penulis: Eriec Dieda

Komentar

To Top