Presiden China Xi Jinping berkunjung ke Arab Saudi/Reuters/Saudi Press Agency/Handout
Presiden China Xi Jinping berkunjung ke Arab Saudi/Reuters/Saudi Press Agency/Handout

NUSANTARANEWS.CO – Akhir-akhir ini Cina kian gencar ‘menyisir’ negara-negara bagian Timur Tengah. Indikasi ini kian kuat, menyusul kegiatan Presiden Cina, Xi Jinping yang semakin intens melakukan lawatan ke sejumlah negara-negara Arab. Bahkan, Cina juga telah menandatangani butir-butir kesepakatan dengan pemerintah Arab Saudi.

Dalam konteks ini, Mantan Penasihat Menteri Negara Riset dan Teknologi dalam bidang Hankam tahun 1983, Sayidiman Suryohadiprojo melihat perkembangan Cina sebagai kekuatan ekonomi merupakan sumber dinamika internasional yang kuat.

Ia menilai ekspor besar-besaran Cina berupa barang-barang dengan harga rendah mampu mempengaruhi siklus petumbuhan ekonomi dunia, termasuk konsumen AS. Barang-barang yang diproduksi dan diekspor Cina kian bervarian. Juga tingkat teknologinya yang semakin tinggi, kian menyudutkan rival produsen negara lain.

Menurut Sayidiman Suryohadiprojo, strategi yang ditempuh Cina ini akan dianggap menguntungkan bagi para konsumen, khususnya di negara berkembang. Akan tetapi dampaknya pada kaum pemodal sukar diprediksi. Apalagi kalau Cina semakin memasuki teknologi tinggi seperti pesawat terbang komersial dan lainnya.

“Namun perkembangan ekonomi Cina, khususnya industri, mengakibatkan keperluan energi yang jauh lebih banyak. Cina makin berkepentingan dengan suplai minyak dari seluruh dunia mengingat besarnya volume yang diperlukan. Hal ini akan terus terjadi secara meningkat hingga pertengahan abad ke 21. Untuk itu sudah tampak usaha Cina mendekati pensuplai minyak di seluruh dunia,” ungkapnya.

Sayidiman Suryohadiprojo juga menjelaskan, besarnya cadangan valuta asing yang diperoleh dari perdagangan internasional, memungkinkan Cina datang ke mana-mana sebagai investor atau pendukung. “Cadangan valuta asing sebesar AS $ 825,6 milyar pada tahun 2005 hanya dikalahkan Jepang. Sebab itu Cina bergerak aktif ke segala penjuru dunia untuk menjamin suplai minyaknya. Termasuk ke Amerika Latin yang para pemimpinnya makin memusuhi AS,” imbuhnya.

Dengan begitu, lanjut Sayidiman, Cina memasuki kepentingan AS yang sebenarnya sudah dilakukan sejak abad ke-19. Ketegangan AS dan Cina makin kuat, menuyusul Cina kini semakin intim membangun hubungan dengan pensuplai minyak, seperti Nigeria dan Sudan. “Dilihat dari sudut itu, sukar diprediksi apa yang dilakukan Cina kalau AS menyerang Iran, karena Cina amat berkepentingan dengan suplai minyak yang berasal dari Iran,” terangnya. (Red-01/emka)

Komentar