Kreatifitas

Cerita Lain Tentang Lovaria – Kisah Nanda Dyani Amilla

Dimitra Milan Tutt' Art | via Visually Perfect
Dimitra Milan Tutt' Art | via Visually Perfect

NUSANTARANEWS.COItu benar-benar wajah Lovaria. Wajah itu bersinar suram, seperti seekor burung hantu terjaga di gelap malam. Wajah itu tampak marah dan bengis. Aku tak pernah paham mengapa tiba-tiba aku bisa ada di sini, di rumah ini. Rumah yang sangat besar namun tidak dengan penerangan yang baik. Ada beberapa peti mati di sini. Lampu yang meremang, juga lilin-lilin putih yang bergoyang ditiup angin, menambah atmosfer mencekam dalam rumah tua ini. Bahkan aku baru saja melihat kereta jenazah melintas di halaman depan. Seperti akan ada tamu baru untuk peti-peti kosong di dalam rumah itu. Sungguh! Bahkan, peti-peti itu terbuka dengan sendirinya, seolah-olah siap memakan jenazah berikutnya untuk rebah di dalamnya. Rumah besar ini semakin mencekam, ketika aku mendengar suara lolongan yang menyayat hati. Suara itu? Suara itu..Ya, suara itu berasal dari mulut Lovaria.

Aku tersentak kaget, terbangun dari tidurku. Billy menggebrak mejaku dengan keras, “Sial! Bikin kaget saja,” omelku ketika kulihat dia tertawa puas setelah berhasil membuatku terbangun. “Hey, dengar! Aku terganggu oleh dengkuranmu, lagipula ini masih les pertama. Bisa-bisanya kau tertidur pulas,” dia balas mengomeliku. Aku mengabaikannya, tiba-tiba aku tertarik untuk menoleh ke belakang. Tepatnya ke arah tempat duduk Lovaria, gadis yang menjadi objek dalam mimpiku tadi.  Kulihat gadis berwajah pucat itu sedang memperhatikan Minny dengan tatapan yang membuatku bergidik. Kenapa dia? Bisikku lirih. Sesekali sudut bibirnya tertarik, dia tersenyum penuh misteri. Aku kembali menatap depan dengan perasaan yang sulit kugambarkan.

Aku tak pernah mengerti mengapa aku begitu tertarik dengan sosoknya yang misterius. Penampilannya aneh, mengenakan jaket hitam panjang seperti jubah. Tatapan matanya tajam dan terasa dingin, wajahnya sedikit pucat, rambut ikalnya acak-acakan, dan ada goresan luka di bawah matanya. Dia adalah Lovaria, murid baru di kelasku. Semenjak kehadirannya di sini, aku bisa merasakan atmosfer ruangan kelas yang terasa aneh bagiku. Gadis berwajah tirus itu duduk di bangku belakang paling sudut. Dia duduk seorang diri, lebih sering diam dan memperhatikan teman-teman lain dari tempat duduknya dengan tatapan sedingin es. Entah mengapa, firasatku selalu buruk ketika aku berpapasan dengannya atau ketika secara tidak sengaja tatapan mata kami beradu.

Aku berusaha berkonsentrasi, beberapa kali mencoba membaca, melihat sisi lain dalam dirinya, namun tak pernah berhasil. Ini semua membuatku bingung. Tak biasanya daya analitik ini sulit kukendalikan. Sedikit kuberitahu, aku adalah seorang anak indigo. Aku mempunyai kemampuan meramalkan kejadian yang akan datang atau yang sering disebut dengan Prekognision. Beberapa murid di sekolah ini mempercayai kelebihanku, namun tak sedikit juga yang meragukannya. Aku tak pernah ambil pusing soal mereka yang mengataiku, bilang kalau aku hanya membual. Bagiku, ini adalah satu anugerah dari Tuhan. Kelebihan yang tidak semua orang punya. Beberapa dari mereka yang percaya adalah mereka yang selamat dari kejadian yang sebelumnya telah kuprediksi, aku bahkan menyarankan kepada mereka untuk lebih hati-hati. Dan mereka menuruti nasihatku.

Kembali pada Lovaria. Aku sering menceritakan keganjilan-keganjilan yang kulihat dari sudut pandangku tentangnya kepada Billy, teman sebangku sekaligus kekasihku itu, seperti siang ini. Namun, tanggapan yang kudapat dari Billy mendadak membuat kepalaku berdenyut. “Grace, apa kau iri padanya? Dengan sosoknya? Atau dengan tingkahnya yang selalu tertutup dan misterius itu?” ucap Billy di sela tawanya. Dia menertawakanku. Aku mendengus sebal, “C’mon, Billy! Aku sama sekali tidak iri padanya, sedikit pun! Aku hanya merasakan aura yang aneh setiap kali aku melihatnya. Kita harus hati-hati padanya!” aku menatap Billy serius. Tapi Billy malah menarik hidungku, menganggap aku hanya bercanda menasihatinya.

Kami melanjutkan langkah menuju kelas. Perasaanku tiba-tiba berubah menjadi tidak enak, aku seperti mendengar sebuah bisikan-bisikan yang terdengar samar di telingaku. Aku mengerjapkan mataku beberapa kali, tiba-tiba sebuah slide hinggap di otakku. Terputar begitu cepat, secepat kilat. Aku merasa akan ada seorang gadis dengan kepala berlumuran darah di depan kelasku, tapi aku tidak tahu siapa. Aku tersadar ketika mendengar Billy meneriakiku, aku sudah tertinggal jauh di belakang. Aku berlari menghampirinya secepat yang aku bisa, lebih kepada sekarang teriakannya terdengar begitu histeris di  telingaku. Juga diikuti  teriakan histeris beberapa anak perempuan yang ada di sekitar kelasku. Seketika langkahku terhenti ketika kulihat pot bunga dari bahan tanah liat yang biasanya tergantung di atas kelasku itu, sudah pecah berserakan di lantai. Aku tersentak begitu melihat seorang gadis berjepit biru tergeletak  tak sadarkan diri tepat disebelah pot yang sudah berkeping-keping itu.

Seolah tak percaya dengan apa yang kulihat. Gadis itu adalah Minny. Kepalanya berlumuran darah segar akibat tertimpa pot bunga itu saat dia melintas di bawah bingkai pintu kelas kami. Kulihat Billy sudah menutup mulutnya dengan kedua tangan. Beberapa siswa laki-laki sudah membopong tubuh Minny untuk dibawa ke rumah sakit. Semua penghuni kelas sudah menghambur keluar, ingin melihat kejadian yang telah menggemparkan satu sekolah. Hanya ada satu murid yang kulihat masih berdiam di tempat duduknya. Lovaria. Ya, gadis berwajah pucat itu duduk diam di sana. Kulihat dia tersenyum sinis ke arah pot bunga yang berserakan itu. Saat itu juga aku menyadari, bahwa dia bukan manusia biasa.

Esoknya kudengar berita duka dari Kepala Sekolah. Kami, warga kelas XII IPS 3 menunduk dalam saat apel pagi itu dilaksanakan. Beberapa dari kami bahkan ada yang menangis sesenggukan. Ya, insiden semalam telah merenggut nyawa teman sekaligus kami, Minny. Aku melirik beberapa teman yang saling bantu menghapus air mata. Sementara itu kulihat wajah Lovaria tidak menampakkan kesedihan apa pun. Dan astaga! Dia tersenyum. Senyum itu hanya tipis, namun aku bisa melihatnya dengan jelas. Lapangan saat itu begitu hening, Kepala Sekolah masih menyampaikan belasungkawa atas kepergian Minny. Aku begitu muak dengan sikap Lovaria. Kedatangannya telah membuat kami kehilangan teman yang paling kami sayangi. Aku menatapnya tajam, lalu tiba-tiba mata itu juga turut menatapku. Aku terkesiap, kelopak mata itu memang terbuka lebar, namun dua mata itu tak bergerak sedikit pun. Warnanya yang kelam dan tatapannya yang sedingin es membuatnya terlihat sangat mengerikan. Aku mengalihkan pandangan ketika Billy menyikutku pelan.

“Siang ini kau akan datang, kan?” tanyanya pelan. Kami masih tetap dalam barisan, posisi istirahat di tempat. “Datang? Kemana?” aku balik bertanya. “Kau lupa? Yang benar saja. Siang ini ada pertandingan basket dengan SMA Violence. Kau sudah berjanji akan datang melihatku,” Billy mengingatkan. Aku baru ingat, lantas mengangguk paham. Ya, tentu saja aku akan datang. Lima menit kemudian, barisan dibubarkan. Billy menggandeng tanganku untuk segera menuju kelas. Lagi-lagi tatapan mata kami beradu. Lovaria melirik genggaman tangan Billy di tanganku, lalu menatapku dengan pandang tak suka. Aku mengartikan pandangannya sebagai pertanda buruk.

Tepat pukul dua siang, aku sudah berada di dalam stadion basket. Suasana sudah ramai sejak tadi. Pertandingan baru akan dimulai sekitar sepuluh menit lagi. Kulihat Billy mengenakan kaos basket berwarna biru tua berlari ke arahku, melambaikan tangan. Tampaknya dia senang melihatku datang untuk menonton pertandingannya. “Duduk yang manis, ya. Dan kau akan melihat Kapten tim basket paling tampan ini akan mencetak skor,” dia bergaya seolah-olah sedang menembakkan bola ke ring. Aku tergelak melihat tingkahnya. Dia kembali ke tengah ketika Pak Ed, pelatih tim basket sekolah kami memanggilnya untuk bergabung. Aku menyapu pandangan ke seluruh tribun penonton. Mataku terbelalak saat melihat sosok misterius itu duduk di pojokan sana. Lovaria! Minuman yang kupegang jatuh ke lantai. Seluruh pikiranku mulai bekerja. Firasat yang tidak enak tiba-tiba menyergapku. Tanganku perlahan mendingin. Apa yang dia lakukan disini? Aku masih menatapnya, tubuhnya seolah mengeluarkan aura berbahaya yang dengan cepat memenuhi stadion basket ini.

Pertandingan sudah berjalan lima belas menit yang lalu. Billy dan timnya sudah gesit saling lempar dan membagi bola, lantas melempar bola ke dalam ring basket. Riuh suara penonton terdengar ketika bola masuk dengan mudahnya ke ring lawan. Tiba-tiba bisikan samar itu terdengar lagi. Slide yang sama seperti kemarin saat kejadian tragis yang menimpa Minny terputar kembali di otakku. Sama persis, masih ada darah, jeritan, orang yang tergeletak, juga tangisan. Hanya saja satu yang membuat beda, kali ini bayangan orang yang tergeletak itu adalah seorang laki-laki muda. Aku tersentak. Oh Tuhan, tidak! Aku menatap ke arah Lovaria, dia sudah menatapku lebih dulu dengan sebuah senyuman yang membuatku menggigil. Aku ingin menjerit, namun pita suaraku seakan tercekat sesuatu. Aku sungguh ingin menyelamatkan laki-laki muda yang tak lain adalah kekasihku.

Sebentar lagi, semuanya akan berakhir. Benar saja, kulihat seorang laki-laki muda dengan kostum biru tua berlari membawa bola ke arah ring lawan. Dia begitu semangat sambil terus memantul-mantulkan bola. Hanya tinggal tiga langkah lagi dia berada di bawah ring itu. Dia sudah bersiap-siap untuk melompat. Berniat memasukkan bola itu dengan sekali lompatan. Dan.. dia melompat. Lompatan yang cukup baik. Bola itu berhasil masuk dengan mulus ke dalam ring. Lantas dia melompat turun setelah agak lama menggantung di ring itu. Dia tertawa senang, hingga tiba-tiba sesuatu yang tak terduga terjadi. Ring basket yang tampaknya masih kokoh itu, tiba-tiba jatuh kebawah menghantam kepalanya. Anak laki-laki muda itu seketika terjerembab ke lantai. Penonton berteriak histeris. Teman-teman satu timnya sudah berlari mengejarnya. Pun pelatihnya. “Billyyy…” teriakku tak kalah histeris.

Aku berlari turun dari tribun penonton. Kusibak kerumunan itu, hatiku terasa nyeri. Darah segar mengalir deras dari kepalanya. Wajahnya yang putih kini merah tersiram darah. Darah segar itu juga ikut membanjiri lantai. Deras, sederas air kran yang bocor di sana-sini. Kulihat napas Billy memendek, menghirup udara dengan susah-payah. Detik berikutnya, dia kaku, tak bergerak sama sekali. Aku menjerit keras. Kudengar suara tawa cekikikan dari atas tribun sana. Anehnya, hanya aku yang mendengarnya.

Aku menoleh ke atas sana, tempat dimana Lovaria berada. “Senang bisa mengenalmu, Indigo berhati malaikat!” desisnya tajam. “Kk.. Kau?” aku tergagap, air mataku menetes. “Apa kau tak sadar? Telah begitu banyak orang yang ingin kuhabisi, tapi kau selalu menghalanginya. Dan itu, itu adalah balasan terpantas untukmu,” Lovaria menunjuk mayat Billy. Aku sudah jatuh bersimpuh, menangis sejadi-jadinya. “Aku sudah tahu bahwa kau bukan manusia normal! Kau telah salah menggunakan kelebihanmu itu! Kau hanya anak indigo hitam, Lovaria!!” Dia tertawa puas memandangku. Sesekali melirik mayat Billy yang kini sudah dibawa menggunakan tandu. Tubuhku tiba-tiba melemah, kepalaku berat sekali, kakiku serasa tak mampu menopang berat tubuhku. Dan tiba-tiba dingin yang amat sangat menyerangku. Aku kedinginan, dingin, dingin sekali. Aku terjerembab ke lantai. Mulai kehilangan kesadaran.

Nanda Dyani Amilla

Nanda Dyani Amilla

 

Nanda Dyani Amilla memiliki nama pena Gadis Hujan. Kini tercatat sebagai mahasiswa aktif Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP UMSU. Novelnya yang sudah terbit, “Kejebak Friendzone” (Bentang Pustaka, 2017)

__________________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi (berdonasi*) karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resinsi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: [email protected] atau [email protected]

Komentar

To Top