Connect
To Top

Catatan Pinggiran Kongres, Jelang Suksesi PMIII Ke-XIX

NUSANTARANEWS.CO – Setiap momentum suksesi kepemimpinan kerap menguras energi, pikiran, fisik dan tentu tentang angka intrinsik dalam satuan mata uang. Konsolidasi melebur jadi satu dalam ambisi atau cita-cita. Beda-beda tipis, tapi hal itu apakah kehendak dari alam bawah sadar atau ruang kesadaran untuk bergerak ke arah lebih baik?

Tanggal 2 Mei 2017 mendatang, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) akan memiliki gawe besar yakni Kongres PMII ke-XIX yang akan digelar di kota Palu, Sulawesi Tengah. Tentu momentum ini sangat ditunggu-tunggu oleh setiap kader warga pergerakan rumah PMII. Pertanyaannya, siapa the next estafet pemegang pucuk pimpinan organisasi mahasiswa terbesar di Indonesia ini nantinya?

Layaknya cendawan yang tumbuh di musim hujan. Laron-laron akan muncul berterbangan. Estafet pergantian kepemimpinan di top leader nasional menjadi pusat perhatian dan objek pergunjingan diseluruh penjuru Nusantara. Dari level Rayon hingga Pengurus Besar.

Masing-masing akan bersaing memunculkan diri dalam perebutan suksesi kepemimpinan ini. Tentu bukan menjadi permasalahan  bagi setiap person kader atau hanya sekedar eksistensi akan diri untuk mewakili ego kewilayahan. Berbagai gaya dan cara ditempuh, loby, diplomasi dan tentunya silahturahim dilakukan. Ini merupakan bagian dari aplikasi materi kaderisasi, teknik lobying dan propaganda.

Dalam momentum ini, kita terjebak pada rutinitas yang dapat dikatakan telah mengkultus dalam alam bawah sadar kader pergerakan dari kongres ke kongres. Akumulasi konsolidasi bisa menciptakan dampak kejut menggerakkan masa untuk suksesi figur.

Sedikit meminjam teori Foucoult atau Habermas, ini seperti halnya relasi pengetahuan yang bersanding dengan  penguasaan media informasi dan jaringan akan memperkuat nalar kuasa. Menggerakkan masa yang domain nalar logikanya berada pada kelas pemikir intelektual yang telah didoktrinasi tentu akan gampang mempengaruhi pilihan masa atau kader. Tinggal siapa yang bisa mengerakan nalar logika masa tersebut.

Gradasi Nalar Pengetahuan

Berlomba-lomba mencalonkan diri sebagai penerus estafet kepemimpinan, ada ruang yang dipertaruhkan seperti yang diungkap sebelumnya. Hemat penulis, dalam momentum kongres dan suksesi kepimpinan 3 periode terakhir telah meninggalkan lubang celah, antara nalar untuk berkuasa dan nalar berpengetahuan. Dengan kata lain, tengah terjadi gradasi nalar untuk berpengetahuan.

Warga pergerakan tentu digerakan dengan pengetahuan yang menjadi visi organisasi pergerakan. Dengan meninggalkan tradisi nalar pengetahuan tentu akan menciderai ruang mahasiswa sebagai avan garde kelas intelektual.

Bersaing menjadi pemimpin tanpa persiapan khusus terutama dalam amunisi pengetahuan akan membuat pincang saka guru organisasi pergerakan yang dicintai. Bukan sekedar eksistensi pada wilayah res privatika tentang keegoan diri atau komununal tapi harus cenderung pada wilayah res republika kemaslahatan organisasi pergerakan secara umum.

Hal yang kerap diabaikan dalam dalam momentum kongres adalah terkait masihkah ada yang berwatak waras? Atau sebaliknya membiarkan energi ini terkuras habis hanya demi mengedepankan intrik suksesi kepemimpinan an sich?

Sebagai kader pergerakan, tentu jangan terpatron hanya pada suksesi kepemimpinan semata. Tapi ada pekerjaan besar yang dalam beberapa momentum kongres terlupakan dari perhatian kader pergerakan.

Rule Of Game Itu Bernama AD/ART

Organisasi tentu ada rule of game, tanpa itu akan terjadi choas atau mobokrasi. Rule of game dan ruh pergerakan berbicara pada peletakan konsepsi visi ke depan tentang tantangan dan dinamika situasi saat ini. Mulai dalam ranah global hingga nasional yang akan memberikan cara pandang kita berpijak dan bersikap. Semata-mata untuk kepentingan dan pengembangan organisasi. Hal yang tak kalah penting adalah pengembangan sumberdaya manusianya yang menjadi instrumen human investmen Nasional dalam penguasaan leading sektor.

Penguatan rule of game organiasi yaitu pada peletakan dasar konstitusi yang bepedoman pada spirit pergerakan ini lahir. Yakni AD/ART (Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga) menjadi pintu untuk menata organisasi pergerakan secara sistematis dan tidak tumpang tindih antar sektor.

Perlu ada kajian  konstitusi kelembagaan pergerakan di tubuh PMII secara mendalam yang akan menjadi konsepsi pokok pembahasan. Diskursus ruh organisasi dan spirit pergerkan ini tentu akan berbicara pada wilayah ruang dasar berpengetahuan yaitu Paradigma, Nilai Dasar Pergerakan (NDP) dan Sistem Kaderisasi.

Tiga elemen ruh organisasi pergerakan tersebut bagi penulis masih banyak ketimpangan  secara aspek pengetahuan. Tampaknya kita butuh belajar kepada Jujun Soemantri dalam mensistematiskan nalar logika untuk bergerak. NDP yang dari lahir hingga sekarang belum ada formulasi baru yang sesuai dengan tuntutan zaman tanpa meninggalkan aspek identitasnya sebagai kader pergerakan aswaja.

Sistem kaderisasi dari periode ke periode kurang lebih 3 hingga 4 periode terakhir seperti mengulang-ulang istilah yang digeser sana sini tanpa mengetahui makna filosofi dan hakekat materi yang ada dan yang dibutuhkan. Ini bukan sistem bongkar pasang bos.

Untuk itu, menelaah sistem kaderisasi harus berbicara dasar peletak sistem kaderisasinya yang dirunut dari mendekontruksi atau mengkontruksi atau mendaur ulang paradigma pergerakan.

Jika ada manusia-manusia yang berkeinginan untuk mengambil tongkat estafet kepemimpinan nasional rumah pergerakan ini sesuai hemat penulis harus ada ide dan nalar intlektual yang perlu di sandingkan dengan gagasan apa yang dibawa dan usung untuk menyusun rule of game (AD/ART dan Ruh Pergerakan) khususnya tentang Paradigma, NDP dan Sistem Kaderisasi. Selain pemimpin itu bisa menggerakkan dan menyokong roda rumah pergerakan yang kita cintai. Bukan sekedar pepesan kosong yang berlomba-lomba hanya bermodal eksistensi ego dan lebih parah primordial kelompoknya.

Berpikirlah dengan bijak selagi kamu masih waras sebagai warga pergerakan. Berkaryalah dalam nalar pengetahuan maka kamu ada. Dengan berpedoman pada ruang habitus indentitas kebudayaan dan pengetahuan.

Penulis; Bambang Tri Anggono, Ketua Badan Pekerja Kongres PB PMII.

Komentar