Berita Utama

Catatan Hari Perdamaian Dunia: Sebuah Narasi ‘Picik’ Era Modern

dimana perdamaian itu bermukim? Ilustrasi
dimana perdamaian itu bermukim? Ilustrasi

Oleh: M. Romandhon MK*

Tepat 21 Oktober, dunia internasional tengah memperingati Hari Perdamaian Dunia (World Peace Day). Sebuah momentum untuk menciptakan tatanan kehidupan dunia baru yang penuh kedamaian. Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mengklaim sebagai poros tengah antar bangsa  terus mendengungkan semangat perdamian ke seluruh penjuru negara. Sungguh! Suatu cita-cita yang agung.

Namun kenyataannya, sejak diperingati pertama kali tahun 1982, cita-cita perdamaian yang menjadi misi bersama itu seakan menjelma ilusi dari narasi dunia yang ‘picik’. Semangat perdamaian yang agung tersebut nyatanya tak sepenuhnya diperoleh oleh seluruh masyarakat dunia.

Rentetan peristiwa kekerasan terus mewarnai bingkai peradaban umat manusia hingga kini. Perang Suriah, teror pengeboman di Palestina hingga kerusuhan di daratan Turki akhir-akhir ini menjadi sinyal betapa perdamaian tak ubanya sebuah cerita kamuflase.

Dalam kasus konflik di Aleppo yang masih memanas sampai detik ini, mengindikasikan bahwa cita-cita perdamaian yang seutuhnya adalah ilusi. Siapapun tak bisa menyangkal bagaimana hujan peluru dan bom terus mengiringi kehidupan warga Suriah setiap harinya.

Jutaan nyawa manusia yang tak bersalah pun melayang. Mereka menjadi tumbal kekejaman dan arogansi penguasa di abad modern. Begitu juga dengan kasus kudeta di Turki dan Thailand, semuanya adalah secuil dari rentetan kasus bahwa tatanan dunia yang penuh kedamaian  seakan sulit diwujudkan.

PBB yang konon menjadi poros tengah perdamaian dunia, nyatanya tak bergeming, bahkan tampak ‘diam’ menyaksikan semua itu terjadi. Terlepas apakah semua itu merupakan monopoli politik dunia, namun yang jelas, perdamaian tetaplah harga mati.

Peringatan Hari Perdamaian Dunia kali ini mestinya bisa menjadi momentum untuk bertabayyun sekaligus membangun kesadaran perdamaian. Tidak diperuntukan untuk masyarakat, melainkan wajib kepada para ‘penguasa’. Sehingga perdamaian dunia tak hanya menjadi pemanis dari narasi kejahatan dunia. Semoga!

*Penulis adalah pemerhati Culture Studies, alumni UIN Sunan Kalijaga, tinggal di DKI Jakarta.

Komentar

To Top