Artikel

Catatan Dari KTT G20 Brisbane: Membentuk Global Infrastructure Initiative

KTT G20 Brisbane
KTT G 20 Brisbane/Foto Reuters

NUSANTARANEWS.CO – KTT G20 di Brisbane, Australia 2014 lalu, yang berlangsung selama dua hari fokus membicarakan pertumbuhan ekonomi global. Perdana Menteri Australia, Tony Abbot, mengatakan forum G20 kali ini bisa fokus membicarakan penciptaan lapangan kerja, dan mengidentifikasi kecurangan pajak yang tertuang dalam Brisbane Action Plan, yang merupakan kelanjutan Saint Petersburg Development Outlook (Rusia, 2013), yang juga merupakan kelanjutan dari Seoul Development Consensus for Shared Growth (Korsel, 2010), yang berisi prioritas utama, inisiatif baru, dan komitmen berkelanjutan yang spesifik pada KTT Brisbane 2014

Hasil pertemuan G20 Brisbane salah satunya adalah menitikberatkan pembangunan pada sektor infrastruktur guna menopang pertumbuhan ekonomi global. Sebagai catatan, pembangunan infrastruktur juga merupakan komitmen WTO hasil paket Bali setelah mandeg lebih dari satu dekade sejak pertama kali organisasi itu didirikan pada tahun 1995.

Dengan pembangunan infrastruktur tersebut diharapkan pertumbuhan ekonomi dunia akan naik 2,1%. Perdana Menteri Australia, Tony Abbott mengemukakan ‘Brisbane Action Plan’. Di antara ragam strategi yang dirancang, adalah kelonggaran birokrasi sebagai salah satu yang dianjurkan guna merangsang pihak swasta berinvestasi di bidang infrastruktur. Berdasarkan laporan kemenkeu.go.id, berikut beberapa kesepakatan utama KTT G20 Brisbane:

Strategi pertumbuhan. Untuk menunjang target pertambahan pertumbuhan sebesar 2.1%, G20 membuat strategi pertumbuhan melalui area peningkatan investasi infrastruktur, perdagangan dan kompetisi, dan lapangan pekerjaan serta membuat kebijakan makroekonomi yang akomodatif untuk menunjang pembangunan dan pertumbuhan inklusif dan mengurangi kesenjangan dan kemiskinan.

Investasi infrastruktur. Para pemimpin G20 sepakat membentuk Global Infrastructure Initiative yang bertujuan sebagai jaringan dan tempat berbagi informasi dan pengalaman antara pemerintah, sektor swasta, bank pembangunan dan organisasi internasional. Pemimpin G20 juga menyadari (a) pentingnya memperbaiki iklim investasi domestik; (b) meningkatkan kualitas proses penyiapan dan prioritisasi proyek; (c) mengoptimalkan neraca bank pembangunan multilateral dan nasional agar dapat memberikan pinjaman lebih kepada negara berkembang dan miskin; dan(d) memfasilitasi keberadaan investor institusional atau swasta berpartisipasi dalam pendanaan investasi infrastruktur jangka panjang.

Ketenagakerjaan. Pemimpin G20 sepakat meningkatkan partisipasi tenaga kerja wanita dan pemuda melalui pelatihan, pendidikan, ataupun magang. Selain itu, juga sepakat mengimplementasikan perlindungan dan jaring pengaman sosial yang sesuai.

Ketahanan ekonomi global. Peningkatan ketahanan ekonomi global dan stabilitas sistim keuangan yang sangat penting terkait dengan pertumbuhan dan pembangunan. Reformasi sistim regulasi keuangan melalui (a) perbaikan sistim perbankan dan shadow banking; (b) sistim perpajakan internasional melalui Base Erosion and Profit Shifting (BEPS) dan pertukaran informasi perpajakan otomatis yang dapat meningkatkan penerimaan Negara; dan (c) memperkuat sistim perdagangan internasional yang transparan melalui peningkatan perjanjian bilateral, regional dan plurilateral.

Energi. Pemimpin G20 meminta agar setiap negara anggota rnelakukan efisiensi pengalokasian subsidi bahan bakar minyak sehingga dapat mengurangi konsumsi dan penghematan penggunaan energi.(Banyu)

Artikel Terkait:
Strategi Baru Cina Di Timur Tengah
Geopolitik Indonesia Di Mata Cina
Prediksi Ekonomi Indonesia Di Mata Dunia

Komentar

To Top