Berita Utama

Catatan Akhir 2016: Jalur Sutra Maritim China, TKA China dan Program Tol Laut Jokowi

Poros Maritim/Ilustrasi
Poros Maritim/Ilustrasi

NUSANTARANEWS.CO – Meski Presiden Cina  Xi Jinping telah mencanangkan The Silk Road Economic Belt and the 21st-century Maritime Silk Road dalam pidatonya di Gedung DPR RI pada 2013 lalu, tetapi dia seperti harus menanti tiga tahun untuk serius merangkul Indonesia guna memuluskan program ambisiusnya ini. Xi mengungkapkan rencana ambisius Cina untuk menciptakan koridor ekonomi skala global yang membentang lebih dari 60 negara. Dengan tujuan ingin membantu negara lain dengan membangun basis industri. Itu sebabnya mengapa, Cina memindahkan kegiatan produksinya ke luar negeri. Xi menyatakan bahwa di abad 21 tidak ada negara yang bisa tumbuh sendirian. Oleh karena itu, dalam 5 tahun ke depan, investasi Cina ke luar negeri akan mencapai US$ 1,25 triliun.

Dalam pandangan China, Indonesia memiliki posisi yang sangat strategis terutama dalam skema pembangunan Jalur Sutra Maritim Abad ke-21, baik secara geografi, demografi maupun geopolitik.

Seperti pernyataan Wakil Menteri Luar Negeri China He Yafei, Indonesia memiliki potensi besar dalam pertumbuhan ekonomi karena memiliki sumber daya alam yang melimpah. Indonesia bisa menjadi penghubung China dengan negara-negara Islam, sehingga Indonesia bisa memetik manfaat dari kerja sama dengan China. Untuk itulah, program Tol Laut yang dicanangkan presiden Joko Widodo sangat relevan dengan program Jalur Maritim Abad 21 China.

Bila Indonesia masuk mengikuti skema Jalur Sutra baru, maka Indonesia akan tergabung dengan jaringan produksi global. Otomatis akan membuka banyak kesempatan kerja dan peluang untuk meningkatkan standar hidup rakyat. He membantah kerjasama China-Indonesia ini akan merebut lapangan kerja rakyat Indonesia. Hanya saja, China sangat berkepentingan untuk  mengentaskan kemiskinan di negerinya. Salah satu cara yang harus ditempuh China adalah men-transmigrasi-kan bangsanya, termasuk pengusahanya ke luar negeri untuk diberdayakan.

Dalam skema Belt One Roadnya, China bukan hendak mendirikan Kampung China. Tapi mendirikan Mega City untuk rakyatnya di Jalur Sutra Baru, termasuk di Walini City, Jawa Barat. Bukan itu saja, menurut sumber terpercaya nusantaranews.co, bila Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Bitung jadi direalisasikan, maka China akan mempunyai wilayah “otonomi khusus” di Indonesia seluas seluas 534 hektare yang membentang dari Bitung sampai Minahasa Utara. Di mana China dengan mudah akan memindahkan bukan saja uang, tetapi aset, sumberdaya manusia dan pabrik-pabriknya ke Indonesia. Termasuk para konglomeratnya.

Analisis menarik tentang ambisi China datang dari akademisi Jepang Masako Kuranishi. Ia mengingatkan Indonesia agar berhati-hati terhadap gerakan China di Asia terutama di Indonesia. Kuranishi mengatakan bahwa Indonesia jangan sampai salah langkah bila tidak mau benua Nusantara menjadi berantakan diacak-acak oleh China. China sangat berbaik hati terhadap Indonesia belakangan ini, tentu mempunyai maksud. Oleh karena itu, bangsa Indonesia patut waspada. Bila tidak hati-hati, kemungkinan munculnya huru hara Anti China bisa menghantam warga Indonesia sendiri khususnya keturunan China.

Sinyalemen ini sudah mulai tampak. Isu tentang membanjirnya tenaga kerja China di Indonesia kini telah membuat sebagian masyarakat resah. Artinya, apa yang dikhawatirkan Kuranishi mulai terlihat, setidaknya di sepanjang tahun 2016. Lihat saja, bola panas isu TKA China hendak merampas lapangan pekerjaan di penjuru tanah air terus menggelinding liar. Sementara angka pengangguran di Indonesia sedikitnya masih tercatat sekita 28 juta orang. (Sego/Er/Ags)

Komentar

To Top