The elegant oil paintings of Sergei Marshennikov/Foto Istimewa
The elegant oil paintings of Sergei Marshennikov/Foto Istimewa

Cerpen: Nasrul M. Rizal

NUSANTARANEWS.CO – Ibuku mempunyai banyak nama; Lia, Liling, Lisa, Meli. Saat aku tanya yang mana nama aslinya, ibuku menjawab, “Suka-suka kamu saja.” Membingungkan bukan? Namun yang paling membingungkan ialah pekerjaannya. Wiraswasta bukan. Wirausaha bukan. Pegawai Negeri Sipil apalagi, tentu saja bukan. Entahlah aku pun heran, mengapa yang sering dilakukan ibuku disebut pekerjaan.

Ibu menyuruhku memanggilnya Mami.

Tidak banyak yang aku ketahui mengenai masa lalu Mami. Dia bilang tidak penting untukku. Tidak ada yang patut aku ketahui. Mami paling tidak suka ketika aku bertanya mengenai Ayah. Aku perlu tahu siapa laki-laki yang bertanggung jawab atas kelahiranku. Percuma. Semakin sering aku bertanya, semakin naik darah Mami. Ia marah.

Mami adalah wanita pekerja keras. Di saat orang-orang terlelap, Mami sedang sibuk-sibuknya bekerja. Mami bekerja di tempat yang bersih, megah, mewah, dan berbintang. Ya, Mami bekerja di hotel berbintang, aku tidak tahu persisnya bintang berapa. Dia dikenal banyak orang mulai dari pejabat hingga konglomerat, pemuda hingga lelaki paruh baya. Aku tahu semua itu dari Mami.

Aku kaget ketika Mami menawariku bekerja bersamanya. Tentu saja tanpa diminta dua kali aku langsung menolaknya. Bagaimana mungkin aku akan menerimanya, jika pekerjaan tersebut melayani lelaki hidung belang. Aku tidak sudi membiarkan tubuhku dinikmati lelaki tidak tahu diri. Dan aku tidak mau menjadi kupu-kupu malam seperti Mami. Yang berangkat saat malam semakin larut dan pulang ketika siang mulai menyambut.

“Kenapa Mami tega padaku?” Air mataku meleleh.

“Mami tidak punya pilihan lain,” lirih Mami.

“Aku tidak sudi menyerahkan kegadisanku! Aku tidak mau!” Aku lari ke kamar. Tenggelam dalam air mata. Aku sangat sakit hati. Wanita yang aku sayangi sepenuh hati, tega menyayat hatiku.

Mami terus mengetuk pintu kamar yang kukunci. Dia tidak berhenti membujukku.

Jawabanku tetap sama. Tidak Mau! Tidak Sudi!

Keesokan harinya Mami masuk ke kamarku. Aku lupa mengunci –kembali– pintu. Mami duduk di sampingku. Tanpa diminta Mami mulai bercerita.

“Waktu masih kecil, tidak ada di benak Mami sedikit pun akan hidup seperti ini. Mami dulu bercita-cita ingin menjadi dokter. Setiap hari Mami memainkan boneka. menganggap boneka itu sebagai pasien. Boneka beruang berperan sebagai suami, sedangkan boneka barbie sebagai istri. ‘Sabar Pak, istri bapak sebentar lagi sembuh. Saya sudah menyuntiknya,’ ucap Mami pada boneka beruang. Sewaktu masih dikepang dua, Mami pikir semua penyakit akan sembuh jika pasien sudah disuntik… ternyata tidak,” Mami tersenyum. “Dulu juga kamu seperti itu sayang. Sering berbicara dengan boneka,” lanjutnya.

Mami membelai rambutku. “Kakek dan nenek kamu merawat Mami dengan baik. Kami keluarga kecil yang bahagia.” Mami menghela napas panjang. “Sayang, kebahagiaan tersebut lenyap ketika Mami berusia belasan tahun.”

Mami menceritakan masa lalunya. Sesuatu yang ingin kuketahui sedari dulu. Yang selalu ditutupi serapat mungkin. Sekarang, tanpa kuminta, ia membeberkan semuanya. Dalam hati aku berdoa, “Semoga malam ini Mami tidak membujukku lagi untuk melakukan hal itu.”

“Tepatnya saat usia Mami 18 tahun, musibah itu terjadi. Pabrik sepatu, penghidupan keluarga satu-satunya, terbakar hingga tak tersisa. Mami tidak tahu persis apakah pabrik tersebut terbakar atau sengaja dibakar. Saat itu banyak yang iri pada kakekmu, Nak. Karena pabrik sepatu milik kakek berkembang sangat pesat. Setelah kejadian itu kehidupan kami berubah 180 derajat. Banyak orang yang mendatangi kami. Bukan, bukan untuk berbela sungkawa atas terbakarnya pabrik. Tapi mereka datang untuk menagih hutang.

“Bak sudah jatuh tertimpa tangga. Nenekmu sakit. Tubuhnya tidak kuat menahan beratnya beban yang menghantam pikirannya. Akibatnya satu persatu harta benda dijual untuk melunasi hutang dan mengobati nenekmu. Sayangnya semua itu tidak bisa menutupi hutang, apalagi menyembuhkan nenekmu. Kami terpaksa tinggal di kontrakan kecil.

“Di tengah kegamangan, ada seorang lelaki tua yang datang ke kontrakan. Dia menawari bantuan. Menjamin semua hutang kakekmu akan lunas. Nenekmu juga akan dirawat dengan baik. Tapi ada syaratnya.”

Mami diam sejenak.

“Apa syaratnya?” tanyaku.

“Lelaki tua itu meminta Mami.” Mami kembali diam. “Syarat itu ditolak oleh kakekmu. Dia tidak sudi menikahkan anak gadisnya dengan lelaki tua, yang lebih tua darinya. Lelaki tua itu marah. Ia berkata, ‘Suatu saat kau sendiri yang akan bersujud di kakiku supaya aku mengasihimu.’

“Beberapa hari setelah kakekmu menolak syarat si lelaki tua, keadaan semakin memburuk. Kakekmu dipukuli dan nenekmu semakin parah.”

Mami terisak. Air matanya tumpah.

“Mami tidak bisa melakukan apa-apa saat itu.”

Aku memeluk Mami.

Mami menatap mataku  yang tak kalah basah dengan matanya.

“Setelah berpikir cukup lama akhirnya Mami mengambil keputusan. Mami tidak mau diam terus,” Mami menghela napas panjang, “dan keputusan itu amat Mami sesali.”

Sambil menahan tangis, aku bertanya, “Keputusan apa Mi?”

“Mami mendatangi lelaki tua yang dulu datang ke kontrakan. Mami bersedia menikah dengannya. Asalkan semua hutang kakekmu lunas dan nenekmu dirawat dengan baik, seperti apa yang pernah ia katakan. Lelaki tua itu tersenyum penuh kemenangan. Dan dia mengajukan syarat lain, Mami harus bertemu dengan anaknya dulu. Mami menyetujuinya.”

Mendengar cerita Mami hatiku tersayat-sayat. Sungguh besar pengorbanannya.

“Mami keliru, Nak. Sangat keliru. Lelaki tua itu menjebak Mami. Bukan bertemu dengan anaknya, seperti yang ia katakan, Mami justru dibawa ke sebuah Villa. Di sana Mami dipaksa untuk melayani lelaki hidung belang. Mami sekuat tenaga melawan. Gagal. Mami menjerit sekeras mungkin. Sia-sia. Tragisnya, si lelaki tua malah merekam Mami yang menangis, karena kegadisan Mami direnggut paksa. Dia mengancam akan menyebarkannya kalau Mami mencoba melawan.”

Air mata membanjiri pipiku. Aku tidak kuasa membendungnya.

Sambil terisak, Mami melanjutkan ceritanya.

“Nenekmu meninggal tidak lama setelah Mami pergi. Kakekmu juga menyusul tidak lama setelahnya. Mami hancur Nak, benar-benar hancur.”

Aku memeluk erat Mami.

“Sejak saat itulah kehidupan Mami menjadi kelam. Mami jatuh ke jurang nestapa. Hina di dalamnya. Berkali-kali Mami mencoba untuk kabur. Berkali-kali pula Mami tertangkap. Hari berganti, lelaki yang datang pun silih berganti. Mami diperlakukan seperti binatang.” Mami berusaha mengatur napas. Berusaha membendung air matanya. “Dua bulan berlalu, Mami pun hamil, Nak. Entah lelaki mana yang menjadi penyebabnya. Celakanya Mami tetap harus melayani berahi lelaki bejat.”

Aku semakin erat memeluk Mami.

“Maafkan Mami, sayang. Maafkan Mami.” Mami menangis sejadinya. Ia tak henti mengucapkan maaf dan memelukku erat.

Tak ada sepatah kata pun yang bisa kuucapkan. Tidak terhitung berapa banyak air mata yang menetes dari mataku.

“Besok, sebelum matahari terbit, pergilah sejauh mungkin. Mami tidak mau kamu hidup seperti Mami.”

***

Aku menuruti perintah Mami, pergi ke luar kota. Tidak lama setelah aku pergi, kabar buruk menghampiriku. Mami dibunuh. Aku menumpahkan begitu banyak air mata. Rasa sesal menyelimuti dada. Kalau saja aku tahu lebih cepat duduk perkaranya, aku akan memaksa mami, lebih keras, supaya ikut bersamaku. Selama ini dia berusaha menyembunyikan aku.

Kata teman Mami, Mami terpaksa memintaku menjadi kupu-kupu malam. Dia diancam. Mucikari yang mempekerjakannya mengetahui kalau Mami mempunyai anak gadis. Dia menginginkan anak gadis itu. Tanpa pikir panjang, Mami menolak. Terus saja menolak. Tidak mau kalah, Mucikari itu memberi pilihan; menyerahkan aku atau dia akan membunuh aku. Awalnya Mami memilih untuk menyerahkan aku, tapi kemudian dia sadar, dia tidak mau mengambil keputusan yang salah untuk kedua kalinya. Tidak mau menyesali kembali keputusannya.

Sayangnya sejauh apa pun pergi. Sehebat apa pun bersembunyi. Mucikari itu menemukan aku. Ketika aku mengunjungi makam Mami, tiba-tiba tiga orang lelaki meringkusku –seakan mereka sudah lama menunggu kedatanganku. Aku berusaha memberontak. Sekuat tenaga melawan mereka. Namun, tenagaku kalah kuat. Aku berusaha untuk bersuara. Menjerit. Namun, suaraku tidak bisa didengar. Mereka menutup kepalaku dengan kain hitam. Gelap. Semuanya menjadi gelap. Aku tidak sadarkan diri.

“Selamat malam sayang. Sungguh saat-saat yang sangat menyenangkan.” Terdengar samar suara seorang laki-laki.

Aku mencoba memperbaiki penglihatanku. Kepalaku sangat berat. Pusing. Belum sempurna mataku terbuka, aku terperanjat. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi. Kenapa aku ada di sini? Siapa lelaki itu? Apa yang telah dia lakukan padaku? Saat bergerak, selangkanganku nyeri. Air mata keluar begitu saja dari kelopak mataku. Aku ada di sebuah kamar. Hanya sehelai selimut saja yang membungkus tubuhku. Malam itu kesucianku ternodai. Kegadisanku direnggut paksa.

“Kamu mau mengulanginya lagi sayang?” Lelaki itu mendekatiku.

Aku menolak. Sekuat tenaga aku menutupi tubuhku dengan selimut. Percuma. Lelaki itu berhasil menarik selimut. Menikmati tubuhku lagi. Dia tidak peduli aku merintih. Pura-pura tidak mendengar jeritanku. Malam itu aku menangis walau air mataku telah habis.

***

Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Peribahasa itu sangat cocok untukku. Selain perawakanku yang mirip dengan ibuku, ternyata nasibku pun tidak jauh berbeda. Aku jatuh pada jurang nestapa. Hina di dalamnya.

Tidak ada perempuan yang menginginkan hidup sebagai kupu-kupu malam. Bahkan  kupu-kupu paling indah sekalipun. Tidak ada perempuan yang senang hati melakukan pekerjaan kotor, meski bekerja di tempat yang bersih. Tidak ada perempuan yang tersenyum tulus meladeni lelaki bajingan. Yang ada hanyalah sekumpulan orang yang dihimpit keadaan. Mengharap belas kasihan. Memohon bantuan supaya lepas dari jerat nestapa kehinaan.

Inilah aku, buah yang jatuh. Jatuh tidak jauh dari pohonnya. Semoga kalian tidak bertemu denganku. Apalagi menjadi tamuku. Ketahuilah aku tidak ingin terus hidup seperti ini, tidak mau mati dalam keadaan hina. Tolong buanglah buah ini. Jauhkan dari pohonnya. Aku ingin menjadi buah yang jatuh jauh dari pohon.

Bandung, 7 November 2016.

Nasrul M. Rizal, lahir pada tanggal 27 Agustus 1995 di Garut. Mahasiswa tingkat akhir yang selalu berdoa semoga penderitaannya cepat berakhir. Jika kalian ingin membantu mengakhiri pendertiaannya silakan sapa ia melalui: [email protected]

__________________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resinsi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: [email protected] atau [email protected]

  • 69
    Shares

Komentar