Daily cartoon, 3 Juli 2016 - I Voted Brexit / Copyright Independent
Daily cartoon, 3 Juli 2016 - I Voted Brexit / Copyright Independent

NUSANTARANEWS.CO – Peristiwa bersejarah tercatat di Inggris pada Kamis (12/6/2016) lalu. Rakyat Inggris melaksanakan agenda referendum untuk menentukan apakah negaranya akan tetap berada di dalam Uni Eropa ataukah keluar.

Seperti ditulis nusantaranews.co, penghitungan akhir referendum menunjukkan bahwa 52% rakyat Inggris memilih keluar, sedangkan 48% menginginkan Inggris tetap berada di dalam Uni Eropa. catatan tersebut merujuk pada hasil perhitungan final kehendak rakyat Inggris yang selanjutnya dikenal dengan istilah Brexit.

Disebutkan pula bahwa, Brexit membuat Uni Eropa, bahkan dunia sontak kaget. Sebab, berbagai kosekuensi logis hasil referendum itu terhampar luas di depan mata di masa-masa mendatang bagi Inggris. Salah satu paling menonjol sebagai akibatnya ialah mundurnya David Cameron dari kursi perdana menteri.

Seperti diketahui, Cameron adalah sosok yang memimpin kampanye agar Inggris tetap berada di dalam Uni Eropa. Namun, hasil referendum justru berkata lain. (Baca : Kilas Dunia 2016: Britain Exit dan Theressa May)

Euforia akan hasil final kehendak rakyat Inggris yang dikenal dengan Brexit itu hingga saat ini terus menjadi perbincangan hangat di masyarakat Inggris. Hal ini dituturkan oleh aktris dan pembaca berita yang saat ini tengah menimba ilmu di Universitas Loughborough, Inggris, Marissa Anita.

“Sejauh ini Brexit selalu menjadi perbincangan orang Inggris,” ujar Marissa yang tengah menjalani pendidikan  pascasarjana jurusan Digital Media and Society Loughborough University, usai temu media film “Istirahatlah Kata-kata” di Jakarta, Senin (16/1/2017).

Baca juga :

Selain itu, Marissa juga menuturkan kondisi masyarakat Inggris menjelang pelantikan Donald Trump sebagai presiden Amerika Serikat.

“Banyak yang bilang Trump naik, rasisme naik, saya merasakan ada beberapa ketegangan, tapi malah bukan dari orang lokal Inggris,” kata Marissa yang mulai berkampus di Loughborough, Leicestershire, di East Midlands, Inggris, pada September lalu.

Menurutnya, orang lokal Inggris sangat sadar dengan adanya potensi serangan rasis. “Saya kan jelas-jelas Asia, ketika saya tersesat di salah satu pusat perbelanjaan, ada orang yang Inggris banget, kelihatannya dari working class, pakai anting, agak sangar, tapi dia bantu saya. They are very warm. Orang lokalnya kalau menurut saya sangat sadar bahwa mereka bisa sangat dianggap rasis, tapi mereka berupaya untuk tidak dianggap rasis,” Tuturnya.

Sebaliknya, Marissa melihat pendatang dari Eropa Timur justru lebih kasar. “Tapi, setelah saya tanya-tanya, orangnya memang lebih ‘bodo amat’, mungkin itu pembawaan mereka,” kata Marissa. (kiana)

Komentar