Kepala BPS Suhariyanto saat Konferensi Pers Pertumbuhan Ekonomi Kuartal III-2016 di kantor BPS, Jakarta, Senin (7/11/2016)/Foto Andika / Nusantaranews
Kepala BPS Suhariyanto saat Konferensi Pers Pertumbuhan Ekonomi Kuartal III-2016 di kantor BPS, Jakarta, Senin (7/11/2016)/Foto Andika / Nusantaranews

NUSANTARANEWS.CO – Badan Pusat Statistik (BPS) menyosialisasikan hasil Survei Kualitas Air (SKA) 2015 yang dilakukan untuk memperoleh gambaran rinci mengenai kualitas air serta perilaku hidup bersih dan sehat dari rumah tangga.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan banyak informasi penting yang bisa digali dari SKA 2015, salah satunya yakni tingkat kontaminasi bakteri pada sumber air minum dan air siap minum.

“BPS merekomendasikan agar SKA 2015, dapat direplikasikan di provinsi lain dan hasil SKA 2015 dapat dijadikan pedoman survei serupa di masa mendatang,” ujar Suhariyanto di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (22/11/2016).

SKA 2015 merupakan uji coba survei kualitas air minum pertama di Indonesia, dengan jumlah sampel sebanyak 940 rumah tangga di seluruh kabupaten/kota di Provinsi DI Yogyakarta.

DI Yogyakarta dipilih karena berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2015, merupakan provinsi yang mencapai angka 81 persen rumah tangganya memiliki akses terhadap air minum layak, lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata nasional 71 persen. DIY juga memiliki akses terhadap sanitasi layak 86,3 persen, lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata nasional 62,1 persen.

Akan tetapi, lanjut Suhariyanto, hasil pengujian sampel air minum pada SKA 2015 menunjukkan sumber air minum layak tidak selalu aman dari sisi mikrobiologi. Sekitar 67,1 persen rumah tangga memiliki air siap minum yang terkontaminasi bakteri E.coli.

Hasil SKA 2015 di DIY menunjukkan bahwa proporsi perkiraan rumah tangga dengan perkiraan rumah tangga dengan akses air minum aman sebesar 8,5 persen dan sanitasi yang memadai sebesar 45,5 persen.

Menurut Suhariyanto, yang perlu menjadi perhatian bersama adalah tingkat kontaminasi bakteri pada sumber air minum dan air siap minum rumah tangga lebih tinggi di daerah pedesaan, rumah tangga miskin, dan berpendidikan rendah.

“Dapat ditarik kesimpulan bahwa kemampuan masyarakat untuk mengakses air minum yang layak dan aman memiliki korelasi yang sangat erat dengan tingkat kemiskinan,” ujarnya. (Andika/Ant)

Komentar