NUSANTARANEWS.CO – Abas Alibasya, seorang pelukis abstrak Indonesia, lahir di Purwakarta, Jawa Barat, 11 Maret 1928. Wafat dalam usia 91 tahun di RS Fatmawati, Rabu 11 Mei 2016. Abas dikenal sebagai pelukis abstrak paling senior pada generasinya yang dimiliki dunia seni lukis Indonesia pasca Reformasi.

Abas adalah putra dari seorang pegawai pada jawatan pengairan, Hoesen Adimihardja asal Purwakarta. Abas gemar menggambar sejak ia bersekolah di sekolah Belanda, Holandsche Inlandsche School (HIS). Di kelas, nilai mata pelajaran menggambarnya cukup menonjol. Kegemerannya menggambar di HIS kelak menjadi bakat Abas yang sebenarnya. Di samping ia memang hidup dan dibesarkan dalam keluarga mapan.

Terbukti, ketika ia melanjutkan studinya di sekolah Sihan Gakho di zaman pejajahan Jepang, jiwa seninya kian berkembang. Namun, ia hanya senang dan tekun menggambar waktu itu. Ia sama sekali belum berpikir untuk menekuni dunia seni lukis.

Namun ketika bergabung dengan Keimin Bunka Sidhoso – sebuah lembaga kesenian bentukan pemerintah Jepang – di Bandung. Dalam lembaga ini, Abas yang berusia 15 tahun, ia bertemu dengan pelukis-pelukis yang kelak dikenal hebat seperti Barli Sasmitawinata Affandi, Hendar Gunawan, Sudjana Kerton, dan pelukis abstrak kawakan Affandi. Mereka ini yang banyak memberi pengaruh terhadap keputusan Abas mantap memasuki dunia seni lukis.

Lulus dari Sihan Gakho, ia melanjutkan studinya di BOPKRI. Bakat seninya pun terus meningkat. Kemudian ketika menjadi mahasiswa di Akademi Seni Rupa (ASRI) Yogyakarta, 1950-1956, Ia pun sekamin produktif dan mutu karya menjadi lebih berkarakter. Beberapa tahun kemudian, ia melanjutkan studi ke Belanda.

Sebagai sosok pelukis abstrak, dimana ia mengangkat tema-tema lingkungan seperti sisa-sisa Pasar Senen, topeng dan benda-benda etnik. Karya-karyanya itu banyak yang bersifat eksperimen. Karenanya ia menerima banyak pernghargaan prestesius, diantaranya hadiah seni lukis terbaik dalam Biennale I Seni Lukis Nasional, Dewan Kesenia Jakarta (DKJ) tahun 1974, penghargaan Lempad Prize dari Yayasan Lempad Bali, Penghargaan dari ISI Yogyakarta untuk pengabdian dalam dalam pendidikan seni.

Selanjutnya, tahun 1977, ia kembali diganjar sebuah penghargaan Cultural Award Scheme dari Pemerintah Australia. Selain itu Anugerah Seni berupa Satya Lencana Kebudayaan dari Pemerintah diberikan kepadanya. Tahun 1985 juga mendapat anugerahi seni dari pemerintah.

Selain terkenal dengan lukisan-lukisan abstraknya, Abas juga disebut sebagai sosok pejuang, pemikir, pendidik, dan organisatoris yang ulung. Hal ini dibuktikan dengan berbagai kiprahnya dalam mengabdi dalam dunia pendidikan.

Dalam dunia pendidikan, Abas pernah menjadi pamong di Taman Siswa Ibu Pawiyatan Yogyakarta, guru di SMA Stella Duce dan Padmanaba Yogyakarta. Ia juga tercatat sebagai Dosen IKIP Yogyakarta dan UGM Yogyakarta. Sedangkan jabatan-jabatan strategis yang ditempanya seperti Direktur ASRI (Yogyakarta), Direktur ASKI (Surakarta), Ketua Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia (Yogyakarta).

Di samping itu, ia juga pernah menjadi Sekretaris Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kepala Lembaga Musikologi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Inspektur Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Anggota Konsorsium Seni Ditjen Dikti, Anggota Badan Sensor Film, Anggota Dewan Film, dan Ketua Dewan Kesenian Yogyakarta.

Menunjukkan karya-karya lukisan abstraknya, Abas mengadakan pareman tunggal di Galeri Nasional (GNI) jakarta, 4-14 November 2010 dengan tema “Gema Waktu Lukisan-lukisan Abas”. Salah satu lukisan yang dipajang dalam pameran tunggal tersebut lukisan berjudul “Garuda” yang bertanda tahun 1969 berukuran 100 x 66 cm menggunakan cat minyak di atas kanvas.

Abas Alibasyah membuat tulisan menakjubkan sebagai pengantar bagi para pengunjung pameran tunggalnya di sebuah sudut ruangan dalam GNI. Ia menulis: “MEMAHAMI warna dari alam adalah kewajiban mata seniman. Menghayati atmosfir dari alam adalah tugas perasaan seniman. Apabila dua hal itu tumbuh bersamaan dalam kanvas, sebuah lukisan sudah dibilang lengkap.”

Ia menampilkan 67 lukisan karya yang dikalsifikasi menjadi tiga sub tema dan pengelompokan secara visual objeknya yaitu: pertama, arkeologi dan etnik; kedua, eksperimental seni batik; dan ketiga, pemandangan alam dan lingkungan. Semua lukisan yang dipamerkan dibuat sejak tahun 70-an sampai tahun 2010. Pameran tersebut dibuka secara resmi oleh Syakieb Sungkar, sang kolektor dan pecinta seni.

Dalam displai pameran ini, Abas mambagi menjadi tiga sub tema dan pengelompokan secara visual objeknya, yaitu: (1) arkeologi dan etnik, (2) eksperimental, serta (3) pemandangan alam dan lingkungan. Ketiga tema dengan visual karya-karyanya tersebut diciptakannya dalam satu kurun waktu.

Abbas Alibasyah pada tahun 1960-an sampai awal tahun 70-an termasuk pelukis yang telah melakukan pembaruan dengan melakukan abstraksi pada lukisannya. Bersama dengan beberapa pelopor Yogya yang lain, Abbas menyerap spirit modernisasi waktu itu dengan menerapkan pola dasar geometrik dalam mengabstraksi objek-objek. Di samping itu, ia terus berusaha menggali perbendaharaan visual tradisi dalam objek-objek lukisannya. Sehingga pada tahun 2012 dalam rangka Dies Natalis ke-28 Institut Seni Indonesia, Abas mendapatkan gelar Empu Ageng.

Memasuki usia yang ke-91 tahun, faktor itu membuatnya sakit dan pada tanggal 7 April 2016 ia masuk rumah sakit. Akhirnya, 11 Mei 2016, Abas Alibasyah sang maestro mengehembuskan nafas terakhirnya di RS Fatmawati dan dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan, Kamis, 12 Mie 2016.

“Selamat jalan, sang maestro. Karyamu abadi dalam dunia seni lukis tanah air”. (Selendang Sulaiman)

Komentar