Rafael Gomezbarros, Casa Tomada, 2014. Photo by David Levene/The Harrington

Puisi HM. Nasruddin Anshoriy Ch

BERGURU PADA SEMUT

Berguru pada semut
Jantungku kencang berdenyut
Tasbihku bergetar menghempas kabut

Inilah ilham bagi manusia
Yang diciptakan sempurna tapi malas bekerja
Dan enggan bersyukur karena merasa hebat adanya

Sejarah telah lama mendedah jiwa yang resah
Sejarah selalu mengajarkan makna yang megah

Sejak zaman Nabi Sulaiman merajai alam raya
Pasukan semut telah mengajarkan akhlak yang bijak
Saat berjumpa saling memberi salam
Saat bertemu selalu maaf memaafkan

Berguru pada semut
Aku hanyut menembus kabut
Betapa takjub merekam degub di puncak sujud

Berombongan semut itu mencari rezeki
Berombongan semut itu mengucap janji
Berombongan semut itu mengikrarkan diri untuk selalu peduli dan berbagi

Ketika rezeki ditumpahkan Tuhan dari langit tinggi
Hanya semut yang mengajarkan akhlak berbagi
Sebab harta yang hanya disimpan sendiri
Menjadi basi tiada arti

Ulurkan tangan kananmu pada nafas dahaga para tetangga
Tinggikan jemarimu agar berlaku mulia bagi sesama
Sedekahkan harta-bendamu pada fakir-miskin yang renta

Angkat tangan kananmu setinggi mega
Petiklah bunga-bunga surga dari harta-bendamu
Taburkan ke bumi agar harum semerbak
Menjadi berkah perjalanan hidupmu

Betapa bercahaya Sabda Nabi Muhammad yang mulia
“Sedekah itu membuat kita dekat
Sangat dekat
Dengan surga
Dengan Tuhan
Dengan sesama manusia”

Simaklah sabda yang berkilau menyinari dada
“Jagalah dirimu dari panas api neraka, walau hanya dengan sedekah sepotong kurma!”

Berguru pada semut
Aku malu saat ajal menjemput
Sedangkan diri ini masih kikir dan tetap pengecut

(Merayakan Milad Sedekah Rombongan ke 6, 2017 – Gus Nas Jogja)

Gus Nas
Gus Nas

*HM. Nasruddin Anshoriy Ch atau biasa dipanggil Gus Nas mulai menulis puisi sejak masih SMP pada tahun 1979. Tahun 1983, puisinya yang mengritik Orde Baru sempat membuat heboh Indonesia dan melibatkan Emha Ainun Nadjib, HB. Jassin, Mochtar Lubis, WS. Rendra dan Sapardi Djoko Damono menulis komentarnya di berbagai koran nasional. Tahun 1984 mendirikan Lingkaran Sastra Pesantren dan Teater Sakral di Pesantren Tebuireng, Jombang. Pada tahun itu pula tulisannya berupa puisi, esai dan kolom mulai menghiasi halaman berbagai koran dan majalah nasional, seperti Horison, Prisma, Kompas, Sinar Harapan dll.

Menulis sejumlah buku, antara lain berjudul Berjuang Dari Pinggir (LP3ES Jakarta), Kearifan Lingkungan Budaya Jawa (Obor Indonesia), Strategi Kebudayaan (Unibraw Press Malang), Bangsa Gagal (LKiS). Pernah menjadi peneliti sosial-budaya di LP3ES, P3M, dan peneliti lepas di LIPI. Menjadi konsultan manajemen. Menjadi Produser sejumlah film bersama Deddy Mizwar.

Biografi Lengkap: HM. Nasruddin Anshoriy Ch

__________________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi (berdonasi*) karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resensi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: [email protected] atau [email protected]

Komentar