Berebut Pipa Gas di Suriah

0
Kilang Minyak di Suriah/Foto via cnn/Nusantaranews
Kilang Minyak di Suriah/Foto via cnn/Nusantaranews

NUSANTARANEWS.CO – Sebelum bertemu dengan Presiden Cina di Florida, Donald Trump terlebih dahulu menggertak Xi Jinping. Gertakan Trump dilakukan secara tidak langsung. Dan gertakan serius Trump tidak diucapkan persis di depan mata Xi. Tapi, gertakan itu malah bermula di Suriah.

Pekan ini, Trump memerintahkan kapal perang AS yakni USS Porter dan USS Ross di Laut Mediterania Timur untuk melepaskan sedikitnya 50 rudal Tomahawk ke Pangkalan Udara Shayrat, Suriah. Dalihnya, bahwa pangkalan udara tersebut adalah asal muasal serangan senjata kimia yang dilancarkan Bashar Al-Assad yang menewaskan sedikitnya 70 orang di kota Khan Sheikhoun.

Dalih AS ini bisa ditepis dengan kenyataan bahwa telah terjadinya perebutan jalur pipa gas. Sebab, pada 2015 lalu Iran, Irak dan Suriah menyepakati perjanjian pembangunan jalur pipa gas dari Teluk Persia ke Laut Tengah untuk mencapai Eropa. Apa urgensi jalur pipa gas tersebut sampai-sampai AS mengeluarkan rudal mematikan?

Ini menarik untuk dicermati. AS berupaya keras membendung pengaruh Iran di Suriah. Pun Uni Eropa. Sehingga wajar kalau Kanselir Jerman Angelina Merkel membenarkan bahkan mendukung rudal AS meluncur ke Suriah.

Baik AS maupun Uni Eropa berkepentingan besar di Suriah khususnya. Kedua kubu tengah mencari pasokan gas murah dari Suriah. Sebab selama ini Eropa khususnya sudah lama bergantung pada pasokan gas dari Rusia. Dan harganya tak murah.

Untuk itu, AS dan Uni Eropa bersikeras Sunni di Suriah mampu memuluskan rencana jalur pipa gas Qatar-Saudi-Yordania-Suriah-Turki sehingga Eropa mendapatkan gas untuk mengurangi ketergantungan kepada Rusia. Dan Qatar, seperti diketahui tengah berencana membangun jalur pipa gas serupa melalui Arab Saudi, Yordania, Suriah, Turki dan daratan Eropa.

Kendala terbesar AS dan Uni Eropa adalah kedekatan Bashar Al-Assad dan Iran. Selain itu, koalisi Syiah Iran-Irak-Suriah, serta Hizbullah di Lebanon dan Yaman jelas telah mengepung Arab Saudi yang sejak lama bermitra dengan AS dan Uni Eropa.

Nah, intervensi AS dan Uni Eropa ke Suriah tentu saja tidak akan dibiarkan begitu saja oleh Rusia. Rusia pun lantas mengintervensi secara langsung ke Suriah agar jalur pipa gas bebas dari kuasa AS dan Uni Eropa. Pasalnya, bila jalur pipa gas tersebut dikuasai AS dan Uni Eropa, maka hal itu akan memukul telak perekonomian Rusia.

Singkat kata, konflik dan perang di Timur Tengah; termasuk Suriah sebetulnya bukan semata adanya senjata kimia belaka. Atau seperti yang digembar-gemborkan media selama ini bahwa di sana adanya konflik sektarian, melainkan perebutan cadangan minyak dan gas yang melimpah. Konflik tersebut melibatkan Rusia dan kroninya di Timur Tengah serta AS-Uni Eropa dan kroni-kroninya di Timur Tengah juga.

Lalu mengapa serangan rudal AS ke Suriah disebut menggertak Cina? Sejauh ini, meski tak begitu tampak, Cina sebetulnya sudah sejak lama mendukung koalisi Syiah Iran, Irak, Suriah dan Hizbullah di Yaman. Termasuk juga kerjasama antara Rusia-Cina, bahkan sudah terjalin sejak sekian lamanya.

Penulis: Eriec Dieda

Komentar