Nana Ernawati di acara Asian Festival of Children's Content, 17-21 Mei 2017, di Singapura (Ilustrasi). Foto: Dok. LSS Reboeng
Nana Ernawati di acara Asian Festival of Children's Content, 17-21 Mei 2017, di Singapura (Ilustrasi). Foto: Dok. LSS Reboeng

NUSANTARANEWS.CO, Yogyakarta – Ketua Lembaga Seni dan Sastra (LSS) Reboeng, Nana Ernawati menyatakan bahwa diskusi-diskusi seputar kesusastraan dan kepenulisan di Indonesia hampir sama sekali tidak membicarakan soal penyair perempuan, khususnya mereka yang muslimah.

“Padahal jumlah muslimah yang menulis puisi tidaklah sedikit. Hanya saja, acapkali proses kepenyairan mereka tersendat-sendat oleh kesibukan rumah tangga dan domestik,” ungkap penyair peremuan Indonesia sejak dekade 1980-an itu dalam keterangan tertulisnya yang diterima Nusantaranews.co, Sabtu, 8 Juli 2017.

Menurit Bunda Nana, begitu penyair muda memanggilnya, hal yang tak kalah memprihatinkan adalah seorang perempuan selain disibukkan oleh urusan rumah tangga, juga ikut mencari nafkah untuk menambah penghasilan keluarga, bahkan tugas mendidik anak-anak pun dibebankan kepada seorang perempuan.

“Kesibukan-kesibukan ini acapkali menenggelamkan perempuan penyair dari riuhnya diskusi kesusatraan kita, utamanya wacana soal muslimah yang menulis puisi. Bahkan tema-tema seputar perempuan juga tak sangat jarang didiskusikan,” katanya.

Sebagai seorang istri dan pendidik, lanjut Nana, perempuan sesungguhnya tak bisa melepaskan diri dari dunia sastra. Sastra, kata dia, memberikan banyak peluang bagi perempuan untuk bisa mengekspresikan diri.

“Melalui tulisan perempuan dapat menyampaikan gagasan dan ide terpendam yang selama ini tak tertuang ke ranah publik. Lewat puisi seorang perempuan dapat mengkomunikasikan semua perasaan, gagasan, dan idenya kepada pembaca,” tutur perempuan yang juga punya kepedulian besar terharap para penyair muda dan anak-anak itu.

Namun, kata Nana, menulis saja ternyata tak cukup. Perempuan butuh ruang di mana mereka dapat mempublikasikan karnyanya. “Kita kira media massa tidaklah cukup memadai untuk hal ini,” ujarnya.

Oleh sebab itu, sambung Nana, Lembaga Seni dan Sastra Reboeng mengambil inisiatif untuk membukukan puisi religi muslimah. “Gagasan dan ide para perempuan muslimah ini perlu dipublikasikan dengan baik,” ungkapnya.

Puisi Religi Muslimah “Berbagi Zikir” ini akan dihidangkan kepada publik dalam dua bentuk acara, yakni peluncuran buku untuk umum (gratis) dan diskusi buku Berbagi Zikir untuk undangan khusus.

Acara Diskusi Buku “Berbagi Zikir” akan digelar di Balai Bahasa Yogyakarta, Minggu, 09 Juli 2017 mulai pukul 09.30–12.00 WIB. Dalam diskusi ini, Katrin Bandel (Kritikus sastra, Dosen ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma Yogyakarta) dan Jamal D. Rahman (Penyair, Pemimpin Redaksi Jurnal Sajak, Dosen sastra UIN Syarif Hidayatullah Jakarta) akan mengupas buku yang berisi puisi-puisi religi dari 35 muslimah dari beberapa daerah di Indonesia.

Sementara acara Peluncuran Buku Berbagi Zikir akan dilangsungkan di Taman Budaya Yogyakarta, Minggu, 09 Juli 2017, pukul 19.30–22.00 WIB. Serangkaian acara Peluncuran antara lain pembacaan puisi oleh para penyair dalam buku Berbagi Zikir, pembacaan puisi oleh Sitoresmi Prabuningrat, musikalisasi puisi oleh Otok Bhima Sidharta dkk, dan Musik puisi oleh Ujug-Ujug Musik.

Pewarta/Editor: Achmad Sulaiman

Komentar