Seks

Berbagi Pekerjaan Rumah Diduga Dapat Meningkatkan Kuantitas Seks

Berbagi Pekerjaan Rumah Dimungkinkan Dapat Meningkatkan Kuantitas dan Kualitas Seks/Foto nusantaranews/ iStock by independent

Berbagi Pekerjaan Rumah Dimungkinkan Dapat Meningkatkan Kuantitas dan Kualitas Seks/Foto nusantaranews/ iStock by independent

NUSANTARANEWS.CO – Pasangan suami istri (heteroseksual) yang saling berbagi pekerjaan rumah tangga, dimungkinakan akan mendapatkan kuantitas dan kualitas seks lebih tinggi. Namun selama ini secara umum, pekerjaan rumah tangga lebih banyak dilakukan oleh perempuan dari pada pasangan pria.

Dari hasil penelitian, disebutkan dengan tegas, pasangan suami istri dengan membangun kerjasama dalam rumah tangga, akan memiliki lebih banyak waktu melakukan hubungan intim dari pada para pasangan yang terjebak dalam stereotip seksis, sebuah pandangan yang membagi pekerjaan berdasakan jenis kelamin atau gender.

Sebuah makalah yang direncanakan terbit di Journal of Marriage and Family pada edisi mendatang, menebutkan sebuah temuan menarik setelah menganalisis data penelitian terhadap kepuasan perkawinan di Amerika Serikat tahun 2006.

(Baca juga: Teruntuk Suami, Kenali Tanda-tanda Istri Sedang Ingin Bercinta)

Hasil analisa menemukan bahwa pasangan suami isti yang melakukan pekerjaan rumah tangga bersama-sama, rata-rata melakukan seks 6-8 kali setiap bulan. Sementara pekerjaan rumah tangga lebih banyak dilakukan oleh salah satu pasangan, hanya melakukan hubungan intim sebanyak 5 kali dalam sebulan. Dalam sebuah rumah tangga yang tidak merata pembagian kerjanya, hampir selalu pihak istri yang lebih banyak melakukannya dari pada suami.

Atas dasar itulah, peneliti mencoba mendefinisikan bahwa “rutinitas pekerjaan rumah tangga” sebagai: memasak dan mempersiapkan makanan, mencuci piring, membersihkan rumah, belanja bahan makanan dan mencuci pakaian atau pergi ke laundry. Mereka juga mendapat kesimpulan bahwa kuantitas hubungan intim pasutri tidak hanya ditentukan oleh pembagian pekerjaan rumah tangga yang merata, tetapi juga pada pekerjaan yang umumnya dilakukan perempuan seperti mamasak dan mencuci juga bisa dilakukan oleh pria sewaktu-waktu.

(Baca juga: 4 Tanda Khusus Anda Jodoh Dengan Pasangan Anda)

Temuan lain yang mencolok dari oenelitian tersebut yaitu, kendati sudah marak kampanye-kampanye kesetaraan gender, ternyata di Amerika Serikat masih banyak kaum perempuan yang melakukan sebagian besar pekerjaan rumah tangga. Setidaknya masih ada 63 persen dari pasangan suami istri, dimana pekerjaan rumah sebagian besar masih dilakukan pihak istri. Bahkan hal tersebut juga berlaku bagi para istri yang memiliki pekerjaan cukup padat di luar rumah.

“Pasangan suami istri masa kini yang  mematuhi sebuah divisi kerja yang lebih egaliter adalah satu-satunya pasangan yang mengalami peningkatan frekuensi seksual dibandingkan dengan rekan-rekan mereka dari masa lalu (pasangan yang terjebak dalam stereotip seksis-Red),” ujar seorang penulis artikel Profesor Sharon Sassler dari Cornell University sesuai hasil hasil temuannya.

(Baca juga: Nikmatnya Mengakhiri Sahur Dengan Jima’)

“Kelompok-kelompok lain – termasuk perempuan yang melakukan sebagian besar pekerjaan rumah tangga – telah mengalami penurunan frekuensi seksual. Temuan ini menjadi laporan sangat penting, yang mana telah menunjukkan bahwa frekuensi seksual umumnya menurun di seluruh dunia selama beberapa dekade terakhir,” tambahnya.

Sementara itu, Sejarawan Stephanie Coontz memberikan tanggapan terhadap pernyataan-pernyataan Profesor Sharon di atas. Menurut Stephanie hal tersebut merupakan cerminan dari pasangan heteroseksual yang mana sekarang mereka lebih “cenderung menyamakan kedudukan antara laki-laki dan perempuan.”

(Baca juga: Suami-Istri; Bercintalah di Bulan Ramadhan, Tapi Jangan di Siang Hari)

“Cinta yang digunakan harus dilihat sebagai daya tarik berlawanan, dan masing-masing pasangan dalam pernikahan khusus dalam satu set unik keterampilan, sumber daya, dan emosi yang, diyakini, jenis kelamin lainnya kekurangan. Hari ini, cinta didasarkan pada kepentingan bersama, kegiatan, dan emosi. Di mana perbedaan dulunya dasar keinginan, kesetaraan semakin menjadi erotis,” pungkas sang sejarawan. (MRH/Sel/SF/Independent)

(Baca artikel sebelumnya: Pengaruh Negatif Facebook Terhadap Hubungan Romantis)

Komentar

To Top