Ulang tahun Uni Eropa ke-60/Foto Ilustrasi: Il Tiro
Ulang tahun Uni Eropa ke-60/Foto Ilustrasi: Il Tiro

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Selamat ulang tahu, Uni Eropa! Uni Eropa genap berusia 60 tahun pada tanggal 25 Maret 2017 lalu. Dan di usianya yang ke-60 kini, Uni Eropa tengah menghadapi sejumlah masalah yang membuat organisasi itu mengalami paralysis, yaitu berkurangnya kemampuan untuk memproduksi nilai-nilainya sendiri, merumuskan visi peradaban di masa depan, serta kesulitan dalam menentukan langkah yang tepat di tengah kerumitan yang dihadapi oleh organisasi.
Di samping, Uni Eropa juga belum bebas dari berbagai kebijakan yang dilakukan terkait krisis ekonomi pada awal dekade ini telah membuahkan hasil seperti masalah gagal bayar hutang oleh Yunani serta ancaman kebangkrutan Portugal, Spanyol dan Italia. Skema restrukturisasi yang ditawarkan Uni Eropa berupa pengetatan anggaran dan pembukaan lapangan kerja bagi generasi muda rupanya cukup efektif.

Demikian, kenyataan yang dihadapi Uni Eropa seperti diuraikan dalam kajian Syahrazade Internasional bertajuk “Selamat Ulang Tahun, Uni Eropa: Inilah Beberapa Masalah yang Tengah Dihadapi”.

“Meski demikian, Uni Eropa masih menghadapi sejumlah masalah yang bisa menjadi bom waktu di masa depan. Pertama adalah pengungsi. Masalah pengungsi tidak hanya tentang alokasi anggran negara, tetapi terkait masalah kultural berupa tumbuhnya pemeluk Islam. Badan Intelijen Amerika Serikat (CIA) meramalkan Islam akan menjadi kekuatan politik penting bagi Eropa dalam dua dekade mendatang,” tulis Syahrazade.

Dalam kajian ilmiah tersebut, Syahrazade menyebut bahwa, masalah pengungsi juga menimbulkan masalah berikutnya, yaitu menguatnya partai-partai nasionalis sayap kanan di negara-negara Eropa. Bangkitnya kelompok sayap kanan ini akan mengganggu Uni Eropa dengan sentimen nasionalisme masing-masing negara serta mengancam para imigran yang secara signifikan telah menjadi tenaga kerja yang membantu pertumbuhan ekonomi Eropa.

“Masalah lainnya bersifat internasional, yaitu bagaimana Uni Eropa harus mengambil keseimbangan antara Amerika Serikat dan Rusia. Terkait Amerika Serikat, kebijakan Trump yang proteksionis telah bermaksud mengurangi anggaran militer untuk NATO. Di sini lain, jika NATO melemah, maka Uni Eropa harus memiliki kekuatan militer tersendiri dengan melepaskan ketergantungan dengan AS yang membantu sekitar 75% anggaran NATO. Ketergantungan sebesar itu telah membuat Uni Eropa mengikuti alur politik internasional AS yang belum tentu menguntungkan bagi Uni Eropa seperti perang di Irak, Libya dan Suriah,” jelasnya.

Adapun terkait Rusia, lanjut Syahrazade, Uni Eropa mempunyai ketegantungan dalam energi. Masing-masing negara berbeda prosentasenya, namun secara keseluruhan mencapai 60% untuk minyak dan 90% untuk gas dengan biaya mencapai 400 miliar euro. Ketergantungan tersebut menjadi kartu Rusia yang secara politik berseberangan dengan Uni Eropa dalam krisis Ukraina dan Timur Tengah. Di sisi lain, tekanan Uni Eropa terhadap Rusia dihadapi Moskow dengan cara menekan lewat hubungan bilateral antara Rusia dengan negara-negara anggota Uni Eropa. Hal itu membuat organisasi itu tidak bisa powerful berhadapan dengan negeri Leo Tolstoy itu.

“Hubungan Uni Eropa dengan Indonesia berlangsung sangat baik, meliputi beberapa tema pokok yang menjadi prioritas bagi RI, yakni: PCA (Partnership Cooperation Agreement), kasus pelarangan terbang maskapai Indonesia, CSP (Country Strategy Paper) dan kondisi perdagangan dan investasi secara bilateral RI –UE. Perkembangan Hubungan RI – UE Hubungan bilateral RI-UE dirintis sejak tahun 1967 di bawah kerangka ASEAN ketika UE masih berbentuk Masyarakat Ekonomi Eropa (European Economic Community). Pihak Kementrian Luar Negeri RI mengharapkan Uni Eropa yang semakin terbuka dan stabil demi lancarnya hubungan kedua belah pihak,” tandasnya.

Sebagai informasi, masih menurut pengamatan Syahrazade, keinginan untuk menyatukan bangsa-bangsa Eropa telah berlangsung sejak Kekaisaran Romawi, Napoleon hingga Hitler. Tapi, keinginan-keinginan tersebut selalu mengalami kegagalan, entah berdasarkan skema politik yang longgar seperti pada masa Romawi, maupun dengan kekuatan militer yang ketat seperti masa Hitler. Perbedaan budaya Eropa, yang menjadi dasar berdirinya dinasti-dinasti di masa lalu dan nasionalisme di masa-masa awal negara bangsa modern, telah menggagalkan berbagai usaha penyatuan tersebut, baik antara blok Timur, Jerman-Bavaria, maupun Prancis.

Uni Eropa, tulisnya, lahir dari Traktat Roma yang menggagas berakhirnya permusuhan antara Prancis dan Jerman dengan membentuk mekanisme bersama. Pada 25 Maret 1957, Traktat Roma juga membentuk Komunitas Roma sebagai pondasi dari Uni Eropa saat ini. Pada ulang tahun ke-60 Traktat Roma bulan ini, Uni Eropa mengalami ujian pengurangan anggota yang sangat penting, yaitu Inggris, dalam fenomena yang disebut Brexit. Keluarnya Inggris tersebut merupakan kado menyedihkan bagi organisasi supranasional benua itu, sehingga anggota Uni Eropa berkurang dari 28 menjadi 27 negara. (ZI)

Editor: Achmad Sulaiman

Komentar