Penyair Acep Zamzam Noor (Kiri) dan penyiar dan esais Agus R. Sarjono (Kanak). Foto: aRifaDoy & Mario Desmute
Penyair Acep Zamzam Noor (Kiri) dan penyiar dan esais Agus R. Sarjono (Kanak). Foto: aRifaDoy & Mario Desmute

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Salah satu Instruktur kegiatan Bengkel Puisi Mastera (Majelis Sastera Asia Tenggara) 2017 dari Indonesia, Acep Zamzam Noor mengatakan saat membuka diskusi bersama puluhan penyair muda bahwa, menjadi penyair adalah takdir.

“Oleh karenanya penyair dituntut harus lebih tekun dan sabar dalam ‘mengamalkan hidayah’ takdir kepenyairan, karena tak sembarang orang terpilih dan mendapat ‘hidayah’ menjadi penyair,” lanjut Acep kepada para peserta Program Penulisan Mastera: Puisi, di Hotel Adhyaksa, Cisarua, Bogor, Jawa Barat, Rabu (9/8/2017) lalu.

Penulis Antologi Puisi “Menjadi Penyair Lagi” ini menegaskan bahwa menjadi seorang penyair tak harus membuat atau memaksa orang lain agar menyebut dan memanggil  dirinya penyair sebagaimana banyak ustaz dan kiai yang melabelkan dirinya sebagai ustaz dan kiai, yang belakangan marak terjadi di Indonesia.

Baca: 10 Penyair Muda Indonesia Pilihan Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) 2017

Acep menyebut demikian, karena baginya, posisi penyair lebih mendetikati seperti kiai daripada dokter atau pengacara. “Menjadi penyair bukan profesi, tidak seperti dokter atau pengacara yang bekerja ketika dan pasien atau klien. Saya lebih tertarik menyebut penyair mirip dengan kiai,” ujar Acep.

Disamping itu, ia juga sedikit menceritakan bagaiman ia pertama berkenalan dan sastra, khususnya puisi. Ia mengaku pertama kali membaca puisi karya Amir Hamzah dan Chairil. Ada hal menarik dari penyair Indonesia yang ia baca.

“Ada hal penting dari kedua penyair Indonesia ini. Dari Amir Hamzah saya belajar bahasa, bagaimana bahasa yang menghibur, bahasa yang berarti, bahasa yang berirama, dan bahasa yang rapi. Sementara dari Chairil mungkin lebih pada spirit dan semangatnya,” tutur Acep.

Acara yang ditaja oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ini, selain menghadirkan Acep Zamzam Noor, Program Penulisan Mastera: Puisi, juga menghadirkan penyiar dan esais Agus R. Sarjono, Joko Pinorbo, Cecep Samsul Hari, dan tiga nara sumber dari tiga negara, Dr. Haji bin Radin. Brunei Darussalam. Dr. Shamsudin bin Othman, Malaysia, dan Chairul Fahmy Hussaini, Singapura.

Simak: Curhat Asia Tenggara Sajian Esai Serantau

Program ini diikuti oleh peserta dari Brunei Darussalam, Indonesia, Singapura, dan Malaysia. Para peserta terdiri dari penyair-penyair muda. Acara yabg berlangsung dari tanggal 7-13 Agustus 2017 berlangsung dengan khidmat, peserta yang terdiri dari penyair-penyair muda dari empat negara antusias mengikutinya. (F. Moses/Red02)

Editor: Ach. Sulaiman

Komentar