Artikel

Benarkah Terorisme Anti Barat?

Kelompok Ekstrim Di Eropa/Foto ilustrasi NUSANTARANEWS

Kelompok Ekstrim Di Eropa/Foto ilustrasi NUSANTARANEWS

NUSANTARANEWS.CO – Sekarang mari kita ulas, benarkah asumsi yang menyatakan bahwa terorisme di dominasi anti-Barat. Coba kita perhatikan pada target. Benarkah target mereka Barat? Bila kita lihat retorikanya, atau slogan-slogannya, adalah wacana anti-Barat? Dari mana asumsi ini berasal? Apa asal klaim saja?

Presiden Amerika Serikat George W Bush dalam pidatonya sekitar 10 hari setelah serangan 9/11, mengatakan, “Mengapa mereka membenci kita? Mereka membenci apa yang mereka lihat di sini, di negara dimana pemerintah di pilih secara demokratis. Mereka membenci kebebasan kita, kebebasan beragama kita, kebebasan berbicara kita, serta kebebasan kita untuk memilih.

Dan, Osama Bin Laden, pemimpin Al-Qaeda adalah bukti kuat adanya agenda anti-Barat. Seperti dikutip dari Al Jazeera pada tahun 2002, dimana Osama menyatakan bahwa prioritas perang ini adalah melawan orang-orang kafir. Terutama apa yang dilakukan oleh Amerika dan Israel terhadap Palestina. Demikian pula buku-buku. Misal yang ditulis oleh Walid Fharis, penulis beberapa buku tentang jihad, yang menggambarkan kelompok teroris atau individu sebagai pengobar perang terhadap Barat. Perang ideologi melawan peradaban Barat dan demokrasi?

Buku lain misalnya berpandangan bahwa terorisme anti-Barat sama dengan jihad. Dengan kata lain kata jihad disamakan dengan  terorisme Islam. Jihad dianggap sebagai sebuah terorisme jenis baru. Martha Crenshaw, dalam buku yang diterbitkannya pada tahun 2000, menulis bahwa terorisme yang dimotivasi oleh keyakinan agama, lebih fanatik, dan lebih mematikan.

Crenshaw melukiskan bahwa terorisme jenis baru ini sebagai terorisme anti-Barat yang berasal dari Timur Tengah, yang terkait dengan Islam radikal atau fundamentalis. Dalam buku yang sama, yang diterbitkan sebelum 9/11, Martha Crenshaw sudah memperingatkan akan kemunculan Islam radikal seiring dengan maraknya bom bunuh diri di Lebanon dan Israel-Palestina, dengan slogan anti-Amerika dan anti-Israel. Anti Barat tentunya.

Mengapa begitu penting untuk menguji asumsi ini? Jika kita terus tetap percaya bahwa terorisme adalah anti-Barat, tentu saja kita akan memperkuat persepsi ini. Tapi bagaimana kalau itu tidak benar. Bagaimana jika terorisme Ini tidak ditujukan terhadap barat? Jelas menyebarkan ide Terorisme anti western sangat tidak membantu. Bahkan, sangat tidak produktif dalam upaya memerangi terorisme.

Sekali lagi, hal ini bukan ide yang baik ketika fakta-fakta empiris tidak mendukung bentrokan atau perjuangan seperti itu. Misal gagasan tentang benturan peradaban yang dikemukakan oleh Samuel Huntington. Bisa saja kita memperkuat ide ini dengan bentrokan atau perjuangan antara Kristen dan Islam. Dengan frame seperti ini, tentu akan sangat mempengaruhi cara pandang kita terhadap satu dengan yang lain.

Bila kita melakukan pendekatan geografis, kita bisa melihat bahwa insiden terorisme pada tahun 2011, lebih banyak dialami oleh negara-negara muslim, bukan di negara-negara Barat. Di Barat justru tingkat serangan terorisme sangat rendah. Demikian pula di Amerika Utara, Amerika Selatan, Eropa Barat, dan Australia.

Sekarang coba kita tengok kawasan Timur tengah, misal dengan Irak, atau Asia Selatan, Afghanistan, Pakistan, India, dan Afrika. Ini semua adalah negara-negara muslim yang tingkat serangan terorismenya tinggi. Juga di Afrika Utara, Nigeria, terutama bagian utara. Termasuk Rusia di daerah bagian selatan seperti wilayah kaukus, yang berpenduduk Muslim.

Jadi bukan di Barat yang paling banyak dihadapkan kepada ancaman terorisme. Ada data yang sangat mencolok sebagaimana yang dilaporkan oleh sebuah lembaga terkenal di Amerika Serikat yakni National Counter Terrorism Center bahwa pada tahun 2011, negara-negara Muslim paling menderita antara 82 sampai 90%. Sementara  97% dari kematian terkait terorisme. Itu muncul diseluruh dunia, tahun 2005, 2010.

Bahkan berdasarkan sumber-sumber lain menunjukkan bahwa di Irak, setelah tahun 2003, setelah AS memimpin invasi. Di mana justru ada kehadiran besar tentara Barat disana, justru sebagian besar serangan oleh afiliasi al-Qaeda adalah berperang dengan sesama Muslim, bukannya berperang melawan pasukan Barat. Jadi retorika anti-barat hanya slogan-slogan saja, sedangkan korban yang berjatuhan berada di pihak kaum Muslim bukan Barat.

Lalu bagaimana situasi di Barat? Menurut laporan Europol ada 17 korban yang tewas di Uni Eropa pada tahun 2012. Dan kurang dari setengah dari mereka adalah hasil dari tindakan teroris oleh kelompok-kelompok yang di ilhami oleh agama. Mereka juga mengatakan bahwa ada total 219 serangan, terutama dilakukan di Perancis dan Spanyol, tetapi serangan tersebut dilakukan oleh kelompok separatis atau F mo-nationalist group.

Bahkan di Eropa, sebagian besar serangan tidak dapat dicap anti-Barat. Bagaimana di Amerika Utara? Bagaimana Amerika Serikat? Menurut statistik dari Departemen Luar Negeri Amerika Serikat untuk tahun 2012, tidak ada korban jiwa karena terorisme anti-Barat di tanah AS.

Jadi asumsi bahwa terorisme adalah didominasi anti-Barat, apakah terbukti? Atau hanya mitos? Bila kita melihat para korban atau target, kita bisa melihat bahwa relatif sedikit orang Barat yang menjadi korban. Korban terbesar serangan ini adalah negara-negara Muslim. Sementara sebagian besar serangan di Barat lebih terkait dengan kelompok separatis, kelompok sayap kanan, kelompok sayap kiri, tetapi bukan oleh kelompok anti-Barat. Dengan demikian boleh dikatakan bahwa label asumsi ini sudah dipalsukan.

Dengan kata lain, retorika terorisme adalah anti-Barat, tidaklah benar. Sebab korbannya justru adalah umat muslim. Sekali lagi korbannya adalah Muslim, bukan Barat. Jadi asumsi terorisme di dominasi anti Barat adalah mitos. (Agus Setiawan/diolah dari berbagai sumber)

Komentar

To Top