NUSANTARANEWS.CO.Jakarta. Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan bahwa daya beli masyarakat masih kuat. Hal tersebut dibuktikan dari tingkat kontribusi konsumsi rumah tengga terhadap produk domestik bruto (PDB) yang masih dominan. Jadi konsumsi masyarakat masih tumbuh kuat.

“Pengeluaran rumah tangga pada kuartal II itu 4,95%. Itu tumbuh kuat. Jadi kalau ada yang bilang turun, sangat tidak mungkin, katanya dalam acara Forum Merdeka Barat di Kementerian Komunikasi dan Informatika, Jakarta, Sabtu (12/8). Tak hanya itu, sektor food and beverages (F&B) juga mengalami pertumbuhan, dimana restoran dan hotel tumbuh 5,87%, sedangkan makanan dan minuman 5,24%.

Memang telah terjadi pergeseran model belanja oleh masyarakat Indonesia, dari belanja konvensional ke non konvensional atau online. Namun, Suhariyanto mengungkapkan abahwa pergeseran kebiasaan belanja ini hanya terjadi di kelas menengah ke atas dan tidak memiliki dampak terhadap daya beli. Hal tersebut terlihat berdasarkan perilaku konsumsi rumah tangga di mana 40% kelas bawah, 40% kelas menengah, dan 20% kelas atas.

Namun Suhariyanto juga mengakui bahwa di kelas bawah upah buruh bangunan dan tani memang mengalami penurunan yang terindikasi dari melambatnya pertumbuhan industri di Indonesia. Sedangkan di kelas menengah ke atas lebih memilih belanja online dan mengalihkan sebagian belanjanya sebagai tabungan.(Aya)

Komentar