Lukisan Coffee House di Constantinople 1854/Foto: Akal Sejarah
Lukisan Coffee House di Constantinople 1854/Foto: Akal Sejarah

SECANGKIR KOPI

Kuteguk hidup dalam secangkir kopi. Hitamnya tak pernah berpura-pura. Pahitnya acapkali menggoda.

Secangkir kopi tak pernah ingkar janji. Walau manis gula sesekali menaburkan canda, hitam dan pahit kopi tak pernah berdusta.

Kupetik biji kopi di malam sunyi, kujemur pada panas dadaku, kuremukkan menjadi masa lalu. Ihwalku hanyalah rindu, walau jalan cinta ini selalu berliku, ujung ziarahku hanya padaMu.

Tuhanku, jangan ada tuak dan luwak di antara kita. Takdirku sudah mabuk sejak sediakala. Tuangkan panas kopiMu pada cangkir zikirku, agar jiwa ini semakin mendidih saat menenggak cahayaMu.

Secangkir kopi, kubiarkan ia merajalela dalam hitam lukisanku, kuijinkan pahitnya menyentuh bibirku. Sebatas ujung lidahku.

BELAJAR PADA LIDAH

Pagi ini aku kembali kehabisan kata-kata. Lidahku menjulur mencari mangsa. Tanpa tulang, tapi licin dan lincah menebar luka.

Kutemukan cermin di ujung lidahku. Betapa fananya cinta jika diucapkan oleh lidah bercabang dua.

Pagi ini aku belajar merenda nalar, mengunci lidah agar tak pongah, merawat lidah menjadi indah. Sebab hidup tak hanya sebatas gincu.

Kucari jarak antara dusta dan cinta, hanya lidah yang sanggup menjawabnya: “Ingatkan aku jika tanpa sengaja telah melukaimu,” kata lidah kepada entah.

Pada ujung lidahku acapkali kutemukan ular melingkar melilit nalarku, menjelma lintah liar yang menyedot darah hingga mencabik hatimu.

Pada luka hatimu, ada jejak lidahku. Pada perih dadamu, lidahku menjelma sembilu.

Tuhanku, ijinkan aku bicara pada lidahku, agar kembali belajar mengunyah resah, agar tak ada lagi surga yang terluka oleh liku-liku lidahku.

 

Gus Nas
Gus Nas

*HM. Nasruddin Anshoriy Ch atau biasa dipanggil Gus Nas mulai menulis puisi sejak masih SMP pada tahun 1979. Tahun 1983, puisinya yang mengritik Orde Baru sempat membuat heboh Indonesia dan melibatkan Emha Ainun Nadjib, HB. Jassin, Mochtar Lubis, WS. Rendra dan Sapardi Djoko Damono menulis komentarnya di berbagai koran nasional. Tahun 1984 mendirikan Lingkaran Sastra Pesantren dan Teater Sakral di Pesantren Tebuireng, Jombang. Pada tahun itu pula tulisannya berupa puisi, esai dan kolom mulai menghiasi halaman berbagai koran dan majalah nasional, seperti Horison, Prisma, Kompas, Sinar Harapan dll.

Tahun 1987 menjadi Pembicara di Forum Puisi Indonesia di TIM dan Pembicara di Third’s South East Asian Writers Conference di National University of Singapore. Tahun 1991 puisinya berjudul Midnight Man terpilih sebagai puisi terbaik dalam New Voice of Asia dan dimuat di Majalah Solidarity, Philippines. Tahun 1995 meraih penghargaan sebagai penulis puisi terbaik versi pemirsa dalam rangka 50 Tahun Indonesia Merdeka yang diselenggarakan oleh ANTV dan Harian Republika.

Menulis sejumlah buku, antara lain berjudul Berjuang Dari Pinggir (LP3ES Jakarta), Kearifan Lingkungan Budaya Jawa (Obor Indonesia), Strategi Kebudayaan (Unibraw Press Malang), Bangsa Gagal (LKiS). Pernah menjadi peneliti sosial-budaya di LP3ES, P3M, dan peneliti lepas di LIPI. Menjadi konsultan manajemen. Menjadi Produser sejumlah film bersama Deddy Mizwar.

Sejak tahun 2004 memilih tinggal di puncak gunung yang dikepung oleh hutan jati di kawasan Pegunungan Sewu di Selatan makam Raja-Raja Jawa di Imogiri sebagai Pengasuh Pesan Trend Budaya Ilmu Giri. Tahun 2008 menggagas dan mendeklarasikan berdirinya Desa Kebangsaan di kawasan Pegunungan Sewu bersama sejumlah tokoh nasional. Tahun 2013 menjadi Pembicara Kunci pada World Culture Forum yang diselenggarakan Kemendikbud dan UNESCO di Bali.

Gus Nas juga merupakan Pengasuh Pesan Trend Ilmu Giri, Bantul, DIY

Komentar