Nuklir

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Isu perang di kawasan memanas dalam dua bulan belakangan. Korea Utara diketahui sedikitnya sudah tujuh kali melakukan uji coba rudal balistik sebagai bentuk propaganda, ancaman sekaligus pamer kecanggihan alutsisa. Bahkan rudal balistik yang diuji-cobakan terakhir disebut-sebut sebagai peluru kendali dengan daya ledak belum pernah terlihat sebelum-sebelumnya.

Mungkin tak terbayangkan betapa dahsyatnya rudal nuklir Korut bila telah ditembakkan dan jatuh di sebuah kota. Rudal terbaru Korut bernama Hwasong-12. Rudal balistik ini disebut-sebut sejenis roket balistik medium long-range terbaru yang dapat membawa hulu ledak nuklir berat. Rudal tersebut mampu mencapai ketinggian 2.211,5 kilometer, dan mampu terbang sejauh 787 kilometer (490 mil) serta memiliki kinerja sistem detonasi yang sangat akurat.

Sebagian warga Jepang dilaporkan telah berlomba-lomba membeli bunker untuk berlindung dari rudal nuklir Korut. Bahkan para ahli nuklir menyebut bahwa 10 menit setelah diluncurkan, Jepang menjadi abu.

Mungkin ilustrasi sederhana dari buku non-fiksi karangan Cody Cassidy dan Paul Doherty “And Then You’re Dead, A Scientific Exploration of the World Most Interesting Ways to Die“, cukup untuk menggambarkan bagaimana kondisinya.

Deskripsi Cassidy dan Doherty terdengar seperti yang beruntung adalah mereka yang tewas seketika saat ledakan pertama. Pasalnya, kata mereka, radiasi yang ditimbulkan dari ledakan rudal akan mengubah atom menjadi sangat berbahaya terutama bagi manusia.

Telusuri: Begini Canggihnya Rudal Balistik Hwasong-12 Milik Korut

“Itu mengeluarkan cahaya. Jadi, tidak perlu banyak ledakan untuk melapisi dunia dan menyebar ke dalam persediaan makanan. Setelah tertelan, itu sangat mirip dengan kalsium sehingga tubuh anda menyerapnya ke dalam tulang. Begitu stronsium-90 sudah berada di tulang anda, peluruhan radioaktifnya memecah sel DNA; menyebabkan kanker tulang dan leukemia. Jadi, kalau pun anda selamat dan tidak tewas, dipastikan akan terkena kanker tulang,” tulis mereka

Kemudian, debu. Serangan debu pembunuh bukanlah horor klasik. Di bumi, badai debu jelas mematikan. Dan debu radioaktif hasil ledakan nuklir bukan mematikan lagi, tapi membuat orang menjadi debu.

Dikatakan, awan debu dari bom tidak akan pernah pergi. Dan ini memiliki efek kelumpuhan (knock down effect).

“Setelah ratusan bom multimegaton meledak di udara, mereka tidak hanya akan secara langsung mendistribusikan karbon ke atmosfer bagian atas namun mereka akan memulai kebakaran hutan dan kota yang besar yang akan mengeluarkan sejumlah besar asap. Bahkan simulasi lingkungan konservatif menunjukkan bahwa seratus ledakan nuklir akan menghalangi sinar matahari untuk menurunkan suhu global rata-rata beberapa derajat. Penurunan suhu global yang tiba-tiba bahkan beberapa derajat akan menghancurkan pasokan makanan dunia, karena satu embun beku melenyapkan¬†beras. Gangguan serius dalam produksi beras akan membunuh sebanyak 2 miliar orang di seluruh dunia,” jelas Cassidy dan Doherty.

Sekadar informasi, Paul Doherty adalah co-director dan ilmuwan staf senior di San Francisco Exploratorium Museum, dan dia menerima gelar PhD dalam bidang fisika dari Michigan Institute of Technology. Cody Cassidy adalah seorang penulis dan editor. (ed/indy100)

Editor: Eriec Dieda

Komentar