Anggota Komisi I DPR RI, Effendi Simbolon dan Menkeu Sri Mulyani/Ilustrasi foto nusantaranews
Anggota Komisi I DPR RI, Effendi Simbolon dan Menkeu Sri Mulyani/Ilustrasi foto nusantaranews

NUSANTARANEWS.CO – Pernyataan Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani terkait peminjaman uang kepada pihak asing yang kemudian dibayarkan untuk menutupi bunga utang yang lainnya mendapatkan kritikan pedas dari Anggota Komisi I DPR RI, Effendi Simbolon.

Menurut Effendi, seharusnya Sri Mulyani mampu membuktikan kepada rakyat bahwa Indonesia bisa terbebas dari utang, bukan malah kembali melakukan utang.

“Berilah bangsa Indonesia upaya dan pembuktian bahwa anda (Sri Mulyani) juga mampu untuk men-delay negosiasi besaran pokok bunganya dan cicilan tersebut. Jangan sampai nutup utang pakai utang, buat apa ada Menteri Keuangan kalau seperti itu,” ungkapnya saat ditemui di Gedung DPR/MPR RI, Jakarta, Selasa (23/8/2016).

Sebagai Menkeu, lanjut Effendi, seharusnya Sri Mulyani juga mampu untuk memanfaatkan uang pinjaman yang ada tersebut dengan menyalurkannya ke sektor-sektor yang produktif. Namun jika dengan pola pikir meminjam uang untuk membayar bunga utang lainnya, maka tak ubahnya seperti pola pikir rentenir.

“Jadinya jangan kemudian distribusikan dengan memunculkan utang baru, itu sama saja dengan pola pikir rentenir, kalau rentenir kan konsepnya memberikan utang dengan anda dan berharap anda tidak bisa membayar utang tersebut sampai kiamat. Untuk menjadi bacakan seumur hidup rentenir tersebut,” ujarnya.

Hal tersebut, menurut Politisi dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) tersebut, dikarenakan pihak pemberi pinjaman pastinya mengharapkan si peminjam untuk terus mengulur-ulur waktu pelunasan agar bunganya semakin tinggi.

“Dan artinya pihak bank atau institusi tidak serta merta suka anda untuk membayar utang, dan dia pasti ingin kita selalu men-delay utang tersebut. Jadi seharusnya Sri Mulyani bisa mencari solusi dan rumusan dariĀ  besaran utang tersebut,” katanya. (Deni)

Komentar