Connect
To Top

Bawa Teknologi Baru, Austria Lirik Indonesia

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto menyampaikan bahwa perusahaan raksasa asal Austria, Lenzing AG sedang menjajaki peluang investasi di Indonesia.

Induk dari PT. South Pacific Viscose (SPV) ini, kata Menperin Airlangga seperti tertulis dalam siaran persnya, akan memproduksi tencel, salah satu jenis serat rayon dengan kualitas di atas viscosa yang juga digunakan sebagai bahan baku benang pintal dan non-woven yang jumlahnya di dunia masih sangat terbatas.

“Mereka lagi mempertimbangkan untuk ekspansi di Indonesia, mungkin akan tambah kapasitas 300 ribu ton per tahun dengan special additional fibers, staple fibers. Di sini belum ada yang produksi. Mereka akan bawa teknologi baru,” kata Airlangga usai bertemu Christian Dressler dari Lenzing AG dan Kumar Ramalingam dari PT SPV di Jakarta, Rabu (8/3/2017).

Airlangga menambahkan, pihak Lenzing Group sempat menanyakan mengenai insentif fiskal yang akan diberikan untuk investasi tersebut.

“Selain Indonesia, mereka juga melirik Thailand karena di sana menawarkan beberapa insentif. Kemudian, mereka meminta pula kepastian terkait keberlangsungan bahan baku dan tarif energi. Kalau energi dibanding Thailand, kita lebih tinggi,” ungkap Menperin.

Kemenperin mencatat, kapasitas produksi industri serat rayon di Indonesia sebesar 470 ribu ton pada tahun 2016. Dari kapasitas tersebut, untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri mencapai 366 ribu ton per tahun, dan sisanya diekspor dengan nilai sekitar USD251 juta.

Kemenperin juga memproyeksikan kapasitas produksi serat rayon dapat mencapai 565 ribu ton pada tahun 2017. Selanjutnya, tahun 2018, ditargetkan mencapai 700 ribu ton melalui ekspansi PT Rayon Utama Makmur. Di tahun 2019, bisa mencapai satu juta ton, dan tahun 2021 sebesar 1,2 juta ton melalui tambahan dari PT Sateri Viscose.

Untuk diketahui, PT SPV yang berdiri di Indonesia sejak tahun 1978 ini telah memiliki pabrik serat rayon viscosa di Purwakarta, Jawa Barat. Perusahaan telah menanamkan modalnya di Tanah Air sekitar USD475,58 juta dengan memproduksi sebanyak 325ribu ton per tahun untuk serat stapel. SPV beroperasi sebagai produsen serat stapel viscosa dan sodium sulfat sejak 1982 dengan menyerap tenaga kerja mencapai 1.746 orang. (rep/rsk)

Editor: Sulaiman

Komentar