Presiden Jokowi didampingi Panglima TNI dan Seskab mengamati perairan Natuna dari KRI Imam Bonjol, Kamis (23/6)/Foto: Humas/Nia

NUSANTARANEWS.CO – Presiden Joko Widodo akhirnya mengunjungi sekaligus memimpin rapat terbatas di KRI Imam Bonjol di Perairan Natuna pada Kamis (23/6) kemarin untuk mempertegas bahwa kepulauan tersebut tidak boleh dijamah asing demi kedaulatan NKRI.

Dalam rapat tersebut, seperti dilaporkan Setkab, Presiden juga meminta agar ekonomi di Pulau Natuna segera dikembangkan, khususnya terkait dengan perikanan dan migas. Komitmen Jokowi mengembangkan Pulau Natuna setelah Indonesia 3 kali ditikung para nelayan dan kapal coast guard China yang hilir mudik mencuri ikan (illegal fishing).

Kawasan Pulau Natuna pada hakikatnya dikaruniai sejumlah potensi sumber daya alam yang melimpah tetapi belum dikelola secara memadai, bahkan ada yang belum sama sekali.

Sekadar informasi, perairan Natuna mengandung sumber daya perikanan laut yang mencapai lebih dari 1 juta ton per tahun. Pemanfaatan kekayaan tersebut hanya 4,3 persen oleh Kabupaten Natuna.

Di samping itu, seperti dilaporkan Antara, kawasan yang terletak di 225 km di sebelah utara Pulau Natuna (di ZEEI) adalah ladang gas D-Alpha dengan total cadangan 222 trillion cubic feet (TCT) dan gas hidrokarbon yang bisa didapat sebesar 46 TCT yang merupakan salah satu sumber terbesar di Asia. Menteri ESDM juga mengungkapkan di perairan sekitar Natuna terdapat sekitar 16 blok untuk migas, di mana 5 blok sudah berproduksi dan 11 blok sedang bereksplorasi.

Dalam rapat terbatas di KRI Imam Bonjol, Presiden mendengarkan pemaparan dari sejumlah menteri seperti Menkopolhukam, Menlu, Menteri ESDM, Menteri KKP, Menpar dan Panglima TNI.

Selain membahas soal perkembangan ekonomi di bidang perikanan dan migas, bidang pertahanan juga tak luput dari pembahasan. Panglima TNI juga menyampaikan rencana pengembangan pertahanan di wilayah Natuna dan sekitarnya.

Presiden dan jajaran Menteri mengunjungi Pulau Natuna setelah aksi pencurian ikan di kawasan perairan tersebut marak. Sepanjang 2016, sedikitnya sudah tiga kali kapal nelayan China tertangkap basah tengah menjaring ikan. Tak tanggung-tanggung, gerombolan kapal nelayan China itu dikawal sejumlah Kapal Penjaga Pantai (Coast Guard) agar aksi pencurian ikannya tidak diganggu oleh kapal-kapal patroli dari KKP maupun dari TNI AL Indonesia.

Selain itu, kawasan sekitar Natuna, Kepulauan Riau selama ini memang sunyi tetapi diam-diam menjadi pusat perhatian dunia karena berbatasan langsung dengan sejumlah negara, termasuk Laut China Selatan yang kini tengah menjadi sengketa.

Untuk itu, Presiden berpesan agar patroli dan penjagaan kawasan Natuna ditingkatkan.”Saya minta kemampuan TNI dan Bakamla dalam menjaga laut harus lebih ditingkatkan, baik dalam hal kelengkapan teknologi radar maupun kesiapannya,” kata Presiden. Ini adalah kunjungan kali pertama Presiden ke Pulau Natuna. (Sego/Red)

Komentar