Connect
To Top

Bantul Siap Pasarkan Ekonomi Kerakyatan di Kancah Perdagangan Global Dengan BKK

NUSANTARANEWS.CO – Kabupaten Bantul akan menjadi model Kabupaten Kreatif guna meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan rakyat yang berbasis pada kearifan lokal dengan kemasan “Bantul Kabupaten Kreatif” (BKK). Bantul Kabupaten Kreatif dimaksudkan sebagai upaya “city branding” dalam kerangka memasarkan potensi ekonomi kerakyaan pada kancah perdagangan global, termasuk merespon diberlakukannya Asian Economic Community.

Demikian hasil audiensi Bupati Bantul, Suharsono dengan Balitbang MANTRAM (Masyarakat Adat, Seni Tradisi dan Budaya Mataram), di Gedung Parasamya, Komplek Pemkab Bantul, Kamis (29/09) kemarin.

“Rencana kerja Pembak Bantul mulai tahun anggaran 2017, akan merealisir berbagai program pembangunan, antara lain meliputi revitalisasi destinasi pariwisata berbasis sejarah dan budaya dengan peningkatan infrastruktur, seperti Makam Raja-raja Mataram di Imogiri serta Goa Selarong yang berkaitan dengan perjuangan Pangeran Diponegoro,” papar Suharsono.

Selain itu, lanjut Suharsono, pembak akan melakukan penguatan promosi kerajinan rakyat dengan meningkatkan fasilitas showroom, sebagai etalase potensi ekonomi daerah. Dalam strategi branding maka ikon daerah menjadi penting. Karenanya, pihaknya akan bekerjasama dengan stakeholder terkait untuk mencari seni tradisi terpopuler yang bisa dijadikan ikon, seperti Tari Kecak di Bali atau Reyog di Ponorogo.

“Berbagai potensi seni tradisi seperti “jathilan” misalnya akan dinilai mana yang layak sebagai ikon daerah,” ujarnya.

Lebih lanjut dikatakan oleh sekretaris Mantram, Dewanto Soekarno, bahwa BKK merupakan bagian dari pemasaran potensi daerah, yang bertujuan untuk mengintegrasikan segala potensi dari sektor pariwisata, perdagangan, industry kreatif dan investasi yang ada di Kabupaten Bantul. Tantangan bagi pemangku kebijakan adalah memastikan bahwa kabupaten Bantul tumbuh secara berkelanjutan, yang mampu mengimbangi kebutuhan ekonomi penduduknya dan tetap mempertahankan aspek identitas budayanya.

“Salah satu cara untuk mewujudkan BKK adalah dengan pendekatan community based on creative empowering atau pemberdayaan masyarakat berbasis kreatifitas. Perspektif ini terwujudkan dengan mengajak masyarakat untuk memahami bahwa diperlukan sentuhan kreatif, baik aspek tatakelola, aspek social-budaya, ekonomi serta politiknya. Karena kretaif adalah kata kunci pertumbuhan yang berkelanjutan, yang lekat dengan apresiasi terhadap identitas kemanusian,” terang Dewanto.

Menurut Dewanto, program ini bertujuan untuk menyatukan pemahaman diantara pemangku kebijakan tentang BKK. Entitas budaya menjadi spirit menuju BKK dari nilai dan keyakinan masyarakatnya yang bercirikan: terbuka terhadap inovasi dan menghargai kemajemukan.

“Salah satu kunci keberhasilan ekonomi kreatif adalah adanya deterensiasi yang berbasis pada local genius (kearifan local). Oleh karena itu identitas lokal menjadi penting, dengan identitas yang kuat dan mengakar kepada keunikan karakter yang berbasiskan budaya. Para pemangku kebijakan memiliki pemahaman dan argumentasi yang jelas tentang apa yang menjadi kekuatan dan apa yang merupakan atribut yang menjadikan wilayahnya berbeda dengan wilayah yang lain,” jelasnya.

Value kebudayaan, lanjut Dewanto, menjadi permata bagi keberadaan suatu pemerintahan. Kabupaten Bantul merupakan kabupaten yang memiliki value kebudayaan, menjadi bagian dari Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang masih mempertahankan nilai-nilai tradisi dan kebudayaan yang ada dimasyarakat. “Setelah dihantam gempa hebat pada Mei, 2006 yang lalu, masyarakat Bantul telah menunjukan kepada dunia, bahwa ikatan tradisi dan kebudayaan yang ada terbukti mampu menggerakan rasa kebersamaan untuk kembali menata kehidupan dan menatap masa depan dengan penuh optimisme,” imbuhnya.

Dewanto juga menyatakan bahwa, tradisi dan kebudayaan terbukti menjadi perekat dalam dinamika kehidupan bermasyarakat. Nilai nilai yang terkandung di dalamnya juga telah memberikan spirit bagi keberlangsungan tata kehidupan yang menjadi fondasi terbentuknya tata nilai dalam masyarakat. Spirit kebudayaan, imbuhnya, membuka ruang untuk memunculkan keragaman identitas dan segala manisfestasi ekspresif.

“Spirit kebudayaan juga memberi ruang untuk bertemunya antar komunitas, antar kelompok dan membuka ruang dialog untuk menghasilkan karya-karya kreatif yang berbasikan lokalitas,” ucap Dewanto lagi.

Untuk itu, pihaknya menegaskan bahwa ruang dialog menjadi penting dalam kerangka dialog lintas batas dan pemahaman intercultural yang berbasis pada pengembangan dan perluasan pengetahuan atas berbagai khasanah. Sehingga akan tercipita karya kreatif masyarakat yang hidup dalam balutan kebudayaan serta dapat memanfaatkan segala khasanah yang ada sesuai dengan kebutuhan aktualnya.

“Pada bagian lain ruang dialog juga penting untuk mengkomunkasikan apa yang menjadi permasalahan yang ada dalam masyarakat dengan pemangku kebijakan yang memiliki otoritas untuk membuat terobosan dan inovasi kebijakan yang berbasiskan kepada nilai tradisi dan kebudayaan yang berkembang di masyarakat,” tandasnya. (Ucok Al-Ayubi/Red-02)

Komentar