Connect
To Top

Bangkai Pesawat Yang Menimpa Kami – Cerpen Ferry Fansuri

NUSANTARANEWS.CO – Lama tak kulihat Kamidi atau kadang dipanggil si Kami, dia tampak berbeda setelah 5 tahun yang ditinggal istri dan anaknya. Istrinya meninggal bersama jabang bayinya, setelah itu Kamidi pergi dari kampung ini. Konon dia menjadi TKW di negara tetangga Malaysia atau menyepi di ujung Sumatra. Tapi sekarang dia kembali ke kampung dengan janggut panjang dan tubuh yang kurus kering, matanya sayu sama seperti kulihat dia dulu. Hampa kosong tanpa harapan

Dia kembali ke rumahnya dulu, sebuah rumah yang lumayan besar tapi sekarang tak terawat. Dulu keluarga Kamidi cukup terpandang dikampung ini, semenjak dia pergi semua hilang. Saat sore kulihat dia, membangun sebuah ruangan kecil suluk (surau) menghadap barat dari kayu.

Tiap kali kujumpai, Kamidi hanya berdiam didalam ruangan kayu itu. Bertafakur dan bersujud, melantunkan doa-doa buat yang Kuasa. Mulai pagi sampai sore bahkan menjelang malam tak beranjak dari suluk itu. Rumahnya sendiri tak terawat, cat terkelupas oleh debu dan hujan. Listrik pun tidak menerangi lagi karena bertahun-tahun diputus pusat karena menunggak lama bertahun-tahun. Sepertinya si Kami juga tidak perduli akan hal tersebut, tiap malam hanya lampu templok kecil yang menerangi bilik suluk kecilnya itu.

Si Kami juga tidak melakukan pekerjaan apapun selain di suluknya itu, sesekali dia ke sumur belakang rumahnya untuk membersihkan diri. Memang terlihat manual karena pompa air tidak lagi dialiri listrik sama sekali dan juga air pam sudah tidak mengalir, Si Kami harus mengambil air secara mengangsuh memakai timba dengan kerekan tua penuh dengan karat.

Untuk makan sehari-hari, Si Kami juga seperti tidak terlalu perduli. Pernah kulihat sekali-kali dia memungut ranting dahan kering hutan dekat kampung ini. Dibawalah ranting tersebut dengan dipanggul diatas punggung yang kurus kering kerontang itu. Setibanya dirumahnya, Si Kami membuat tungku dari batu dan api dari bahan ranting itu. Diatas diletakkan panci yang terlihat tak karuan bentuknya mungkin bekas didalam rumahnya dulu. Air mendidih didalamnya dan si Kami mencelupkan mie instan. Setelah jadi, mie instan itu dilahap langsung dari pancinya dan tanpa melihat kanan kirinya. Darimana pula uang yang peroleh karena selama ini dia tidak bekerja sama sekali, mungkin dari tabungan saat merantau dulu. Kamidi seperti terasing didalam kampungnya sendiri.

***

“Bang, nih kasih ke Kamidi” tiba-tiba sore itu Karni istriku menyodorkan bungkusan ke aku. Kubuka bungkusan itu, ikan selais asap dalam rantang yang menggugah selera. “ Ini buat si Kami dik?”sahutku. “Iya bang, sesekali ajak ngobrol dia sambil anter nih makanan. Khan dulu dia teman abang dari kecil” jawab istriku. Memang Kamidi adalah teman akrab dari kecil, tapi setelah musibah itu dia terasa berbeda dan hidupnya sepi.

Sambil kujinjing bungkusan tersebut, melangkah aku ke rumah Kamidi. Kulihat dia sedang duduk diberanda pekarangannya sambil membersihkan ranting-ranting yang biasa diambil dari hutan. Kehadiranku cuman dipandangnya dengan mata sayu itu “Hei No, tumben kesini” sambut Kamidi. “Ah nggak juga Di, ini ada titipan istriku buat kamu” sambil kusodorkan bungkusan tersebut “Tak usah repotlah sampai bawa makanan segala” nyinyirnya. Kuletakkan pantatku pada beranda pekarangan di sampingnya, Kamidi hanya meminggirkan bungkusan sambil meneruskan pekerjaannya.

“Kabarmu bagaimana Di?” aku membuka omongan lebih dulu untuk basa-basi. “Oh baik, seperti kau lihat” sahutnya tanpa menoleh. Ku tengok  sekeliling rumah ini, begitu kotor tak terawat tapi si Kamidi ini betah juga..ah..Apa pedulinya dia..lha wong ini rumahnya sendiri.

“Betah juga kau disini Di?” tanyaku kembali “Yah ini khan rumahku ya pasti betahlah” sahutnya  kembali. Kulihat kaki dan tangannya yang kurus terbalut kulit itu cekatan mempisahkan ranting-ranting kering untuk dibuat bahan tungku apinya. “Sudah lama seperti kita tak ketemu dan bicara Di” buka omongan lagi “Iya 5 tahun lebih sepertinya” jawabnya lirih.

Ada pertanyaan-pertanyaan didalam hati ini yang ingin aku tanyakan ke Kamidi tapi tertahan. Dan akhirnya “Kamu nggak mau nikah lagi Di?” tanyaku dengan nada sedikit rendah. Kamidi sepertinya terdiam sejenak dan tidak melanjutkan pekerjaannya kembali. Sepertinya terganggu akan ucapanku tadi, terus dia bergeser ke sebelahku sambil memandangku nyinyir.

“Ketahui No, semua itu semu yang ada kehidupan ini dan tidak ada abadi” sergapnya “Harta, Wanita dan Anak hanyalah ilusi dan titipan sementara. Pernah aku miliki tapi tidak abadi” tambahnya “Jadi apa yang aku lakukan saat ini hanya menunggu kuasa-Nya untuk memanggil pulang. Cuman ini yang bisa aku lakukan, menunggu ajal sambil memuja Nya” akhir katanya.

Aku hanya terdiam mendengar ucapannya, tak sedikitpun bergerak dan membantah perkataan. Mataku hanya melihat Kamidi perlahan sekelebat masuk ke suluk-nya kembali.

***

Suatu masa kulihat Kamidi berjalan tenang di titian jembatan, memakai kain putih diselempang pada bahunya. Wajahnya terlihat berseri-seri, seperti saatnya telah tiba di “Hari Penghakiman”. Kamidi terlihat tersenyum nyinyir ke arah seperti dialah yang benar dan menang. Dengan gagahnya dia melangkah melewati titian jembatan, semua orang terlihat mengatri tapi Kamidi melenggang tanpa halangan.

Titian jembatan itu mengarah ke dua pintu yang tampak di jaga dua makhluk bertubuh besar bercahaya. Kamidi memandang sinis kepada orang-orang yang mengantri seperti mau mengucapkan selamat tinggal sambil melambaikan tangan tanda kemenangan.

Pintu ke kiri menuju neraka dan sebelah kanan Surga seperti plang penunjuk jalan tertera, dengan pedenya Kamidi berbelok ke pintu sebelah kanan. Tapi tiba-tiba “Hei manusia bernama Kamidi,engkau berhenti!!. Apa tujuan ke pintu surga ini?” hardik malaikat penjaga pintu. “Tentunya saja tempatku di Surga, kemana lagi kalau tidak disini” betapa nyakin dia.

“Tempatmu bukan disini, tapi di Neraka” jawab malaikat penjaga surga . Betapa kaget Kamidi mendengar ucapan malaikat penjaga. “Pergi kau Kamidi !” ditendang tubuh kurus si Kamidi sekali gerakan. Melesatlah Kamidi dengan sekejab jatuh dipintu Neraka.

Sekejap Kamidi tampak meronta-ronta dipegangi malaikat penjaga neraka “Apa salahku, di dunia aku memuja Tuhanku. Aku tidak terima!!” teriaknya sampai menggema. “Lepaskan hei kau malaikat jijik, kau tak layak memegang tanganku yang suci” tapi malaikat berwujud besar bercahaya itu terbelak matanya yang memancarkan api.

“Aku mau ketemu Tuhanku, ini tak adil” “Tak seharusnya seperti ini, siang malam aku memuja Mu dan melantunkan ayat-ayat suci untuk Mu tapi apa yang aku terima saat ini..Tidak!!” teriaknya sekali lagi dengan menggelora.

“Diam kau Kamidi !!!, tempatmu bukan di surga tapi neraka” hardik salah satu Malaikat yang memiliki sayap lebar selebar ufuk timur tiba-tiba muncul.

“Aku mau ketemu Tuhanku, aku mau protes. Kenapa aku diperlakukan seperti ini? Tidak Adil” serunya. “Diam kau Kamidi, tak layak kau ketemu Tuhanku. Kau hanya manusia rendahan yang hanya mementingkan diri sendiri” hardik si malaikat ini.

Dilemparkan sebuah buku dari tangan kiri si malaikat, jatuh didepannya. “Lihatlah buku timbanganmu, tak ada gunanya kau di masa hidupmu” tambahnya

“Apa salahku? Sisa hidupku abadikan untuk memuja Tuhanku, menghapal ayat-ayat suci dari Nabi Mu luar kepala. Kepalaku menghitam karena sujud tiap tengah malam dan tanganku tak henti bertasbih akan namaMu” rinci si Kamidi.

“Apa? Tuhanku tak perlu pujamu Kamidi. Tuhanku tidak mabuk akan rayuan sujudmu. Lihatlah engkau hanya beribadah karena kau takut masuk neraka bukan? dan apa hanya sujud dan dzikir perintah TuhanMU” seru si malaikat.

“Tapi..Tapi..” Kamidi belepotan tak bisa menyanggah. “Lihatlah dirimu hidup dalam kesendirian dan miskin.Bagaimana mau beramal jika kau hanya ibadah saja? Tak bekerja dan menjadi miskin. Mau membantu sekitarnya pun tidak bisa” “Hidupmu bukan untuk kamu saja tapi buat orang lain, kamu diciptakan bukan kesia-sia saja” “TuhanMu menyuruh kamu untuk beristri dan beranak pinak untuk meneruskan kehidupan manusia di dunia” “Kamu egois Kamidi, takut jika nanti istri dan anakmu diambil lagi, pengecut !!! tidak bisa terima kenyataan” “Kamu takut untuk berusaha lagi, takut kehilangan, takut tidak bisa mencukupi anak dan istrimu lagi. Itulah kamu rela tidak berkeluarga lagi” teriak malaikat itu sekali lagi.”Pergi kau ke Neraka!!”

Sadarlah Kamidi apa yang telah ia perbuat selama ini dan apa yang diridha Tuhan-Nya. Terasa tubuhnya panas seperti terkena jilatan api neraka dan menggigil kedinginan.

***

Terbangun aku dari tidur, sebelahku Karni sedang memeluk si kecil. Diluar hujan deras sekali, petir menyambar beberapa kali dengan kilatan maha dashyat. Mimpiku tadi terasa aneh, mungkin aku terlalu memikirkan ucapan Kamidi beberapa hari yang lalu. Kulihat wajah istriku dan anakku yang masih kecil, betapa teduhnya mereka. Kuselimut mereka dengan tenang dan kulanjutkan tidurku.

Pagi harinya panas matahari menyeruak dari bilik jendelaku, ku tengok Karni dan si kecil tidak ada. Mungkin di belakang memandikan si kecil, tiba-tiba suara ketukan pintu seperti digendor dari luar. Brakk..Brak..Brakk “No..Darno..buka pintu cepat ini Darmiji” suara dari luar. Darmiji? Tumben pagi-pagi tetangga sebelah mengedor pintu rumah.

Kubuka pintu rumah, “No, ada kejadian di rumahnya si Kamidi teman engkau” serunya “Hah, si Kami itu kenapa ?” terheran-heran. Ditariklah tanganku tergesa-gesa kearah rumah Kamidi. Terlihat banyak warga kampungku berkerumunan di depan perkarangan rumah Kamidi. Membelah kerumunan warga, kulihat rumah si Kami hancur berantakan seperti diterjang angin puting beliung. Parahnya suluk yang biasa didiami oleh Kamidi hancur berkeping-keping, aku bergidik ngeri saat kulihat dalam reruntuhan tersebut banjir menggenang bersimbah darah.

Kepala Kamidi tertimpa sebongkah besar terbuat dari besi, aku perhatikan seksama ternyata sebuah turbin pesawat dengan tulisan Boeing. Dari mana benda itu, sampai bisa jatuh di kampung ini dan mengenai rumah Kamidi. Baru kusadari bahwa itu serpihan kecelakan bangkai pesawat yang sempat meledak saat mengudara tadi pagi dan beritanya ada diseluruh saluran televisi.

Ferry Fansuri

Ferry Fansuri

Kisaran, Desember 2016

Ferry Fansuri, kelahiran Surabaya, 23 Maret 1980 adalah penulis, fotografer dan entreprenur lulusan Fakultas Sastra jurusan Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya. Pernah bergabung dalam teater Gapus-Unair dan ikut dalam pendirian majalah kampus Situs dan cerpen pertamanya “Roman Picisan” (2000) termuat. Mantan redaktur tabloid Ototrend (2001-2013) Jawa Pos Group. Sekarang menulis freelance dan tulisannya tersebar di berbagai media Nasional. Email: [email protected] /HP: 0818509233.

Komentar