Yoes Rizal – Tango – 2012 – Acrylic on Canvas – 163 x 143 cm_resize
Yoes Rizal – Tango – 2012 – Acrylic on Canvas – 163 x 143 cm_resize

NUSANTARANEWS.CO – Kiranya masih ada tugas yang mesti kutunaikan, sebelum mataku terpejam tak bisa dibuka lagi. Warugaku memang tak sekukuh dahulu, namun mesti tetap kujaga semangat berkaryaku di atas buana. Toh, masih sangat baik kinerja benakku. Masih mampu pula kulangkahkan kaki ke mana saja kumau, asalkan tak terlampau jauh. Entahlah, tak terlalu kupahami bagaimana warga di sekitar tempat tinggalku akhirnya bisa mempercayai kata-kataku. Nyatanya, banyak yang datang sekadar bertanya, lalu kujawab sebatas yang kumengerti.

Seandainya ada diantara mereka yang tahu riwayat hidup diri ini sejatinya, bisa jadi tiada yang sudi mendengarkan ujaranku. Bersukacitalah aku lantaran mampu mengambil pelajaran dari sejarah hidupku dan terus-menerus merevisi diri. Legalah jua aku karena tampaknya tak seorang pun di sini yang tahu masa silamku yang pernah sangat cemerlang, namun juga sempat begitu pekat.

***

Silakan mereka yang telah membenci akan semakin tak bersimpati terhadapku. Silakan jua mereka yang menuduhku seakan lelaki pengecut yang tak bertanggung jawab. Mereka tentu tak peduli perasaan sejumlah orang yang tak boleh lebih dalam lagi kulukai. Masih belum kutemukan formula yang tepat demi memulihkan pedih hati mereka yang kusayangi dan menyayangiku, terutama ayah ibuku beserta anak-anakku dari dua perempuan berbeda. Mesti kurelakan diri memperoleh stigma dari publik sebagai sosok hitam yang tak layak menjadi tokoh anutan lagi, bahkan tak pantas pula diampuni. Seolah tiada yang berarti dari sosok putih bersihku selama ini.

Sekejab, diri ini mengenang masa keterpurukan sekitar tiga puluh tahun berselang. Sama sekali tak kuduga, lelikuan jalan yang kulewati bakal serupa itu. Pernah aku begitu yakin bahwa tiada yang salah dengan segala polahku. Coba, apakah yang tak tepat dari dua sejoli yang tengah saling mengungkapkan cintanya nan suci? Jika kalian tahu ada lebih dari satu perempuan yang bersamaku, aku percaya mereka sudi menyerahkan dirinya lantaran jatuh hati kepadaku. Memang sungguh maut rayuanku waktu itu.

Tentu kucintai mereka pula di saat berbeda, kemudian selalu berhasil kubuat mereka melayang serasa bidadari paling bahagia di surga. Kesalahan terbesarku, barangkali lantaran aku tinggal di sebuah negeri yang orang-orangnya -kendati tak semua- percaya masih adanya norma dalam setiap hubungan cinta sepasang kekasih. Padahal yang signifikan bagiku, cinta itu urusan personal masing-masing pemilik hati, dan selama ada cinta, terserah mereka mau mengerjakan apa.
Tak sudilah aku mesti dibatasi segenap aturan dari masa silam yang hanya membelenggu langkahku, yang selalu ingin bebas menjelajahi eloknya dunia dan kaum hawa. Memang pernah terpaksa kuturuti apa kata mereka yang taat norma, namun aku berontak hingga dapat melepaskan diri dari segala yang mengekangku. Kiranya terlalu nikmat diri ini berlarian kesana kemari, terlena lantaran selalu nyaman terasa, tak lagi memerhatikan jalan, hingga terantuk batu, dan terjungkallah aku selanjutnya.

Kisahku telah menjadi pengetahuan publik sepenuhnya, sepanjang mereka yang paling tidak bisa membaca koran, memirsa televisi, atau menjelajahi dunia maya. Maka mesti kutanggung kesalahanku sebagai lelaki yang telanjur terkenal di seluruh penjuru negeri. Andaikan diri ini bukan bintang yang tengah terang bersinar, apa pun yang kujalani bersama para bidadari pastilah tak akan mendapatkan perhatian sesiapa. Biarlah bintang itu redup kini, tapi jika aku memang bintang sejati, suatu waktu kelak niscaya bersinar lagi, kendati entah apakah mampu seterang dahulu kala.

***

Menjadi manusia yang laksana berselimut cahaya, yang membuat pandangan orang-orang senantiasa tertuju kepadanya, pernah membuat hatiku teramat bungah, hari-hariku sarat berkah, tapi telah menyesatkanku sedemikian jauhnya tanpa kusadari. Begitu sakit terasa jiwa raga setelah terpuruk jatuh, sementara sinar yang semula seolah melingkupi diri ini lambat laun meredup sampai padam. Menjadi bintang, kiranya tak bakal kupilih jalan untuk meraihnya kembali. Biarlah hal itu menjadi salah satu lembaran biasa dalam biografiku belaka pada saatnya nanti.

Sama sekali tak kupahami bahwa secara sadar telah kupilih jalan menuju kehancuran, ketika membiarkan diri ini dikuasai nafsu birahi seutuhnya. Padahal ternyata hal itu tak dapat dipadamkan dengan melampiaskannya, bahkan justru bagaikan mematikan nyala api dengan menyiramkan minyak. Naif sekali tak kupahami hal sesederhana itu. Maka menjadi lelaki bersahaja, itulah yang akan kupilih kiranya waktu masih memberiku kesempatan melangkah di jalan baru.

Bagaimana aku bisa berada di sini, di tempat yang semua orang mengenalku sebagai lelaki tua bijaksana, sementara tiada yang tahu masa mudaku, yang pernah menjadi bintang kejora dan kemudian lenyap dari peredaran alam semesta? Panjang nian cerita sesungguhnya, tapi akan kusingkat saja supaya kalian tak jenuh menyimaknya. Jadi, sehabis sekian tahun kulewatkan masa hukuman, aku menjauhkan diri dari publik yang pernah sangat mengenalku, yang pernah mengangkat sekaligus menjatuhkan derajatku. Ayah ibuku telah tiada manakala diri ini tinggal di balik jeruji besi. Hanya dalam hitungan bulan, mereka pergi selamanya laksana berjalan beriringan belaka. Belum berhasil kusembuhkan hati mereka yang kadung remuk redam berkat ulahku. Dan benarlah adanya, sesal kemudian memang sia-sia semata.

Aku percaya, setiap pendosa memiliki masa depan, sebagaimana halnya setiap orang suci pun mempunyai masa lalu, yang bisa jadi sangat pekat. Maka secara mantap kuputuskan pergi dari negeri yang telah memberiku segalanya dengan membawa bekal secukupnya, supaya aku mampu melangkah sejauh mungkin. Anak-anakku tercinta, kubiarkan mereka tinggal bersama ibunya masing-masing, yang sanggup menjadi orangtua terbaik bagi mereka. Aku sadar sepenuhnya bukanlah ayah yang patut diteladani. Kekasihku yang pernah sangat setia ternyata memilih menjauhkan diri dari hal ihwal duniawi. Sudah tentu tak akan kuusik hidupnya kembali, kendati dialah bidadariku nan sejati ketika kami bersama dalam kurun waktu berlalu. Kurelakan saja anugerah terindah yang pernah kumiliki itu lenyap dari hidupku.

Benar-benar diri ini akhirnya menjelajahi buana, tapi sebatas menikmati indahnya dari sudut berbeda. Dahulu kala sudah pernah kureguk segala wujud kenikmatan duniawi dan tak sudi diri ini kembali tergoda. Manusia yang terlalu banyak memiliki segala hal kerap tak dapat menghargai -bahkan sekadar menyadari- apa yang dimilikinya. Tetap terus kuayunkan langkah dari masa ke masa, hanya demi menemukan jiwa yang tenang dan hati nan tenteram, dua hal yang sejatinya senantiasa bersemayam dalam diri. Hingga akhirnya di sebuah desa terpencil yang letaknya begitu jauh dari tanah kelahiranku, kuputuskan mengakhiri ekspedisi dan tinggal menetap. Rasanya di sinilah baru kujumpai apa yang selama ini kucari.

Jika sedari dahulu kupahami bahwa segala hal yang baik sesungguhnya berada di dalam hati, barangkali tak perlulah aku pergi sedemikian jauhnya mengasingkan diri. Namun begitulah jalan takdir yang mesti kutapaki. Yang jelas, sebagai pendatang yang belum mereka kenal sebelumnya, aku cukup diterima warga setempat tanpa buruk prasangka. Sebagai pribadi yang tengah mewujudkan sebuah identitas anyar, agaknya tepat sekali tempat ini bagiku. Kulakukan hal-hal baru dalam hidupku dan ternyata justru mampu kunikmati, menjadi lelaki bersahaja sejati.

Tanpa terasa dua puluh tahun lebih aku berada di desa nan permai dengan keramahtamahan tetangga yang seolah telah menjelma menjadi keluargaku, kendati sebenarnya sendiri belaka kutinggali sebuah gubuk. Mereka menyayangiku apa adanya dan kusayangi mereka pula setulusnya. Perjalanan hidupku yang panjang dan sarat lelikuan menjadikan sikap maupun kata-kataku bisa dipercaya mengandung nilai kebaikan dan kebenaran bagi mereka. Barangkali lantaran akal sehat serta hati nurani sudah menjadi pembimbing hidupku, bukannya nafsu belaka seperti tempo hari. Ah, Yang Maha Penyayang begitu apik bersikap terhadapku. Terima kasihku kepada-Nya sungguh tiada tara.

Andaikan masih mungkin, inginku kembali sejenak ke tempat kelahiranku sekadar mau tahu bagaimana kabar anak-anakku. Mereka pasti sudah dewasa dan mungkin telah beranak pinak. Hmm, bisa jadi diri ini malah sudah menjadi seorang kakek sekarang. Namun tiada lagi harta yang berlimpah ruah. Segala yang kumiliki tampaknya tak bakal mencukupi biaya perjalananku ke seberang lautan untuk pulang. Di sini tak kuperlukan uang banyak agar bisa hidup layak. Itulah yang selama ini kujalani dan membuat hidupku terasa berarti lagi. Lebih baik tak perlu kupaksakan pergi. Sebatas kuharap anak keturunanku hidup sejahtera di belahan dunia sana, sementara aku pun baik-baik saja berada di sini. Memang aku hidup sendiri, namun tak selalu kurasakan sepi, kendati kerap sunyi menemani. Sekadar senantiasa kusyukuri apa pun situasi dan kondisi yang kuhadapi saban hari. ***

Luhur Satya Pambudi
Luhur Satya Pambudi

 

*Luhur Satya Pambudi, lahir di Jakarta dan tinggal di Yogyakarta. Cerpennya pernah dimuat sejumlah media cetak, seperti : Tribun Jabar, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Lampung Post, dan Horison. Kumpulan cerpennya berjudul Perempuan yang Wajahnya Mirip Aku (Pustaka Puitika). Email: [email protected] / HP : 0811286465.

Komentar