members of the Trans Pacific Partnership (TPP)

NUSANTARANEWS.CO, Hanoi – Sisa anggota perjanjian perdagangan bebas Trans Pacific Partnership (TPP) sedang mengupayakan sebuah pernyataan untuk menegaskan kembali komitmen mereka terhadapnya, terlepas dari penarikan kembali Amerika Serikat. Pasca ditarik Donald Trump, anggota TPP menyisakan Australia, Brunei, Kanada, Chili, Jepang, Malaysia, Meksiko, Selandia Baru, Peru, Singapora dan Vietnam.

Baca: KTT ASEAN: Presiden Obama Ingin Bangun Kemitraan Trans Pasifik

Beberapa negara masih berharap kembalinya Amerika Serikat. Pasalnya, TPP tengah berupaya mengalihkan posisinya pada masalah lain. TPP ditujukan untuk memperkuat hubungan ekonomi dan memicu pertumbuhan, termasuk dengan memangkas tarif. Beberapa langkah yang disepakati negara-negara anggota TPP antara lain adalah standardisasi ketenagakerjaan, lingkungan, hak cipta, paten, dan proteksi-proteksi hukum lainnya. Cina diketahui tidak ikut andil dalam forum TPP ini.

TPP mencakup 40% ekonomi dunia dirundingkan pada 2015 silam. Akhir pekan ini, akan diadakan perundingan menyusul pertemuan APEC. Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer akan mengadakan pembicaraan bilateral dengan negara-negara kunci. Sementara Cina akan mendorong kesepakatan perdagangan Asia sesuai dengan kepentingannya karena negara komunis itu kini menempatkan diri sebagai pemegang utama perdagangan bebas global.

Jepang memimpin negara-negara yang masih ingin bertahan dengan kesepakatan TPP yang jauh lebih komprehensif. Dalam sebuah diskusi, seperti dilaporkan Reuters, negara-negara yang masih tergabung dalam TPP merencanakan untuk mengeluarkan pernyataan komitmen terhadap pakta perjanjian tersebut.

“Akan ada dua hal utama; pertama, menerapkan awal pemberlakuan TPP-11, dan kedua mengingat lingkungan di mana sebuah negara penandatangan dapat kembali,” kata seorang sumber yang enggan disebutkan namanya.

Baca juga: Kebijakan Awal Trump: Amerika Putuskan Mundur dari TPP

Kesepakatan tersebut mulai berlaku tahun depan. Vietnam dan Malaysia disebut-sebut akan menjadi penerima manfaat besar dari kesepakatan tersebut apabila AS kembali. Menteri Perdagangan Malaysia Mustapa Mohamed mengatakan ada optimisme bahwa Amerika Serikat akan kembali suatu hari nanti, karena Trump telah menunjukkan kesiapan untuk mengalihkan posisinya pada hal-hal lain, seperti melunakkan sikapnya terhadap Cina.

“Ada sedikit retorika dan pendekatan yang lebih realistis,” katanya. Hal serupa juga diungkapkan seorang pejabat Vietnam.

Namun, melakukan negosiasi ulang terhadap Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara (NAFTA) yang ada sekarang merupakan prioritas utama yang lebih besar bagi Washington. Sementara di Hanoi, Lighthizer dijadwalkan mengadakan pertemuan dua arah untuk mulai melakukan kontak resmi dengan pejabat perdagangan utama.

Perjanjian perdagangan bebas tidak mencakup banyak area karena kesepakatan TPP menuntut persyaratan sulit bagi anggota mengenai isu-isu seperti melindungi kekayaan intelektual, hak buruh atau lingkungan.

Berita Terkait: Asosiasi Binis Oregon Kecewa Trump Menarik AS Keluar dari TPP

Pejabat mengatakan bahwa masih ada beberapa titik perselisihan yang signifikan dalam pembicaraan antara negara-negara Asia Tenggara, Cina, India, Australia, Selandia Baru, Jepang dan Korea Selatan. Amerika Serikat tidak pernah menjadi bagian dari diskusi tersebut.

Mengingat ketidakpastian mengenai TPP, Mustapa mengatakan kesepakatan yang didukung Cina sekarang menjadi prioritas Malaysia. (ed/rt)

Editor: Eriec Dieda

Komentar