Connect
To Top

Ayah dan Anak yang Menutup Kerongkongan – Kisah Ni Nyoman Ayu Suciartini

Relasi Seorang Ayah dengan Anaknya | Surrey Artists

Relasi Seorang Ayah dengan Anaknya | Surrey Artists

NUSANTARANEWS.CO – Dinding jendela berwarna putih itu masih sama. Hanya sedikit lumutan. Dindingnya pun lebih banyak celah. Kadang-kadang air hujan meresap begitu deras hingga membuatnya tak lagi kuat. Satu yang tak berubah. Pandangan yang selalu sama di balik punggung jendela. Seorang ayah dan anak yang bercakap mesra.

Aku bisa melihat dengan sempurna anak dan ayah itu walaupun hanya tampak punggungnya. Mereka selalu duduk di tempat yang sama. Memakai baju yang sama. Sisiran yang sama. Bentuk tubuh yang serupa. Entah, sama-sama tampan atau sama-sama buruk rupa. Soal wajah, bagaimana bentuk hidungnya, matanya, sinar matanya, bibirnya, tak pernah terlihat jelas olehku.

Anak dan ayah ini memakai mantel tebal. Sepertinya sedang kedinginan. Anak ini dipeluk hangat. Terlihat punggung tangan sang ayah begitu kuat mencengkram bahu anaknya. Jelas terlihat kehangatan begitu terasa. Namun, tunggu, sepertinya pelukan sang ayah begitu kuat sehingga membuat sang anak sesak nafas.

“Ayah, cukup. Aku sudah cukup hangat”

“Soal hangat, kamu belum tahu apa-apa nak. Percayalah…ini dekapan bukan siksaan”

Sang anak menurut saja, meski aku di balik punggung jendela melihatnya jelas. Sang anak terus membuka mulut lebar-lebar agar udara tetap mengaliri paru-parunya. Ia susah bernafas. Namun, demi menyenangkan ayahnya, nafas tak begitu berarti untuk anak itu.

Dari saku sang ayah, ia mengeluarkan sisir mungil. Tampaknya sisir itu sudah hidup ratusan tahun di saku sang ayah. Anaknya tak minta disisir. Namun, sang ayah melihat sisiran buah hatinya tak terlalu cocok untuknya.

“Nak, apa yang pantas buatmu, hanya aku yang paham”

“Tapi, Ayah. Ibu yang memberikan sisiran begini padaku”

“Ibumu juga tak terlalu paham. Aku yang paling tahu apa yang kamu perlukan”

Sang anak merasa kalah. Ayahnya benar. Hanya ayahnya yang tahu apa yang terbaik buatnya. Tak ada satu bukti pun bahwa yang dilakukan ayahnya akan membuatnya celaka atau masuk penjara. Tak pernah ada bukti. Ia membiarkan rambut hitam lebatnya disisir sang ayah. Belahannya dialihkan. Tadinya, sang anak memilih belahan kanan, kini menjadi belahan kiri dengan sedikit poni agar sorot mata sang anak menjadi misterius.

“Coba lihat, nak. Bagus kan?”, tanya Ayah

“Bagus, ayah”, jawab anak itu.

Bagaimana sang anak bisa mengatakan sisiran itu bagus, pantas, atau tidak pantas, jika cermin tak ada untuk melihatnya? Bagaimana anak itu bisa dengan langsung menyatakan bagus? Bagaimana mungkin? Aku yang berada di punggung jendela begitu geregetan. Dalam pandanganku, sisiran itu sama sekali tak cocok dengan gaya sang anak. Sudahlah…ini hanya soal gaya rambut, aku tak perlu ikut campur.

Sang anak hanya mengandalkan kepatuhannya. Ia memiliki cermin di hatinya. Cermin inilah yang sering bertentangan dengannya. Namun, ia tetap melihat sang ayah lebih dari apapun, termasuk hati nuraninya. Ia melihat sorot mata ayahnya. Kadang kejam, kadang penentang, tapi rasa hormat yang paling banyak dilihat anak itu. Ia tak bisa bicara banyak. Ini hanya soal ayah, keinginannya, juga aku yang hanya harus menyaksikan anak ini menjadi yang diinginkan ayahnya.

Rintik hujan turun. Lama…lama, rintiknya membesar. Dinding jendela putih tempatku melihat samar oleh uap air. Rembesan hujan membuat tempatku berdiri menjadi tidak nyaman. Aku mundur satu langkah, dua langkah, hingga langkah yang cukup jauh. Hujan telah membuat pandanganku kabur. Ah…mungkin anak dan ayah itu juga telah berteduh, pikirku.

Namun, aku masih melihat dua orang itu berbicara di tengah hujan. Mereka belum beranjak. Mereka menantang hujan. Sang anak dipaksa bicara hingga ia menelan buliran-buliran hujan yang jatuh tepat di mulutnya.

“Teruslah bicara anakku. Bicarakan tentang apa cita-citamu dan apa keinginanmu”

Anak ini terus bicara. Entahlah, apa sang ayah benar-benar mendengar atau hanya pura-pura mendengar. Aku sendiri tak bisa mendengar dengan jelas. Sebab kalimat anak itu dikalahkan suara hujan yang jatuh ke tanah.

“Aku ingin berperang, Ayah. Aku ingin bendera Merah Putih tak diremehkan. Aku ingin tetap memakai seragam hijau lumutku”

“Apa yang kau katakana? Coba ucapkan lagi. Ayah tak bisa mendengarnya jelas”

Anak ini terus mengulang keinginannya sampai sang Ayah bisa mendengar dengan baik. Namun, belum terdengar jelas di telinga sang Ayah, anak ini tak dapat berkata lagi. Air hujan telah memenuhi kerongkongannya. Ia tersedak. Ia terdesak. Akhirnya, ia diam sejenak.

“Kamu tidak bisa mengatakan apapun di tengah hujan lebat ini. Aku yang akan mengatakan banyak hal padamu”

Sang ayah mengangkat wajah anak lelaki itu. Dengan mata menyalang, ayahnya mengatakan kalimat-kalimat tegas, lantang, dan keras. Ayah itu ingin menunjukkan bahwa suaranya begitu kuat, begitu gagah, dan tak terkalahkan.

“Tanggalkan pakaian hijau lumutmu. Ikutlah berperang denganku. Kita bangun kekuatan yang tak tersentuh”

Sekali lagi sang anak telah kalah. Waktu telah membuatnya menjadi prajurit kerdil. Ia merasa tak lebih hebat dari hujan atau tak lebih hebat dari keinginan ayahnya. Kerongkongannya masih panas untuk bisa menolak keinginan ayahnya itu. Kata-katanya diurungkan. Ia masih belum paham berjuang seperti apa yang diinginkan sang ayah. Ia belum paham kekuatan apa yang tak bisa disentuh yang dimaksud sang ayah. Namun, pertanyaan-pertanyaan ini tak pernah bisa ia jelaskan kepada siapapun. Sebab kepatuhannya telah mengalahkan ketakutannya.

Aku yang ada di balik punggung jendela dengan hujan yang masih tak berhenti, bisa melihat anak itu dan apa yang dilakukannya. Ia melepaskan mantel hijaunya, bajunya yang hijau, pakaiannya yang hijau, topinya, sepatunya, bahkan kaos kutang yang satu-satunya melekat di tubuhnya, ikut tanggal. Ia yang diterpa hujan berkali-kali harus menahan dinginnya. Ia hanya merasakan tubuhnya makin kuat. Keinginannya makin kuat. Juga tawa ayahnya makin hangat.

“Bangkit, nak. Bangkit. Saatnya, kamu berperang”

Anak itu bangkit. Hujan telah membuatnya menjadi seperti ayahnya. Ia tak pernah tahu berperang untuk apa dan untuk siapa. Sang ayah kemudian membisiki sesuatu, tepat di ubun-ubun sang anak dengan tanpa suara. Aku tak bisa mendengarnya. Bisikan inilah yang membuat matanya berkaca-kaca, lalu berubah menyalang, seolah ingin menerkam siapapun yang menghalang.

Anak dan ayah ini berjalan mundur. Makin dekat dengan jendela tempatku melihat, makkin dekat denganku. Lalu, dengan tangan keduanya, mereka meruntuhkan jendela tua yang seperti mataku ini. Mereka memperlihatkan wajahnya. Mereka bukanlah dua orang yang berbeda. Anak dan ayah itu hanya satu. Tangan binalnya mencekikku. Menelusup jemarinya ke kerongkonganku. Lalu, dipatahkannya suaraku. Aku tak pernah bisa berkata-kata lagi.

Aku melihat, terekam dengan jelas siapa keduanya. Namun, aku tak mampu bersuara lagi. Maafkan aku Merah Putih….

 

Ni Nyoman Ayu Suciartini, cerpenis tinggal di Bali.

__________________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resensi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: [email protected] atau [email protected]

 

Komentar