Emisi

NUSANTARANEWS.CO – Sebagai negara yang menyumbang gas rumah kaca terbesar di dunia, yakni 24 persen, China tentu amat berkepentingan meratifikasi Traktat Iklim Paris guna membatasi pemanasan global sampai berada di bawah 2 derajat celcius. Jika China berkomitmen menekan emisi karbon, maka dampaknya tentu akan signifikan bagi perubahan iklim dunia.

Selain China, 10 negara penyumbang emisi terbesar lainnya adalah Amerika Serikat (12 %), Uni Eropa (9 %), India (6 %), Brazil (6 %), Rusia (5 %), Jepang (3 %), Kanada (2 %), Kongo dan Indonesia masing-masing (1,5 %).

Tak hanya China, sebelumnya 23 negara juga telah lebih dulu meratifikasi kesempatan tersebut meskipun gabungan emisi dari ke-23 negara itu hanya mencapai sekitar 1 persen (1 %) dari emisi dunia.

Presiden China, Xi Jinping mengajak negara-negara besar dan negara maju menyadari masalah perubahan iklim dan pemanasan global demi keberlangsungan kehidupan di masa depan.

“China sebagai salah satu negara berkembang dan bagian dari masyarakat internasional memiliki tanggung jawab terhadap kelangsungan masa depan yang lebih baik,” Xi seperti dikutip Xinhua.

Hingga kini, Rusia, Uni Eropa, Jepang dan India diketahui belum meratifikasi dan menandatangani Parjanjian Paris terkait pengurangan emisi gas.

Sekadar informasi, Traktat Iklim Paris disepakati pada Desember 2015 lalu. Inti kesepakatan ini ialah bertujuan untuk membatasi pemanasan global di bawah 2 derajat celcius dan emisi karbon diarahkan nol pada 2050 mendatang.

Meski beberapa analis optimis dengan target tersebut, nyatanya KTT G20 di Hangzhou, China menjadikan pengurangan emisi karbon sebagai salah satu topik utama.

Terlepas dari hal itu, sejumlah perusahaan otomotif sudah mulai mengembangkan pemakaian mobil-mobil berbahan bakar alternatif seperti mobil listrik, mobil hidrogen, fuel cell, tenaga surya dan energi terbarukan lainnya. Ambil contoh misalnya Jerman, mulai serius menindak lanjuti kesepakatan Konferensi Perubahan Iklim yang diselenggarakan oleh PBB di Paris. Pemerintah Jerman berjanji akan memangkas keluaran karbondioksida 80 hingga 90 persen pada 2050.

Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Sejauh ini Indonesia baru mentargetkan ratifikasi selesai November mendatang sebelum pertemuan tentang perubahan iklim Conference of Parties (COP) ke-22 di Marrakech. (eriec dieda)

Komentar