'Aren' Berpotensi Besar Jadi Bahan Sumber Energi Terbarukan | BSM Herbal
'Aren' Berpotensi Besar Jadi Bahan Sumber Energi Terbarukan | BSM Herbal

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Nira dari pohon aren (Anggera pinnata) selama ini hanya diketahui untuk bahan baku gula, kolang kaling, minuman beralkohol dan jenis panganan lain. Namun tak dikira, ternyata aren juga bisa jadi energi ramah lingkungan.

Dari hasil inventarisasi KPHP Boalemo di Gorontalo, Sulawesi Utara, disana terdapat 15.000 pohon aren. Pohon aren itu tumbuh dengan alami dan produktivitas cukup tinggi. Satu pohon bisa hasilkan 15-20 liter aren perhari. Sebelumnya, warga hanya memanfaatkan nira aren untuk panganan saja. Berkat pendampingan KPHP Boalemo, kini nira jadi bioethanol.

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan KLHK Dwi Sudharto mengatakan beberapa waktu lalu, bahwa sebelumnya dari KPHP Boalemo menginventarisasi wilayah, ternyata ada banyak sekali pohon aren tumbuh alami. “Kami ingin memanfaatkan jadi alternatif energi. Salah satu desa binaan kami, Desa Bendungan Kecamatan Manangguh,” ungkap dia.

Di Desa Bendungan ada 4.500 pohon aren. Dengan asumsi satu pohon 15-20 liter nira aren, bisa hasilkan 90.000 liter perhari atau 2, 7 juta liter perbulan. Namun, selama ini potensi komoditi itu kurang dimanfaatkan, hanya ada satu keluarga bikin gula aren.  Akhirnya, aren jadi bioenergy dimulai.

Keberhasilan Desa Bendungan mengelola nira aren menjadi bioethanol karena di wilayah ini ada kelompok tani dan badan usaha desa. Ketertarikan masyarakat saat mengenalkan alat membuat bioethanol sangat tinggi. “Kita sudah punya alat membuat bioethanol aren. Paten juga ada di kita,” ucap dia.

Dari perhitungan keuntungan ekonomi, tentu mengelola nira aren jadi bioethanol lebih menjanjikan. Untuk mengolah nira aren jadi gula, dalam setiap 50 liter akan hasilkan tujuh kg. Dengan asumsi harga Rp80.000, keuntungan Rp5.000 perkilogram. Begitupun pengolahan panganan lain, seperti gula semut untung Rp. 4.688 perkg.

Setiap 25 liter nira aren, jika diolah dengan katalisator bisa menghasilkan dua liter bioethanol dengan kadar 90-92 persen. Yang diolah tanpa katalisator kadar ethanolnya 72 persen.  Hasil bioethanol 216.000 liter perbulan dengan biaya produksi Rp6.700. Dengan asumsi harga jual bioethanol mix perliter Rp10.000, harga jual Rp440.000 atau keuntungan Rp145.200.

“Harusnya ini yang kita kembangkan. Jangan tabung gas mahal itu. Kalau alat ini kita buat dan serahkan ke desa-desa, yang notabene bahan baku ada, akan sangat menguntungkan. Hak paten ada di kita. Kalau mau tinggal minta gambar, masyarakat bisa membuat alatnya. Atau kalau tak mengerti, bisa undang kami. Akan mudah masalah kompor ini. Jadi kita bisa menghemat banyak sekali,” papar dia.

Tahap awal ini Desa Bendungan sebagai wilayah percontohan. Dwi Sudharto berharap, keberhasilan desa ini bisa direplikasi wilayah lain. Terlebih, katanya, di Sulawesi dari utara sampai selatan kaya aren. Meski begitu, tantangan dalam mengembangkan ini ada pada pendanaan. Untuk itu, perlu peran dan komitmen banyak pihak. Selain itu, perlu ada peningkatan pemberdayaan kelembagaan demi keberlangsungan usaha.

“Peningkatan kapasitas masyarakat perlu agar mampu melaksanakan usaha mandiri. Disini peran lembaga litbang dan perguruan tinggi. Nira aren juga bisa dikembangkan jadi bioavtur. Pengolahan bioavtur melalui proses konversi biomassa berupa serat, gula, tepung dan minyak nabati. Kami sedang menjajaki kerjasama penelitian mengenai ini dengan ITB,” tutur dia.

Reporter: Richard Andika

Komentar