Rudal Starstreak Arhanud TNI AD/Foto: Dok. JakartaGreater
Rudal Starstreak Arhanud TNI AD/Foto: Dok. JakartaGreater

Pembangunan Kekuatan dan Kemampuan Arhanud untuk Mendukung Strategi Pengembangan Kekuatan TNI AD

Sebagai sebuah subsistem yang merupakan bagian dari sistem pertahanan negara, maka pembangunan kekuatan Arhanud TNI AD juga tetap harus memprioritaskan pembangunan kemampuan melalui rematerialisasi Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista) yang tidak layak operasional serta pengadaan Alutsista baru dan penataan kembali gelar satuan guna memperoleh daya tangkal pertahanan negara yang lebih optimal di seluruh wilayah NKRI. Gelar Satuan Arhanud TNI AD juga harus terintegrasi dengan sistem pertahanan udara dari Angkatan lain yang berada dalam sistem pertahanan udara nasional yang utuh dan saling mengisi. Sebagai lapis terakhir dari sistem pertahanan udara nasional, maka Arhanud TNI AD harus mampu beroperasi secara mandiri dan bisa mengisi celah-celah kosong (sebagai “gap filler”) dari sistem pertahanan udara lainnya sehingga tercipta fleksibilitas dan keberlanjutan dalam pertahanan udara.

Dihadapkan pada kondisi, kemampuan, kekuatan dan gelar Satuan Arhanud yang ada saat ini belum maksimal dalam melindungi objek vital terpilih dan menutup celah-celah kosong di wilayah yang rawan pelanggaran udara, maka sebenarnya secara kuantitatif masih diperlukan beberapa satuan setingkat Batalyon lagi yang harus dibangun di wilayah-wilayah yang memerlukan perlindungan udara.

Baca: Arah Strategi Alutsista Pertahanan Udara Indonesia (1) – Artikel Kolonel Arh Candra Wijaya

Namun apabila mengacu pada kebijakan “zero growth” dan “right sizing” yang menekankan pada tidak adanya penambahan jumlah personel TNI AD, maka kebutuhan pemenuhan gelar satuan di wilayah wilayah rawan tersebut dapat diatasi dengan penataan kembali gelar Satuan Arhanud.

Rencana pengembangan kekuatan TNI di pulau-pulau terluar yang memiliki kerawanan lebih tinggi terhadap pelanggaran wilayah udara juga menjadi prioritas Pussenarhanud Kodiklat TNI AD dalam melakukan pengembangan satuan. Merupakan suatu hal yang tidak dapat dipungkiri bahwa pelanggaran-pelanggaran wilayah udara nasional merupakan ancaman yang paling aktual dan potensial terhadap kedaulatan NKRI oleh negara lain. Ancaman tersebut terjadi salah satunya disebabkan oleh lemahnya daya tangkal kita di bidang pertahanan, sehingga mendorong negara lain berani melakukan tindakan provokatif di wilayah NKRI.

Berkaitan dengan pengembangan kemampuan Arhanud TNI AD yang menjadi bagian dari konsep Minimum Essential Force (MEF), pengadaan Alutsista baru Arhanud pengganti Alutsista yang sudah tidak layak pakai serta modernisasi Alutsista lama yang masih bisa digunakan merupakan solusi yang tidak mungkin dihindari. Upaya pengadaan Alutsista baru Arhanud ini merupakan suatu hal yang mutlak diperlukan dalam menghadapi ancaman terhadap kedaulatan NKRI dalam bentuk serangan udara atau pelanggaran wilayah udara nasional.

Rematerialisasi Alutsista Arhanud saat ini yang diperlukan adalah Rudal Hanud, karena memiliki teknologi tinggi serta dilengkapi dengan radar sehingga memiliki daya hancur dan akurasi yang maksimal untuk melaksanakan per lindungan objek vital dari ancaman udara.

Baca juga: Arah Strategi Alutsista Pertahanan Udara Indonesia (2) – Artikel Kolonel Arh Candra Wijaya

Maka selain analisa kebutuhan di dasarkan pada capability based planning untuk meningkatkan kemampuan pertahanan udara, juga didasarkan pada threat based planning untuk mengantisipasi ancaman terpilih. Kehadiran Rudal Hanud dapat meningkatkan daya tangkal atau deterent effect dalam menjaga kedaulatan negara dari kemungkinan ancaman udara, khususnya terhadap objek vital (nasional dan militer), sumber energi dan objek lain yang menyangkut kepentingan nasional.

Adapun Rudal Hanud yang akan segera dimiliki Arhanud TNI AD saat ini meliputi:

a. Rudal Starstreak. Rudal Starstreak terdiri dari dua jenis yaitu Rudal Starstreak MMS (Multi Mission System)/Rapid Ranger dan Rudal Starstreak LML (Light weight Multiple Launcher)/ Rapid Rover dan didukung Radar SHIKRA. Daerah yang dilindungi (Coverage Area) Sista Hanud Rudal Starstreak dengan 12 unit peluncur rudal yang terdiri dari 4 unit MMS (Multi Mission System)/Rapid Ranger dan 8 unit LML (Lightweight Multiple Launcher)/Rapid Rover dapat melindungi wilayah seluas 373,063 km² sama dengan luas kota Surabaya (374,8 km²) atau separuh luas DKI Jakarta yang memiliki luas 740,3 km².

b. Rudal Mistral. Rudal Mistral terdiri dari dua jenis yaitu Rudal Mistral ATLAS (Advanced Twin Launcher Anti-Air Strike) dan Rudal Mistral MPCV (Multi-Purpose Combat Vehicle) dan didukung Radar MCP (Mistral Coordination Post). Daerah yang dapat dilindungi (Coverage Area) Rudal Mistral dengan 9 unit peluncur rudal, dapat melindungi wilayah seluas 210 km². Luas Coverage area Rudal Mistral sama dengan seluas Kota Bekasi yang memiliki luas wilayah 210,49 km².

Efektivitas pertahanan udara tergantung dari kualitas dan kuantitas Alutsista, integrasi, dukungan dan kemampuan operator. Sehingga diperlukan integrasi yang optimal antara komponen operasional, pendidikan dan latihan serta dukungan/pemeliharaan. Untuk itu, Pussenarhanud Kodiklat TNI AD terus berupaya mengoptimalkan komponen Diklat dengan memaksimalkan paket pelatihan dan alat instruksi dalam setiap program pengadaan Alutsista baru.

Untuk komponen pemeliharaan selain berupaya mendapatkan jaminan pemeliharaan yang maksimal, Pussenarhanud Kodiklat TNI AD juga berupaya mendapatkan peralatan dan kemampuan pemeliharaan tingkat 0 hingga II dalam setiap program pengadaan Alutsista baru. Pemeliharaan tingkat II dilakukan dengan mengoptimalkan peran Dohar Sista Arhanud yang berada di Kota Batu, Jawa Timur sebagai satuan pemeliharaan bagi seluruh Alutsista Arhanud TNI AD.

Dengan pemenuhan kebutuhan komponen satuan operasional, Diklat dan pemeliharaan secara optimal, diharapkan Arhanud TNI AD dapat melaksanakan tugas pokok yang dibebankan secara lebih optimal dan berkesinambungan. Demikian tulisan Pembangunan Kekuatan Pertahanan Darat Melalui Modernisasi Alutsista Arhanud TNI AD dibuat sehingga bermanfaat bagi para pembaca sekalian. (Habis)

Kolonel Arh Candra Wijaya, M.A., lahir di Sidoarjo, Jawa Timur pada tahun 1969 merupakan Alumni Akademi Militer 1991. Saat ini menjabat sebagai Dirbinsen Pussenarhanud Kodikalat TNI Angkatan Dara. Jabatan strategis lainnya yang pernah diemban adalah Asisten Perencanaan Kodam I/Bukit Barisan, Koorspri Kasad dan Komandan Resimen Arhanud-1/F Kodam Jaya. Pendidikan umum terakhir S2 tahun 1999, dan pendidikan militer terakhir Sesko TNI tahun 2015. Pendidikan pengembangan spesialisasi yang pernah diikuti mulai Sus Bahasa Inggris tahun 1993, Sus Danrai tahun 1999. Sus Danyon tahun 2008, dan UN Staff Officer Course tahun 2009. Sedangkan penugasan operasi yang pernah diemban adalah Misi Perdamaian PBB di Kongo tahun 1994. Selain itu juga pernah melaksanakan penugasan di luar neger, antara lain di Australia, Amerika Serikat, dan Monuc di Kongo dari tahun 2004 hingga tahun 2005.

Komentar